Studi analisis terhadap pendapat Imam Syafi’i tentang zakat perhiasan emas dalam kitab al-Umm

Mustaqim, Saeful (2013) Studi analisis terhadap pendapat Imam Syafi’i tentang zakat perhiasan emas dalam kitab al-Umm. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo Semarang.

[img]
Preview
Text
082311028_Coverdll.pdf - Accepted Version

Download (231kB) | Preview
[img]
Preview
Text
082311028_Bab1.pdf - Accepted Version

Download (69kB) | Preview
[img]
Preview
Text
082311028_Bab2.pdf - Accepted Version

Download (85kB) | Preview
[img]
Preview
Text
082311028_Bab3.pdf - Accepted Version

Download (107kB) | Preview
[img]
Preview
Text
082311028_Bab4.pdf - Accepted Version

Download (70kB) | Preview
[img]
Preview
Text
082311028_Bab5.pdf - Accepted Version

Download (9kB) | Preview
[img]
Preview
Text
082311028_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (18kB) | Preview

Abstract

Emas merupakan salah satu jenis benda yang secara dzatiyah wajib dizakati. Hal ini berdasarkan nash Al-Qur’an yang berupa ancaman bagi orang yang menyimpan emas, yang terdapat pada surat At-Taubah ayat 34. (... dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih). Al-Qur’an sebagai sumber utama seringkali menampilkan pesannya melalui lafadz yang umum pengertiannya, dan dikarenakan terdapat beberapa hadits yang menjelaskan ketentuan mengenai zakat perhiasan emas yang berbeda-beda, sehingga para ulama sering berbeda pendapat tentang ketentuan zakat perhiasan emas. Berkaitan dengan hal di atas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapat Imam Syafi’i tentang zakat perhiasan emas serta instinbathnya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) yang dalam pengumpulan datanya menggunakan sumber data primer yaitu kitab Al-Umm dan skunder yang berupa kitab-kitab dan buku-buku terkait, serta menganalisis data menggunakan metode deskriptif dan konten analisis. Imam Syafi’i berpendapat bahwa emas wajib dizakati, namun ketika emas tersebut dijadikan perhiasan yang boleh pemakaiannya tidak dizakati sebagaimana pendapatnya dalam kitab Al-Umm yakni sebagaimana dalam bab Zakatul Hully yaitu: “Tidak ada zakat pada perhiasan emas yang boleh dipakai dan tidak ada zakat pada cincin laki-laki yang terbuat dari perak dan tidak ada zakat pada perhiasan yang ada pada pedang, mushaf dan ikat pinggang jika terbuat dari perak. Maka jika perhiasan tersebut dari emas, atau memakai perhiasan perempuan, atau memakai kalung, atau gelang atau yang lainnya dari perhiasan wanita maka wajib dizakati.” Pada bab Mala Zakata Fihi Minal Hulli: “Apa yang dijadikan perhiasan oleh para wanita atau yang disimpan mereka, ataupun yang disimpan oleh para lelaki berupa mutiara, zabarjud, yaqut, marjan, dan perhiasan yang berasal dari laut serta selainnya maka tidak ada zakatnya.” Adapun istinbath hukum yang dipergunakan oleh Imam Syafi’i adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ Qiyas, dan Istishab.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Zakat Emas
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.54 Zakat (Wakaf, Hibah, Infak, Sedekah, dll.)
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Muamalah
Depositing User: Nur yadi
Date Deposited: 03 Apr 2014 04:55
Last Modified: 03 Apr 2014 04:55
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1779

Actions (login required)

View Item View Item