Gerakan politik ICMI pada era reformasi (1998 – 2005)

Suhendra, Hendra (2007) Gerakan politik ICMI pada era reformasi (1998 – 2005). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
2101322_Hendra Suhendra.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
2101322_Hendra Suhendra.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

ABSTRAKSI Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicari jawabannya. Bertitik tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah Mengapa pemerintah Orde Baru (waktu itu) mencibir dan meminggirkan kaum Islam? Selanjutnya bagaimana Peran ICMI Pra-Reformasi (1990-1998)? Dan bagaimana Gerakan Politik ICMI pada Era Reformasi (1998-2005) ? Hal ini merupakan ‘teka-teki’ menarik yang masih menjadi ‘tanda tanya’, karena belum banyak diketahui oleh publik (masyarakat awam) secara komprehensif. Dalam skripsi ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) yaitu berusaha Untuk mengetahui Gerakan Politik ICMI pada Era Reformasi (1998-2005) dalam memberikan pesan moral dan etika politik kepada elite politik. Oleh karena itu penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan kajian pustaka, yaitu dengan cara menuliskan, mereduksi dan menyajikan data serta menganalisis. Data diambil dari berbagai sumber tertulis yaitu berupa buku-buku. Dengan menggunakan metode pengumpulan data yang dilakukan adalah Dokumentasi, Wawancara (interview), Dari hasil penelitian tersebut, dapat di ketahui Latar belakang pembentukan ICMI dikarenakan umat Islam, khususnya cendekiawannya, merasa dipinggirkan dalam wacana nasional. Syiar Islam pun dihambat. Rangkaian peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Lampung, fitnah ihwal komando jihad mendahului pembentukan Organisasi Cendekiawan Muslim ini. "Sebelum ICMI ambil bagian secara wajar dalam wacana nasional, anak sekolah wanita dilarang mengenakan busana Muslim. Bahkan ada yang sampai dikeluarkan dari sekolah. Dulu, bagi mubalig untuk berkhotbah pun harus memiliki surat izin mubaligh (SIM) dari kopkamtib. ICMI lahir dengan tujuan membangun bangsa yang bermartabat dan mandiri. Di era reformasi, terutama setelah adanya kebebasan politik Islam mengalami kebangkitan. Ada perubahan yang signifikan dari kelompok Islam dalam memaknai jatuhnya rezim Orde Baru, yang mulai mengakomodasikan aspirasi Islam. Naiknya B.J. Habibie menjadi Presiden ketiga menggantikan Soeharto, membuat ICMI semakin dekat dengan kekuasaan dan menjadikan ICMI mempunyai kekuatan politik yang besar dan menentukan. Keberadaan ICMI tidak bisa disangkal ikut memainkan peran politik umat Islam. Akan tetapi di era reformasi ini peran itu makin menyurut, karena sudah banyak partai Islam yang tampil memperjuangkan kepentingan umat Islam. ICMI di era reformasi sekarang ini adalah sebagai perekat internal umat Islam Indonesia. ICMI sebaiknya tetap tampil sebagai gerakan kultural dengan tidak meninggalkan wacana politik. Ini tidak berarti bahwa ICMI lantas a-politik, tetapi politik yang dikembangkannya adalah politik alokatif. Melalui peran seperti itu, ICMI diharapkan akan mampu mewujudkan integrasi politik dan sosial kultural antara ummat Islam dan negara.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)NIDN/NIDK
Thesis advisorYahya, ImamNIDN2010047001
Uncontrolled Keywords: POlitik; ICMI; Politik Islam; Era Reformasi
Subjects: 300 Social sciences > 320 Political science
300 Social sciences > 320 Political science > 322 Relation of state to organized groups
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > 74231 - Hukum Pidana Islam
Depositing User: Umar Falahul Alam
Date Deposited: 03 Dec 2020 03:56
Last Modified: 03 Dec 2020 03:56
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/11820

Actions (login required)

View Item View Item