Akurasi Arah Kiblat Masjid dengan Metode Bayang-Bayang Kiblat (Studi Kasus di Kabupaten Garut)

Maesyaroh, Maesyaroh (2012) Akurasi Arah Kiblat Masjid dengan Metode Bayang-Bayang Kiblat (Studi Kasus di Kabupaten Garut). PhD thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
Maesyaroh_Disertasi_Abstrak.pdf - Submitted Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Maesyaroh_Disertasi_Bab1.pdf - Submitted Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Maesyaroh_Disertasi_Bab5.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Maesyaroh_Disertasi_Bab5.pdf - Submitted Version

Download (22kB) | Preview

Abstract

Disertasi ini berusaha mendeskripsikan tentang akurasi arah kiblat masjid dengan metode bayang-bayang kiblat di kabupaten Garut yang masih terdapat permasalahan. Permasalahan itu terutama dalam penentuan dan pengukuran arah kiblat yang masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat maupun media elektronik. Isu utama yang muncul adalah arah kiblat telah berubah. Isu ini membuat masyarakat resah, apalagi di kabupaten Garut pernah terjadi gempa yang diduga mempengaruhi arah kiblat. Padahal dalam hipotesa penulis terjadinya perubahan arah kiblat masjid di kabupaten Garut, karena memang dari awal penentuan dan pengukuran arah kiblat masjid saat dibangun sudah salah. Berdasarkan latar belakang di atas, pokok permasalahan dalam disertasi ini adalah: pertama, bagaimana metode penentuan arah kiblat di kabupaten Garut; kedua bagaimana tingkat akurasi arah kiblat masjid di kabupaten Garut berdasarkan bayang-bayang kiblat? Untuk menjawab permasalahan di atas, penulis merumuskan dan menurunkan kerangka teori bahwa arah kiblat yang akurat berdasarkan bayang-bayang kiblat yaitu apabila memenuhi beberapa komponen, yaitu: arah kiblat yang hitungannya secara astronomis tanpa adanya selisih; data-data yang digunakan sesuai dengan hari dan jam berapa akan dilakukan pengamatan. Maka bayangan yang terbentuk oleh benda vertikal akan menunjuk ke arah Ka’bah, karena pada saat itu azimut kiblat sama dengan azimut matahari. Apabila masjid yang dikalibrasi arah kiblatnya berdasarkan bayang-bayang kiblat tidak terdapat selisih maka dikategorikan akurat secara teoretis dan praktis, namun jika terdapat deviasi maksimal dua derajat maka termasuk pada batas toleransi atau masuk dalam akurasi praktis meminjam istilah Profesor Thomas Djamaluddin. Keadaan ini menurutnya, karena dalam prakteknya posisi orang salat pandangannya kadang tidak terpusat pada tempat sujud, terkadang pandangannya ke depan atau ke samping, dan hal ini sulit untuk dielakkan. Namun jika deviasinya lebih dari dua derajat termasuk tidak akurat dan tidak dapat ditoleransi. Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian disertasi ini adalah metode kualitatif dan analisa deskriptif analitik. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara interviu terhadap responden, pengamatan dan studi dokumentasi. Penelitian disertasi ini menemukan bahwa pemahaman masyarakat Garut terkait dengan pemahaman arah kiblat pada umumnya sangat bervariasi. Pada dasarnya para tokoh agama ataupun ta’mir masjid mengetahui bahwa arah yang dituju ketika salat yaitu menghadap ke Ka’bah Mukarramah. Namun dalam prakteknya hanya 8,3 persen (dari 60 responden), saja yang paham cara menentukan arah ke Ka’bah secara astronomi. Hal ini terbukti baik Muhammadiyah, maupun Persis, ketiganya berbeda pendapat bahwa arah kiblat itu ke barat, ada juga yang berpendapat bahwa arah kiblat itu dari arah barat serong 15 derajat dan ada juga yang berpendapat arah kiblat itu ke barat serong ke utara 25 derajat. Sehingga metode yang digunakan dalam penentuan dan pengukuran pun beragam pula. Temuan penelitian menunjukkan penentuan arah kiblat masjid di kabupaten Garut dapat penulis kelompokkan menjadi dua: pertama, metode taqribi yaitu penentuan arah kiblat hanya berdasarkan perkiraan saja tidak didasarkan pada teori-teori astronomi, yang termasuk kategori ini antara lain berdasar sinar matahari di pagi hari ( bayangan sinar matahari yang terbentuk pada pagi hari menunjuk ke arah barat) dan mereka meyakini kiblat itu ke kulon; menentukan arah sejati dengan menggunakan silet, kompas, kompas kiblat, berdasarkan masjid yang sudah lebih dulu dibangun. Yang kedua yaitu tahqiqi metode penentuan arah kiblat dengan hitungan berdasarkan teori-teori astronomi modern dan ilmu ukur segitiga bola : yaum rasdu kiblat global, bayang-bayang kiblat, qiblah locator dan theodolit. Terkait akurasi arah kiblat masjid berdasarkan bayang-bayang kiblat di kabupaten Garut berdasarkan temuan di lapangan dari 60 masjid yang dijadikan sampel penelitian baik dari aspek kepemilikan ormas Islam milik Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama maupun PERSIS mayoritas tidak akurat, karena dari 60 masjid yang akurat hanya 23 % atau 14 masjid. Sisanya 76% tidak akurat secara teoretis. Dengan rincian masjid - masjid yang dikategorikan dapat ditoleransi ada 10 masjid, sedangkan yang tidak dapat ditoleransi Nahdlatul Ulama ada 12 Masjid, Muhammadiyah 10 masjid dan Persis 14 masjid. