Al-mahr fī al-nikāḥ min al-aḥādīs al-nabawiyyah

Khotimah, Khusnul (2013) Al-mahr fī al-nikāḥ min al-aḥādīs al-nabawiyyah. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Coverdll.pdf - Cover Image

Download (615kB) | Preview
[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Bab1.pdf - Accepted Version

Download (105kB) | Preview
[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Bab2.pdf - Accepted Version

Download (135kB) | Preview
[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Bab3.pdf - Accepted Version

Download (160kB) | Preview
[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Bab4.pdf - Accepted Version

Download (217kB) | Preview
[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Bab5.pdf - Accepted Version

Download (37kB) | Preview
[img]
Preview
Text
094211082_Skripsi_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (46kB) | Preview

Abstract

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa mahar adalah suatu harta benda yang diberikan calon suami kepada calon istri ketika berlangsungnya akad pernikahan, dank arena atas melakukan hubungan seksual. telah disyariatkanya mahar setelah masuknya agama islam, saat ini para wanita memperoleh kebebasan, derajat yang tinggi, dan juga memperoleh hak-hak kemanusiaan khususnya mendapatkan mahar ketika pernikahan, yang semuanya ini tidak didapatkan sebelum masuknya islam yakni zaman jahiliyah. Yang berhak memberikan mahar yaitu calon suami harus diberikan kepada calon istri, tidak diperkenankan wali atau orang tua dari si istri mengambil alih mahar tersebut menjadi haknya, kecuali ada kerelaan dari si perempuan. Rosulullah bersabda “carilah, berilah mahar walaupun dengan sebuah cincin dari besi” dengan hadis ini mengisyaratkan bahwa mahar harus diberikan walaupun dengan jumlah yang sedikit asalkan membawa manfaat bagi yang menerima. Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas, yaitu bahwa kata mahar memiliki arti kata yang hampir mirip (sinonimitas), kata-katanya yaitu : shadaq, mahr, nihlah, faridhah, hiba’, ujr, uqar, dan alaiq. Dalam redaksi hadits ditemukan dengan menggunakan kata mahr, shadaq, hiba’, suqta, a’tha. Dengan menggunakan metode semantic peneliti mengetahui perbedaan arti kata tersebut dalam redaksi hadits nabi. Yang asalnya banyak orang mengartikan mahr, shadaq, hiba’, suqta, a’tha adalah sama yaitu mahar (maskawin), sebagaimana telah dikemukakan oleh Tosihiko Izusu yaitu tokoh yang memperkenlkan metode semantic dalam memahami ayat al-Qur’an, bawa tidak ada sinonimitas dalam kata. Dengan menggunakan metode ini penulis mencoba memberikan hasil akhir yang menjadi pembahasan ini. Kata mahr yaitu memberikan maskawin dengan tidak menyebutkan/ menetapkan kadar atau bentuknya ketika akad nikah, dalam fiqh disebutkan dengan mahr al-misil. Kata shadaq yaitu memberikan maskawin dengan menyebutkan atau menetakpkan bentuknya, dalam fiqh disebut mahr mutsamma. kata hiba’ bererti pemberian sebagai tambahan dari mahar. Dan kata suqta, a’tha yaitu sebatas pemberian biasa tidak terikat. Wallahu a’lamu bi sowab

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Mahar Nikah; Maskawin; Kajian Hadis
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.125 Hadits > 297.1251 Study of Text of Hadith
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Tafsir Hadis
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 03 Mar 2014 06:31
Last Modified: 03 Mar 2014 06:31
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1583

Actions (login required)

View Item View Item