Islam Bubuhan Kumai : Perspektif Varian Awam, Nahu, dan Hakekat

Al-Kumayi, Sulaiman (2011) Islam Bubuhan Kumai : Perspektif Varian Awam, Nahu, dan Hakekat. Pustaka Zaman, Semarang. ISBN 978-602-8462-28-0

[img]
Preview
Text
Islam Bubuhan Kumai-Sulaiman.pdf - Published Version

Download (20MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Coverdll.pdf - Published Version

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Bab1.pdf - Published Version

Download (231kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Bab2.pdf - Published Version

Download (852kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Bab3.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Bab4.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_bab5.pdf - Published Version

Download (5MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Bab6.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_bab7.pdf - Published Version

Download (63kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (192kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Sulaiman-Islam_Bubuhan_Kumai_Belakang.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview

Abstract

Berdasarkan pada kategori kesalehan normatif (normative piety) Bubuhan Kumai dapat dibedakan menjadi tiga varian Awam, Nahu, dan Hakekat. Ketiga varian ini samasama mengklaim sebagai pengikut ahlu as-sunnah wa al-jamā‘ah. Jika merujuk pada kerangka konseptual rukun iman (sistem kepercayaan) dan rukun Islam (ritual, ibadah), tampak jelas bahwa varian Awam cenderung memahami aspekaspek yang terkandung dalam kedua rukun tersebut secara sederhana, menciptakan simbol-simbol keagamaan yang “imajinatif” dengan tujuan untuk memudahkan proses transformasi dan internalisasi ajaran agama dari satu generasi ke generasi berikutnya. Untuk kasus-kasus tertentu, varian Awam tetap mempercayai adanya kepercayaan-kepercayaan lama—seperti kepercayaan pada makhluk-makhluk halus yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an dan hadis—dan menafsirkannya dengan khas lokal. Sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban melaksanakan syariat—dalam pengertian rukun Islam—mereka cenderung tidak begitu taat. Varian Nahu, secara umum ditandai dengan menafsirkan ajaran agama (rukun iman dan rukun Islam) dalam kerangka yang konsisten dengan ahlu as-sunnah wa al-jamā‘ah dan berusaha berpijak pada faham tersebut. Berkaitan dengan rukun Islam, kelompok ini menjalankan salat lima waktu, puasa Ramadan, membayar zakat, dan sebagian dari mereka menunaikan ibadah haji atau memiliki cita-cita untuk menunaikannya. Ciri-ciri seperti itu, bukanlah ciri-ciri dari moralitas, atau setidak-tidaknya, ciri-ciri itu baru bagian dari moralitas. Dengan kata lain, tidak bisa ditarik secara tegas bahwa orang-orang yang menjalankan rukun-rukun Islam demikian terjamin atau menjamin bahwa mereka tidak melakukan penyimpangan atau menyimpang terhadap aturan-aturan agama maupun aturanaturan sosial. Varian Hakekat juga mengaku sebagai berfaham ahlu as-sunnah wa al-jamā‘ah, namun hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran Islam yang terkandung dalam rukun-rukun Islam diabaikan dan mereka cenderung menekankan pada dimensi batiniah dalam beragama dan yang berkaitan dengan kepercayaan pada makhluk-makhluk halus, varian ini senada dengan varian Awam, yakni mempercayai eksistensi makhluk-makhluk khas lokal tersebut. Ritual yang berkaitan dengan adat, Bubuhan Kumai (Awam, Nahu, dan Hakekat) cenderung menganggap aktivitas-aktivitas yang diselenggarakan pada bulan kalendrikal sebagai bagian dari ajaran Islam. Mereka meyakini aktivitas-aktivitas kalendrikal tersebut berkaitan erat dengan perjalanan hidup manusia. Meskipun demikian, tetap ada sedikit perbedaan penyikapan terhadap ritual-ritual adat tersebut. Bagi varian Awam dan Hakekat, ritual adat adalah bagian integral dari agama. Bagi varian Nahu, sebagian ada yang menganggapnya sebagai syiar belaka, dan yang lainnya menganggapnya memang merupakan bagian integral dari agama. Dalam praktiknya, orang-orang Kumai mempercayai adanya karamah yang melekat pada orang-orang saleh atau wali sehingga diposisikan pada posisi yang sangat istimewa. Wali tersebut berperan sebagai mediator antara hamba dan Tuhan, tempat untuk berkonsultasi tentang berbagai persoalan kehidupan, dan lain-lain. Dalam hubungan ini pula, makam-makam wali (Kumai: kuburan keramat), dijadikan obyek ziarah dan di tempat itu orang-orang Kumai ber-wasīlah kepada para wali agar permohonan mereka cepat dikabulkan oleh Tuhan. Bubuhan Kumai melihat al-Qur’an tidak hanya sebagai lembaran-lembaran suci, tetapi lebih dari itu. Bagi mereka al-Qur’an mengandung barakah baik huruf maupun ayat dan suratnya. Untuk alasan inilah, mereka mempercayai adanya khasiat-khasiat khusus dari ayat atau surat tertentu dalam al-Qur’an. Mereka kemudian mengamalkan suatu surat tertentu sebagai wasīlah untuk berbagai permohonan kepada Tuhan. Selain itu, tradisi oral yang tetap bertahan hingga kini adalah mantra (Kumai: bebacaan, tawar, jampi-jampi). Mantra-mantra yang ada di Kumai sudah mengalami “Islamisasi” yang ditandai dengan pembubuhan potongan ayat atau surat tertentu dari al-Qur’an, terutama surat al-Fātiḥah. Melalui mantra yang ada terlihat adanya unsur-unsur lokal yang tetap dipertahankan oleh para ulama dengan catatan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Berdasarkan paparan yang ada dalam penelitian ini, tipologi keislaman yang ditampilkan oleh Bubuhan Kumai (Awam, Nahu, dan Hakekat) adalah “Islam akulturatifsinkretik” sebagai hasil konstruksi bersama antara agen (elit-elit lokal) dengan masyarakat dalam sebuah proses dialektika yang terjadi secara terus-menerus; mengadopsi unsur lokal yang tidak bertentangan dengan Islam dan menguatkan ajaran Islam melalui proses transformasi secara terus-menerus dengan melegitimasinya berdasarkan atas teks-teks Islam yang dipahami atas dasar interpretasi elit-elit lokal. Transformasi dilakukan melalui berbagai medium sehingga menghasilkan konstruksi sosial tentang Islam Bubuhan Kumai

Item Type: Book
Uncontrolled Keywords: Islam di Kumai; Islam di Indonesia
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.09 Historical, Geographic of Islam
Divisions: Buku (Books)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 31 Dec 2013 09:01
Last Modified: 26 May 2014 07:57
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1273

Actions (login required)

View Item View Item