Kebolehan keluar rumah bagi wanita dalam masa iddah : studi perbandingan pendapat Imam Ibrāhīm al-Bājūrī w. 1276 H dan Imam Taqiyuddīn Al-Ḥiṣnī w. 829 H

Muttaqin, Muhammad Nor Faiq Zainul (2019) Kebolehan keluar rumah bagi wanita dalam masa iddah : studi perbandingan pendapat Imam Ibrāhīm al-Bājūrī w. 1276 H dan Imam Taqiyuddīn Al-Ḥiṣnī w. 829 H. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text (Skripsi_1402016102_Lengkap)
1402016102.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Imam Ibrāhīm al-Bājūrī dan Imam Taqiyuddīn al-Ḥiṣnī merupakan dua ulama’ syafi’iyah yang karyanya banyak dikaji dan dijadikan referensi fikih praktis, terkhusus di Indonesia yang sebagain besar penduduknya bermadzhab syafi’i, walaupun juga mengakui tiga madzhab besar lainnya (Maliki, Hanafi, Hanbali). Kebolehan keluar rumah dalam masa ‘iddah, dalam syafi’iyah masih menjadi permasalahan jika diterapkan di Indnesia. Karena dalam pendapat syafi’iyah wanita yang ‘iddah tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Berdasarkan kedua pendapat Imam Ibrahim al-Bajuri dan Imam Taqiyuddin al-Hishni, wanita yang ‘iddah diperbolehkan untuk keluar rumah jikalau ada hajat yang dijabarkan dalam karya kitab masing-masing. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditarik beberapa masalah sebagai bahan bahasan pokok, yaitu: pertama, bagaimana pendapat, metode istinbath hukum, dan faktor-faktor yang melatarbelakangi pemikiran Imam Ibrāhīm al-Bājūrī dan Imam Taqiyuddīn al-Ḥiṣnī tentang kebolehan keluar rumah wanita iddah?; dan kedua, bagaimana relevansi tentang kebolehan keluar rumah wanita masa ‘iddah dalam konteks hukum di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data kepustakaan (library research). Sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder yaitu kitab Al-Bajuri karya Imam Ibrahim al-Bajuri dan kitab Kifayatu al-Akhyar karya Imam Taqiyuddin al-Hishni dan kitab-kitab yang mendukung tema . Hasil dari Penelitian ini, walaupun mereka dari syafi’iyah yang dalam mpenggunaan istinbath hukum sama, yaitu Al-Quran, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, akan tetapi dalam menjabarkan wanita iddah boleh keluar karena hajat berbeda, terutama fokus penyampaian dalam pendapat kitab masing-masing. Imam Ibrāhīm al-Bājūrī dalam menjabarkan kebolehan keluar rumah masih bersifat global. Yaitu, bisa dilihat dari penjelasannya yang muluk-muluk yang penulis klasifikasikan menjadi empat klasifikasi; pertama, boleh keluar bagi orang tidak mendapat nafaqah, kedua, boleh keluar karena darurat, ketiga, menjelaskan apa saja yang tidak termasuk hajat dalam keluar rumah, keempat, menjelaskan ‘iddah perempuan dalam masa haji. Masing-masing kasifikasi yang dijelaskan oleh Imam Ibrāhīm al-Bājūrī juga ada penjabaran siap saja itu dalam masing-masing klasifikasi. Berbeda dengan Imam Taqiyuddīn al-Ḥiṣnī yang menjelaskan kebolehan keluar rumah yang terfokus pada yang tidak diperbolehkan keluar rumah bagi wanita iddah itu apa saja. Dalam pendapat kedua Imam tersebut, pendapat Imam Ibrāhīm al-Bājūrī terkesan lebih kaku. Padahal masa antara Imam Ibrāhīm al-Bājūrī lebih muda dibanding masa Imam Taqiyuddīn al-Ḥiṣnī. Hal ini bisa dilihat dalam pendapatnya yang tidak termasuk hajat yaitu; mengunjungi kedua orang tuanya, menengok kedua orang tuanya ktika sakit, ziarah kubur suaminya yang telah meninggal. Pendapat antara Imam Ibrāhīm al-Bājūrī dan Imam Taqiyuddīn al-Ḥiṣnī bisa menjadi rujukan praktis masyarakat Indonesia yang bermadzhab syafi’i, akan tetapi ada beberapa pendapat yang bisaditinggalkan jikalau itu sangat memberatkan, terutama dalam kehidupan modern saat ini. Menurut Hasyim, pada dasarnya larangan keluar rumah bagi wanita dalam masa iddah sebenarnya hanya sarana untuk mewujudkan tujuan iddah. Sarana yang dimaksud lebih menyentuh pada aspek etika sosialnya, sedangkan aspek teologisnya adalah tujuan iddahnya. Dalam hal ini tujuan iddah seharusnya lebih diperhatikan. Oleh karena itu, selama wanita iddah tersebut dapat menjaga menjaga tujuan iddah maka dia boleh saja keluar rumah, terlebih lagi bagi mereka yang kebutuhannya mendesakseperti mencari nafkah atau menuntut ilmu

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)NIDN/NIDK
Thesis advisorHapsin, AbuUNSPECIFIED
Thesis advisorShoim, MuhammadUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Iddah; Hukum Perkawinan (Islam)
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > 74230 - Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhsiyyah)
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 26 Feb 2020 07:07
Last Modified: 26 Feb 2020 07:07
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/10703

Actions (login required)

View Item View Item