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi arah kiblat masjid di kabupaten Garut antara lain karena faktor pengetahuan dan pemahaman tentang arah kiblat, kedua karena ketokohan (orang yang ditokohkan) dan faktor yang ketiga alat atau metode yang digunakan. Sehingga wajar bagi yang paham ilmu falak mereka meyakini metode penentuan arah kiblat yang akurat yaitu dengan yaum rasdu kiblat dan theodolit. Namun bagi yang tidak paham ilmu falak bahwa pandom (petunjuk) kiblat lebih akurat dan kompas sebagai penunjuk arah mata angin (barat). ABSTRACT This research describes about the accuration of mosque kibla direction by using qibla shadow method at Garut Regency that still there are problems. The problems in defining and measuring the qibla direction, recently, have been discussing in both society and mass media. Appearing the issue that qibla direction has changed, however, the phenomenon in society that it was not qibla direction which had changed but the initiation of defining and measuring the mosque qibla direction has already mistaken. According to the description above, this research discusses the main problems about how is the society determinat qiblah of direction masque in Garut, and how is the accuration of mosque qibla direction at Garut regency based on the qibla shadow method? For answering the main problems above, the researcher formulates the mosque qibla direction accurately, if they meet several components, namely: the qibla direction according astronomically matter without any difference; data are used according to the days and hours what would be observed. Then the shadow is formed by a vertical object will point to the direction of the Kaaba, because at that time equal to the azimuth, azimuth Mecca of sun. that is the qibla direction that automatically deals with the calculation without mistake. But if the mosque is measured with methode shadow of kiblat has the maximal deviation is 2 degree, it regards in tolerance limits; but if more then 2 degree, it regards not accurate and can be tolerated. Deviation of two degree at the practicaly is dificcult denied, seldom some one pray with the posisioning of body can not focus to the center of sujud. The method using in this research is kualitatif method and analitycal descriptive. The data collection in this reserch is interviewing to some respondents, observation, and documentation study. The result of this research discovers that generally the perception of Garut people deals with the comprehension of qibla direction is vary. Originally, the religious figure or mosque ta’mir understand that the direction focused in praying is Ka’bah Mukarramah. However, only 8.3 % of them (60 respondent) who understand how to define the qibla direction astronomically. The Method of defining mosque’s qibla direction at Garut, from 60 mosques which research objective based on interview to 60 respondents from Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, the defining of qibla direction is depends on the qibla direction comprehension. According to reseacher found at the field that methode of measuring of kiblat at Garut devide at two tipes, there are taqribi of methode: example : in defining the qibla direction is based on the sun light in the morning, defining the true direction using silet, stick compass, qibla compass because they understand that the qibla direction is west and the second tahqiqi methode : yaum raṣdu kiblat, qiblah locator, shadow of sun and theodholit. Base of reached that mosque are acurate teoretically 23 % or 14 mosque. It means that the 76 % or about 46 mosques are not accurate teoretically. 76 % can be tolerated or 10 mosques, while it can not be tolerated are 36 mosques. It consists of 10 Muhammadiyah’s mosque, 12 NU’s mosques, and 14 Persis’s mosque. The remaining 76% is not accurate teorietis, the details of which are categorized tolerated mosque there are 10 pieces, while that can not be tolerated from NU mosque there are 12 pieces, of 10 Muhammadiyah mosque mosque mosque and from exactly 14 pieces. Based of description paragraf above can be conclousing that there are some factors depended with acuration of kiblat masque: comprehension, leader and media or method used kiblat. So it is natural for those who understand the science of astronomy they believe the method of determining the accurate direction of the kibla the direction and theodolit yaum rasdu kiblat global, but for those who do not understand the science of astronomy that pandom (petunjuk) qiblah more accurate.

[error in script]
Item Type: Thesis (PhD)
Uncontrolled Keywords: Arah Kiblat, Bayang-bayang Kiblat, Qibla Direction, Qibla Shadow
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 520 Astronomy and allied sciences > 525 Earth (Astronomical geography)
Divisions: Program Pascasarjana > Program Doktor (S3)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 04 Sep 2013 08:44
Last Modified: 04 Sep 2013 08:44
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19

Actions (login required)

View Item View Item