Ketentuan KH. Ahmad Rifa’i tentang Kualifikasi Saksi Pernikahan

Izzudin, M. (2011) Ketentuan KH. Ahmad Rifa’i tentang Kualifikasi Saksi Pernikahan. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
072111015_Coverdll.pdf - Accepted Version

Download (4MB) | Preview
[img]
Preview
Text
072111015_Bab1.pdf - Accepted Version

Download (69kB) | Preview
[img]
Preview
Text
072111015_Bab2.pdf - Accepted Version

Download (141kB) | Preview
[img]
Preview
Text
072111015_Bab3.pdf - Accepted Version

Download (187kB) | Preview
[img]
Preview
Text
072111015_Bab4.pdf - Accepted Version

Download (204kB) | Preview
[img]
Preview
Text
072111015_Bab5.pdf - Accepted Version

Download (47kB) | Preview
[img]
Preview
Text
072111015_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (41kB) | Preview

Abstract

Hukum Islam bukanlah sebuah korpus mati! Ia bisa bergerak seiring derap jaman. Beragam teori Ushul Fiqh membincang hal ini dalam ratusan halamannya. Tetapi, tidak banyak yang berani melakukan perubahan di kalangan umat Islam, apalagi di kalangan masyarakat yang cukup lama terpaku dalam kenikmatan candu taqlid dan ittiba' . KH. Ahmad Rifa’i merupakan salah satu tokoh pengusung tradisi yang hadir semenjak abad ke-19 di Nusantara dan pemikirannya masih eksis hingga detik ini. Ini menarik untuk diteliti, utamanya berkait kesintasannya dalam menyikapi realitas. Karena, ada indikasi taqlid yang cukup kental, khususnya terhadap Kitab Tarjumah yang menjadi "juklak-juknis"-nya. Menariknya, di sana, ada kecenderungan untuk melakukan apa yang disebut ibda' (inovasi) atas tradisi keagamaannya. Namun demikian, di sana juga ada sebagian kalangan yang merasa nyaman tatkala bertahan dengan "mażhab" yang diajarkan Pahlawan Nasional, KH. Ahmad Rifa'i dalam kitab Tarjumah-nya. Inilah kalangan pemegang aṡ-ṡābit (yang tetap). Lalu, bagaimana kalangan modernis (pengusung al-mutaḥāwil) mencoba memahami kembali ajaran KH. Ahmad Rifa'i. Para penganut pemikiran KH. Ahmad Rifa’i mencoba melakukan perubahan, tanpa meninggalkan pemikiran pokok KH. Ahmad Rifa'i. Dalam skripsi ini, penulis mengambil sampel pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tentang kualifikasi saksi pernikahan. Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis ketentuan ulama Jam’iyyah Rifa’iyah tentang kualifikasi saksi pernikahan dan mendeskripsikan dan menganalisis dasar hukum ketentuan ulama Jam’iyyah Rifa’iyah tentang kualifikasi saksi pernikahan. Dalam menyelesaikan permasalahan ini, penulis melakukan penelitian secara kualitatif dengan mengumpulkan data-data kepustakaan (library research). Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis yang bersifat “deskriptif interpretatif” yang berusaha menggambarkan kualifikasi saksi pernikahan dan dasar hukumnya menurut KH. Ahmad Rifa’i, kemudian menginterpretasi bagaimana kualifikasi saksi pernikahan dan dasar hukumnya. Hasil penelitian yang penulis lakukan Pertama, kualifikasi saksi pernikahan menurut KH. Ahmad Rifa’i ada enam belas, yaitu: Islam. ‘Akil, balig, dua laki-laki, merdeka, bisa melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, bukan anaknya, bukan bapaknya, bukan musuhnya, bukan orang yang fāsiq (’adil/ mursyid), dan terjaga kehormatan, i’tiqad dan pemikirannya. Kedua, Dasar hukum kualifikasi saksi ini hadits lā nikāḥa illā bi waliyyin mursyidin wa syāhiday ‘adlin, dan hasil ijtihad KH. Ahmad Rifa’i terhadap kitab-kitab fikih Syafi’iyyah.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Saksi Pernikahan; Hukum Nikah
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Nur yadi
Date Deposited: 27 Jan 2014 08:36
Last Modified: 27 Jan 2014 08:36
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1385

Actions (login required)

View Item View Item