Tinjauan hukum Islam terhadap upah ledhek tayuban dalam perspektif hukum Islam di desa Nampu kecamatan Karangrayung kabupaten Grobogan

Qomariah, Siti (2013) Tinjauan hukum Islam terhadap upah ledhek tayuban dalam perspektif hukum Islam di desa Nampu kecamatan Karangrayung kabupaten Grobogan. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
0923111057- COVER DLL.pdf - Accepted Version

Download (510kB) | Preview
[img]
Preview
Text
0923111057- Bab 1.pdf - Accepted Version

Download (120kB) | Preview
[img]
Preview
Text
0923111057- Bab 2.pdf - Accepted Version

Download (152kB) | Preview
[img]
Preview
Text
0923111057- Bab 3.pdf - Accepted Version

Download (76kB) | Preview
[img]
Preview
Text
0923111057- Bab 4.pdf - Accepted Version

Download (119kB) | Preview
[img]
Preview
Text
0923111057- Bab 5.pdf - Accepted Version

Download (18kB) | Preview
[img]
Preview
Text
0923111057- Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (25kB) | Preview

Abstract

Skripsi ini adalah hasil penelitian lapangan tentang Tinjauan Hukum Islam terhadap Upah ledhek Tayuban (Studi Kasus, di Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab persoalan tentang Bagaimana Hukum ledhek Tayuban di Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan? Dan bagaimana Tinjauan Hukum Islam terhadap Upah ledhek Tayuban Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan tersebut? Dalam penulisan skripsi ini teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, interview atau wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisanya berupa deskripttif-verifikatif, dengan menggunakan pola pikir induktif, artinya penulisan berusaha menggambarkan upah ledhek tayuban yang diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya kemudian menilainya dalam perspektif Hukum Islam. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, Upah ledhek tayuban didapat dari hasil menyanyi dan menari dalam tayuban. Menurut akad, ketentuan waktu dan pembayaran upahnya, upah ini merupakan upah yang diperbolehkan karena sudah sesuai dengan rukun upah dalam hukum Islam. Namun menurut jenis pekerjaan dan penggunaannya, upah tersebut merupakan upah yang haram karena didapat dari pekerjaan yang prosesnya terjadi kemunkaran dan upah ini tidak diperbolehkan untuk digunakan pada dirinya sendiri dan ibadah. Dalam tinjauan Hukum Islam, upah tayuban merupakan upah yang dilarang. Karena didapat dari pekerjaan yang fasad yaitu dilakukan dengan menampakkan aurat dan diiringi dengan minuman keras. Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surat an-Nur ayat 31: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya. Dan upah ini tidak dapat digunakan untuk dirinya ataupun untuk ibadah mahdoh, hal ini sesuai dengan hadis : Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi SAW bersabda, dan barang siapa mengumpulkan harta yang haram, kemudian ia menyedekahkannya, maka ia tidak mendapatkan pahala dan dosanya dibebankannya. Sejalan dengan kesimpulan di atas, maka disarankan kepada Pemerintah untuk meminimalisir kemaksiatan yang ada dalam tayuban. Misalnya dengan menghilangkan unsur minuman keras dan merubah pakaian ledhek tayuban dengan kebaya yang lebih sopan. Pemerintah juga diharapkan memberikan keterampilan lain kepada para ledhek yang dapat mendukung untuk memperkuat perekonomian mereka. Sehingga mereka dapat mencari upah dengan cara yang lain yang lebih baik dari pada upah dari tayuban.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Upah Ledhek Tayuban
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.14 Religious Ceremonial Laws and Decisions
700 The arts > 780 Music > 781 General principles and musical forms
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ekonomi Islam
Depositing User: Nur yadi
Date Deposited: 05 Apr 2014 01:58
Last Modified: 05 Apr 2014 01:58
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1835

Actions (login required)

View Item View Item