Sistem penanggalan adat Bau Nyale Sasak dalam perspektif astronomi

Zulhadi, Heri (2019) Sistem penanggalan adat Bau Nyale Sasak dalam perspektif astronomi. Masters thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text (TESIS_1702048001_HERI_ZULHADI)
TESIS_1702048001_HERI_ZULHADI.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (4MB) | Preview

Abstract

Dalam adat kebudayaan masyarakat Sasak ada sebuah adat budaya yang terus dijalankan hingga saat ini yaitu Bau Nyale. Bau Nyale sendiri merupakan agenda menangkap caing laut yang masyarakat Sasak kenal dengan sebutan Nyale. Dari sisitem penannggalan Bau Nyale tersebut sering terjadi kekeliruan antara muncul tidaknya Nyale pada waktu yang telah ditetapkan. Mayarakat Sasak berpatokan dengan sistem penanggalan adat yaitu Kalender Sasak (Rowot) yang merupakan salah satu penanggalan tradisional yang digunakan sebagai penanda waktu baik itu untuk acuan dalam penyelenggaraan hajat, hari baik, serta bercocok tanam dan lain-lain. Terkait hal tersebut, studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan dalam penentuan tanggal Bau Nyale yang ada di Lombok yaitu khususnya yang ada di Lombok Tengah bagian Selatan. Dari permasalahan tersebut penulis akan mengkaji: (1) Bagaimana pengaruh pergerakan benda langit terhadap kemunculan Nyale dalam Kalender Sasak? (2) Bagaimana korelasi kalender Sasak dalam penentuan tanggal Bau Nyale perspektif Astronomi? Dalam penelitian ini penulis kaji melalui studi lapangan (field research) yang ada di Lombok. Data penelitian ini diperoleh dengan cara observasi, interview, dan studi dokumentasi. Semua data dianalisis dengan pendekatan studi kasus dan analisis deskriptif. Dalam kajian ini hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa: (1) Berdasarkan data dari pergerakan benda langit (data astronomi) yang penulis temukan bahwasanya ada pengaruh dari pergerakan benda langit seperti Matahari yang sangat berperan dalam perubahan keadaan iklim dan cuaca pada Bumi yaitu dari perputaran Bumi mengelilingi Matahari maupun Bulan mengelilingi Bumi sehingga kemunculan Nyale tergantung dari sirkulasi perputaran benda langit yaitu pergerakan Bumi mengelilingi Matahari yang mengakibatkan perubahan iklim dan cuaca. (2) Korelasi antara Kalender Sasak dan Astronomi saling berkaitan dalam penentuan tanggal, baik dalam menentukan hari, agenda adat (baik adat Nyale maupun lainnya), terlebih dalam hal bercocok tanam. Sistem kerja Kalender Sasak tersebut dihasilkan dari pengamatan terhadap fenomena astronomi yaitu pengamatan terhadap peredaran gugus bintang Pleiades (bintang Seven Sister) yang pola kemunculannya diprediksikan dari formulasi 5-15-25, dimana bila rasi bintang Rowot dinyatakan muncul tanggal 5 dalam bulan Hijriah tertentu, maka dapat dipastikan bahwa pada tahun berikutnya kemunculan bintang Rowot mundur 10 hari yaitu pada tanggal 15 dan masih dalam bulan yang sama. Pola tersebut akan berlanjut hingga tahun ke-3 yang akan muncul pada tanggal 25. Setelah tahun ke-3, tahun selanjutnya akan muncul pada tanggal 5 pada bulan hijriah berikutnya. Formulasi perhitungan tersebut juga digunakan dalam menetukan awal musim dalam Kalender Sasak. Bintang Rowot digunakan sebagai acuan masuknya awal mangse dari pengamatan tanda-tanda alam oleh tokoh adat. Jika awal mangse sudah bisa ditentukan maka bisa diketahui bulan kesepuluh (Sasak) jatuh pada bulan apa dalam penanggalan Solar dan mengkonversikannya untuk menentukan (prediksi) kemunculan Nyale. Dalam hal ini juga, prediksi kemunculan Nyale tidak bisa lepas dari pengamatan sains Biology untuk mengetahui sesi reproduksi dari cacing Nyale tersebut, perlu melibatkan pakar yang ahli dalam Ilmu Biology, Ilmu Kelautan, serta Iklim. ABSTRACT: In the traditional culture of the Sasak people there is a cultural custom that continues to be carried out today, namely Bau Nyale. Bau Nyale it self is an agenda to catch the sea competitiveness that the Sasak people know as Nyale. From the system of transferring the Nyale Odor, there is often a mistake between the appearance or absence of Nyale at a predetermined time. The Sasak community is based on a traditional calendar system, the Sasak Calendar (Rowot), which is one of the traditional calendars that is used as a marker of time, both for reference in organizing purposes, good days, and planting and so on. Related to this, this study is intended to answer the problems in determining the date of the Nyale Odor in Lombok, specifically those in South Central Lombok. From these problems the author will examine: (1) How does the movement of celestial bodies affect the appearance of Nyale in the Sasak Calendar? (2) What is the correlation of the Sasak calendar in determining of Bau Nyale in Astronomi's perspective? In this research the writer studies through field research in Lombok. The research data was obtained by observation, interview and documentation study. All data were analyzed using a case study approach and descriptive analysis. In this study the results found show that: (1) Based on data from the movement of celestial bodies (astronomical data) the authors found that there is an influence from the movement of celestial bodies such as the Sun which is very instrumental in changing climate and weather conditions on Earth both from the rotation of the Earth around The Sun and the Moon surround the Earth so that the appearance of Nyale depends on the circulation of celestial bodies, namely the movement of the Earth around the Sun which results in climate and weather changes. (2) Correlation between the Sasak Calendar and Astronomi are interrelated in determining the date, both in determining of the day, custom agenda (both Nyale and other customs), especially in terms of farming. The Sasak Calendar work system results from observations of astronomical phenomena, namely observations of the circulation of the Pleiades star group (Seven Sister stars) whose appearance patterns are predicted from formulations 5-15-25, where if the Rowot constellation is stated to appear on the 5th of a particular Hijri month, then it is certain that in the following year the appearance of the Rowot star goes back 10 days ie on the 15th and still in the same month. The pattern will continue until the 3rd year which will appear on the 25th. After the 3rd year, the following year will appear on the 5th on the following hijri month. The calculation formulation is also used in determining the start of the season in the Sasak Calendar. Bintang Rowot is used as a reference for the initial entry of mangse from observing natural signs by traditional leaders. If the beginning of the process has been determined, then it can be known the tenth month (Sasak) falls on what month in the Solar calendar and converts it to determine (prediction) the appearance of Nyale. In this case also, the prediction of the emergence of Nyale can’t be separated from the observation of Biological scince to find out the reproduction session of the Nyale worm, it’s necessary to involve experts who are expert in Biology, Marine science, and Climate.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)NIDN/NIDK
Thesis advisorIdris, Abdul FatahNIDN2005085201
Thesis advisorNurhadi, AgusNIDN2007046603
Uncontrolled Keywords: Sistem penanggalan; Adat Bau Nyale Sasak; Astronomi
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam > 297.26 Islam and secular disciplines > 297.265 Islam and natural science (Incl. Islamic Astronomy/Ilmu Falak)
500 Natural sciences and mathematics > 520 Astronomy and allied sciences > 529 Chronology
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 50102 - Ilmu Falak (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 24 Feb 2021 07:04
Last Modified: 24 Feb 2021 07:04
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/12183

Actions (login required)

View Item View Item