Studi analisis ḥadiṡ tentang larangan mencabut uban : pendekatan sains

Muniroh, Zumrotul (2019) Studi analisis ḥadiṡ tentang larangan mencabut uban : pendekatan sains. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text (1504026018_Skripsi_lengkap)
skripsi pdf full.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (6MB) | Preview

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang mencabut uban dari masa Rasulullah hingga sekarang. Padahal di dalam ḥadīṡ Nabi mencabut uban dilarang apapun bentuk ubannya, baik uban jenggot, uban di kepala maupun uban di mana saja. Mencabut uban telah banyak dijelaskan dalam ḥadīṡ Nabi, dari keseluruhan ḥadīṡ-ḥadīṡ tersebut melarangnya untuk tidak mencabut uban. Semua yang dianjurkan dan yang dilarang oleh Nabi semuanya mengandung hikmah, oleh karena itu timbullah pertanyaan ada apa di balik Nabi melarang mencabut uban. Dari masalah tersebut, maka perlu penelitian untuk mengetahui hikmah di dalamnya. Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana kualitas ḥadīṡ tentang larangan mencabut uban? (2) Bagaimana hukum larangan mencabut uban dalam ḥadīṡ? (3) Bagaimana larangan mencabut uban dalam perspektif sains? Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif yang berdasarkan kajian kepustakaan (library reseacrh), yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian, mengumpulkan referensi dari kitab-kitab yang ada relevensinya dengan pembahasan di dalamnya, semua berasal dari kepustakaan. Adapun sumber primer penelitian ini adalah ḥadīṡ-ḥadīṡ yang berkaitan dengan kata syaib dalam kutub at-Tis’ah. Sumber data sekunder yang peneliti gunakan adalah buku-buku, jurnal, artikel, majalah, aplikasi Alo dokter dan sumber-sumbar lainnya yang berkaitan dengan bidang tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ḥadīṡ tentang larangan mencabut uban adalah shahih dari segi matan. Adapun dari segi sanad terdapat rawi yang dinilai ḍa’īf, akan tetapi riwayat tersebut diperkuat oleh riwayat lain yang lebih sahih dan riwayat tersebut jumlahnya banyak sehingga derajatanya naik menjadi hasan. Terkait masalah larangan mencabut uban dalam ḥadiṡ yaitu bahwa mencabut uban dilarang, namun yang dimaksud dilarang di sini bukan berarti jika melanggar akan mendapatkan dosa akan tetapi kelak di akhirat cahayanya akan hilang. Karena di dalam ḥadīṡ uban adalah cahaya di hari kiamat. Sedangkan masalah yang berkaitan dengan mencabut uban dalam ilmu sains yaitu, uban jika dicabut akan mengakibatkan infeksi pada kulit hal ini terjadi jika kulit dalam keadaan kotor. Mencabut uban baik dalam ḥadīṡ maupun dalam sains tidak dikhususkan hanya di bagian kepala, namun di bagian mana saja yang tumbuh uban.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)NIDN/NIDK
Thesis advisorMuhtarom, MuhtaromNIDN2002066901
Thesis advisorPurwaningsih, SriNIDN2024057001
Uncontrolled Keywords: Studi hadis; Mencabut uban; Sains
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.125 Hadits > 297.1251 Study of Text of Hadith
500 Natural sciences and mathematics > 570 Life sciences
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > 76231 - Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Maulana Handy
Date Deposited: 30 Dec 2019 01:56
Last Modified: 30 Dec 2019 01:56
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/10349

Actions (login required)

View Item View Item