Bersetubuh sebagai Hak Suami dalam Perkawinan menurut Imam Muhammad bin Idris al Syafi’i

Utomo, Indra Parito (2013) Bersetubuh sebagai Hak Suami dalam Perkawinan menurut Imam Muhammad bin Idris al Syafi’i. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
092111041_Coverdll.pdf - Supplemental Material

Download (514kB) | Preview
[img]
Preview
Text
092111041_Bab1.pdf - Accepted Version

Download (115kB) | Preview
[img]
Preview
Text
092111041_Bab2.pdf - Accepted Version

Download (161kB) | Preview
[img]
Preview
Text
092111041_Bab3.pdf - Accepted Version

Download (118kB) | Preview
[img]
Preview
Text
092111041_Bab4.pdf - Accepted Version

Download (138kB) | Preview
[img]
Preview
Text
092111041_Bab5.pdf - Accepted Version

Download (20kB) | Preview
[img]
Preview
Text
092111041_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (15kB) | Preview

Abstract

Perkawinan merupakan fitrah manusia untuk dapat melanjutkan keturunan dan bisa menyalurkan hasrat seksual secara halal dan sah menurut agama. Apabila perkawinan telah berlangsung, maka ada hak dan kewajiban suami istri dalam keluarga. Salah satu permasalahan yang diperdebatkan ulama mengenai hak dan kewajiban suami adalah bersetubuh. Imam Muhammad Bin Idris Al Syafi’i mengatakan bahwa bersetubuh sebagai ‘hak’ suami dalam perkawinan, sedangkan pendapat Imam lain, bersetubuh merupakan kewajiban suami yang harus dijalankan dalam perkawinan. Penulis melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui alasan-alasan yang melatar belakangi dan metode Imam Muhammad Bin Idris Al Syafi’i tentang bersetubuh sebagai hak suami dalam perkawinan. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian library research (penelitian kepustakaan), maka sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Adapun dalam pengumpulan data penulis menggunakan teknik dokumentasi, yakni dengan mengumpulkan berbagai informasi dari buku-buku atau karya ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan. Dalam menganalisis, penulis menggunakan metode “deskriptif”, yakni berusaha menggambarkan, menganalisa serta menilai data yang terkait dengan permasalahan. Pendapat Imam Al Syafi’i tentang bersetubuh yang dijadikannya sebagai hak suami dalam perkawinan, dikarenakan persetubuhan sendiri tidak lebih dari sebuah kenikmatan dan kelahiran antara syahwat dan cinta, tanpa adanya dua hal tersebut, kemungkinan terjadinya sangat kecil. Dan pendapat beliau diperkuat oleh pengikutnya, bahwa bersetubuh tidak diwajibkan atas suami karena itu merupakan hak, maka dia diperbolehkan meninggalkannya. Hal itu diibaratkan sebagaimana rumah sewaan yang dari segi kemanfaatannya itu boleh dipakai atau tidak oleh si penyewa rumah. Pengibaratan itu pun sama halnya dengan istri di mana jika bersetubuh itu diwajibkan, maka konsekuensi yang akan terjadi adalah dapat memunculkan larangan pernikahan terhadap orang lanjut usia atau yang sedang sakit keras, mengingat mereka tidak dapat melakukan hubungan badan. Dari latar belakang dan metode Imam Muhammad Bin Idris Al Syafi’i yang digunakan (Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas) tersebut, yang mana Imam Al Syafi’i bersetubuh merupakan sebagai hak suami dalam perkawinan, diambil dari sebuah hadits yang menyatakan istri tidak boleh berpuasa sunnah tanpa izin suami, ketidakbolehan puasa disebabkan karena suami mempunyai hak bersetubuh yang wajib dipenuhi oleh istri kapanpun dan dimanapun suami menghendakinya. Oleh karena itu tidak boleh dihilangkan hak tersebut lantaran istri berpuasa sunnah.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Hubungan Suami Isteri; Hak Suami; Perkawinan
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Mohammad Kharisun
Date Deposited: 17 Dec 2013 06:56
Last Modified: 18 Dec 2013 04:33
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1022

Actions (login required)

View Item View Item