Metode Pengukuran Arah Kiblat dengan Segitiga Siku-Siku dari Bayangan Matahari Setiap Saat

Hambali, Slamet (2010) Metode Pengukuran Arah Kiblat dengan Segitiga Siku-Siku dari Bayangan Matahari Setiap Saat. Masters thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
SlametHambali_Tesis_Sinopsis.pdf - Submitted Version

Download (664kB) | Preview
[img]
Preview
Text
SlametHambali_Tesis_Bab1.pdf - Submitted Version

Download (54kB) | Preview
[img]
Preview
Text
SlametHambali_Tesis_Bab2.pdf - Submitted Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
SlametHambali_Tesis_Bab5.pdf - Submitted Version

Download (14kB) | Preview
[img]
Preview
Text
SlametHambali_Tesis_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (26kB) | Preview

Abstract

Arah kiblat atau arah menuju Ka'bah melalui jalur terdekat merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam ibadah umat Islam, karena arah kiblat adalah merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Pada saat ini banyak masjid yang arah kiblatnya melenceng jauh dari yang semestinya, seperti Masjid alon-alon Purwodadai melencengnya mencapai lebih dari 150 , kemudian simpang lima Purwodadi melencengnya mencapai 170 48' bahkan Masjid Agung Sukoharjo Jawa Tengah melencengnya hampir mencapai 300 (sepertiga siku-siku). Untuk masjid Agung Sukoharjo ini arah kiblatnya bukan lagi barat utara atau utara barat, tetapi barat kearah selatan atau selatan barat. Metode pengukuran arah kiblat memang bermacam-macam, demikian juga tingkat keakurasiannya juga bermacam-macam, hal ini tidak bisa lepas dari sistem perhitungan, data astronomis yang digunakan, peralatan yang dipakai dan manusianya. Metode pengukuran arah kiblat dengan segitiga siku-siku dari bayangan matahari setiap saat, adalah merupakan teori baru (ide penulis) yang penulis belum pernah menjumpai baik dalam buku-buku ilmu falak ataupun dalam modul. Bentuk segitiga siku-siku yang diambil dari bayangan matahari penulis memperkenalkan dua model, model pertama dengan satu segitiga siku-siku, dan model kedua dengan dua segitiga siku-siku. Keduanya telah dilakukan pengujian, dua kali di rumah penulis dan empat kali di Masjid Agung Jawa Tengah. Semua telah menunjukkan hasil yang tetap, walaupun waktunya berbeda, menggunakan model satu segitiga siku-siku ataupun model dua segitiga siku-siku telah memperoleh arah kiblat yang sama, dan sama dengan arah kiblat Masjid Agung Jawa Tengah. Metode ini amat praktis selama matahari tampak, metode ini dapat dilakukan setiap saat sejak matahari terbit hingga terbenam, kecuali pada saat matahari berdekatan dengan titik zenith (jarak zenith kurang dari 300). Metode ini mempunyai prinsip yang sama dengan metode pengukuran arah kiblat menggunakan alat bantu teodholit, sehingga dapat menjadi alternatif pengukuran arah kiblat yang akurat, secara sederhana dan berbeaya murah. Tingkat akurasi metode ini cukup tinggi, bisa sama dengan metode pengukuran arah kiblat menggunakan rasyd al-qiblah lokal, bisa sama dengan metode pengukuran arah kiblat mengguanakan alat bantu teodholit, bisa sama atau lebih baik dari metode pengukuran arah kiblat menggunakan rasyd al-qiblah global, lebih baik dari metode pengukuran arah kiblat menggunakan alat bantu tongkat istiwak dari bayangan matahari sebelum mer pass dan sesudah mer pass, apalagi dengan metode penguran arah kiblat menggunakan alat bantu kompas. Metode pengukuran arah kiblat dengan segitiga siku-siku dari bayangan matahari ini, tidak hanya bisa dipakai di Indonesia saja, akan tetapi bisa digunakan juga di seluruh dunia yang dapat melihat matahari.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Metode Pengukuran Arah Kiblat; Qibla Direction; Bayangan Matahari
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 520 Astronomy and allied sciences > 525 Earth (Astronomical geography)
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 01 Oct 2013 04:31
Last Modified: 01 Oct 2013 04:31
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/108

Actions (login required)

View Item View Item