Studi analisis pendapat Imam Syafi’i tentang mahar hutang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia

Anam, A. Khairul (2011) Studi analisis pendapat Imam Syafi’i tentang mahar hutang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
62111023_Coverdll.pdf - Accepted Version

Download (960kB) | Preview
[img]
Preview
Text
62111023_Bab1.pdf - Accepted Version

Download (108kB) | Preview
[img]
Preview
Text
62111023_Bab2.pdf - Accepted Version

Download (148kB) | Preview
[img]
Preview
Text
62111023_Bab3.pdf - Accepted Version

Download (238kB) | Preview
[img]
Preview
Text
62111023_Bab4.pdf - Accepted Version

Download (143kB) | Preview
[img]
Preview
Text
62111023_Bab5.pdf - Accepted Version

Download (23kB) | Preview
[img]
Preview
Text
62111023_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (25kB) | Preview

Abstract

Dalam masalah mahar ternyata masih terjadi perbedaan pandangan dari beberapa Imam Madzab khususnya dalam hal pemberian mahar utang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia. Imam Malik berpendapat bahwa mahar tidak wajib diberikan kepada istri ketika suami meninggal dunia dan belum terjadi hubungan suami istri. Akan tetapi, istri hanya berhak mendapat waris saja. Namun, Imam Syafi’i berpendapat lain, seorang istri tetap mendapatkan mahar penuh ketika suami meninggal dunia baik belum terjadi maupun sudah terjadi hubungan suami istri serta belum ditentukan maharnya. Yang menjadi perumusan masalah yaitu apa yang melatarbelakangi pendapat Imam Syafi’i sehingga tetap memberikan mahar utang yang belum dibayar sebab suami meninggal dunia dan bagaimana istinbath hukumnya? Dalam menyusun skripsi ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) baik kepustakaan primer maupun sekunder. Di samping itu, menggunakan penelitian kualitatif dan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis dengan sumber data primer yaitu, karya Imam Syafi’i berupa kitab al-Umm yang berhubungan dengan judul di atas ya’ni dengan menggambarkan pendapat Imam Syafi’i tentang mahar utang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia, dan data sekunder yaitu literatur-literatur yang relevan dengan pembahasan judul di atas. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan komparatif. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa menurut Imam Syafi’i, mahar utang yang belum dibayar tetap menjadi kewajiban suami kepada seorang istri meskipun suami meninggal dunia baik belum maupun sudah terjadi hubungan suami istri serta belum ditentukan maharnya. Pihak yang mewakili untuk membayar mahar kepada istri dalam hal ini adalah ahli waris dari suami itu sendiri. Metode Istinbath hukum yang digunakan oleh Imam Syafi’i adalah al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas. Dalam hubungan dengan kewajiban memberikan mahar Imam Syafi’i menggunakan metode istinbath hukum al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat : 4 dan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Mahar Hutang; Pernikahan
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Nur yadi
Date Deposited: 25 Apr 2014 08:03
Last Modified: 25 Apr 2014 08:03
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/2023

Actions (login required)

View Item View Item