Dinamika pemikiran gender dalam Nahdlatul Ulama (studi keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-28 [1989] sampai Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32 [2010])

Ma'mur, Jamal (2014) Dinamika pemikiran gender dalam Nahdlatul Ulama (studi keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-28 [1989] sampai Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32 [2010]). PhD thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
105113009_Disertasi_Sinopsis.pdf - Accepted Version

Download (961kB) | Preview
[img]
Preview
Text
105113009_Disertasi_Coverdll.pdf - Accepted Version

Download (527kB) | Preview
[img]
Preview
Text
105113009_Disertasi_Bab1.pdf - Accepted Version

Download (319kB) | Preview
[img]
Preview
Text
105113009_Disertasi_Bab2.pdf - Accepted Version

Download (260kB) | Preview
[img] Text
105113009_Disertasi_Bab3.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only

Download (336kB)
[img] Text
105113009_Disertasi_Bab4.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only

Download (330kB)
[img]
Preview
Text
105113009_Disertasi_Bab5.pdf - Accepted Version

Download (134kB) | Preview
[img]
Preview
Text
105113009_Disertasi_Bibliografi.pdf - Bibliography

Download (93kB) | Preview

Abstract

This study examines the thoughts of Nahdlatul Ulama (NU) about gender. The study is restricted from the 28th NU conference in Yogyakarta, 1989 up to the 32nd NU conference in Makasar, 2010, The 28th Conference is chosen as the beginning of the study because after those events there was Lampung National Conference in 1992 bearing Mazhab Manhaji as the way to determine the Islamic rules in the NU sphere which previously used only mazhab qauli. Mazhab qauli is reviewing the thoughts of Islamic scholars to answer the recent problems, while mazhab manhaji are using the methodology of the Islamic scholars, especially Ushul and Fiqh to fix the rules. The forum to examines Islamic law in NU is Bahtsul Masail. One of the topics being discussed is about gender. In this dissertation, there are six issues of gender being studied that is marrying in different religion, marrying in contract, women working outside their home at night, woman leadership, trafficking, and circumcision for woman. This research is research of sociological law because this study examines the change of law that influenced by the social reality that is driven by typology of the actors. The theories used are conflict theory, determinism inclusive, and gender. The data collection use triangulation of data with the primary data, is the result of interviews with the actors, and secondary data, is the legal results of the organization. Analysis of the data is use content analysis, critical discourse, and gender. The results of this study are there is a dynamics of gender thinking in NU, it are the variation law istinbāṭ method (qauli 2, manhaji 4), the issues discussed (2 weddings, 1 economic, 1 political, 1 criminal, and 1 health), the forum used (waqi 'iyyah 4, maudhu'iyyah 2), and the resulting product (2 conservative, 2 moderate, and 2 liberal). These dynamics are driven by three typology of groups. Those are the conservatives who keep the tradition rigidly using textually understanding, the moderates who responsively understand the changing times textually and contextually, and the liberals who bring equality and justice in gender using rational and deconstructive understanding. These three typology of actors struggle to grab the six issues of gender dynamically. Sensitive issues such as marrying in different religion, marrying in contract and circumcision for woman are dominated by the conservatives. Social issues such as women working outside their home at night is dominated by the moderates. Controversial issues like woman leadership, trafficking are dominated by the liberals. In this struggle, the moderates and the liberals succeed in grabbing gender thoughts concerning uncertainty issues (zanni) and failed in grabbing the certainty issues (qat’i). Seeing this reality, the writer calls the NU thoughts of gender as religious gender that is gender being appropriate with the religious value. ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji pergumulan pemikiran Nahdlatul Ulama (NU) tentang gender. Penelitian ini dibatasi dari Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta tahun 1989 sampai Muktamar NU ke-32 di Makasar tahun 2010. Muktamar ke-28 dipilih sebagai awal penelitian karena setelah itu ada Munas Lampung tahun 1992 yang melahirkan mażhab manhaji sebagai terobosan istinbāṭ hukum di lingkungan NU yang sebelumnya hanya menggunakan mażhab qauli. Mażhab qauli adalah mengkaji produk pemikiran para ulama untuk menjawab persoalan yang ada, sedangkan mażhab manhaji adalah menggunakan metodologi para ulama, khususnya kaidah ushul dan kaidah fikih, untuk menetapkan hukum. Forum yang mengkaji hukum Islam di NU adalah Bahtsul Masail. Salah satu tema yang dikaji dalam Bahtsul Masa’il adalah isu-isu gender. Dalam disertasi ini, yang diteliti adalah enam isu gender, yaitu nikah beda agama, nikah mut’ah, perempuan bekerja malam hari di luar rumah, kepemimpinan perempuan, trafficking, dan khitan perempuan. Jenis penelitian ini adalah penelitian sosiologi hukum karena mengkaji perubahan hukum yang dipengaruhi oleh realitas sosial yang digerakkan oleh para aktor. Teori yang digunakan adalah teori konflik, determinisme inklusif, dan gender. Pengumpulan data dilakukan secara triangulasi dengan data primer, yaitu hasil wawancara dengan para aktor dan data sekunder, yaitu hasil resmi organisasi. Analisis data menggunakan analisis isi, wacana kritis, dan gender. Temuan penelitian ini adalah terjadi dinamika pemikiran gender NU, yaitu variasi metode istinbāṭ hukum (qauli 2, manhaji 4), masalah yang dibahas (pernikahan 2, ekonomi 1, politik 1, pidana 1, dan kesehatan 1), forum yang digunakan (waqi’iyyah 4, maudhu’iyyah 2), dan produk yang dihasilkan (konservatif 2, moderat 2, dan liberal 2). Dinamika ini digerakkan oleh tiga tipologi aktor. Mereka adalah kelompok konservatif yang mempertahankan tradisi secara rigid dengan pemahaman tekstual, kelompok moderat yang responsif terhadap dinamika zaman dengan pemahaman kontekstual, dan kelompok liberal yang mengusung keadilan gender dengan pemahaman rasional dan dekonstruktif. Pergumulan tiga tipologi aktor dalam merebutkan enam isu gender ini berlangsung secara dinamis. Isu-isu sensitif, seperti nikah beda agama dan nikah mut’ah, didominasi oleh kelompok konservatif. Isu-isu sosial, seperti perempuan bekerja malam hari di luar rumah dan khitan perempuan, didominasi oleh kelompok moderat. Isu-isu kontroversial, seperti kepemimpinan perempuan dan trafficking, didominasi oleh kelompok liberal. Dalam proses pergumulan ini, kelompok moderat dan liberal berhasil menggolkan pemikiran gender dalam masalah-masalah yang belum pasti (zanni), dan gagal menggolkan masalah-masalah yang sudah pasti (qaṭ’i). Melihat realitas ini, penulis menyebut pemikiran gender NU dengan religious gender, gender yang berbasis nilai-nilai agama.

[error in script]
Item Type: Thesis (PhD)
Uncontrolled Keywords: Gender; Nahdlatul Ulama
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.6 Islamic history > 297.65 Organizations of Islam
300 Social sciences > 305 Social groups
Divisions: Program Pascasarjana > Program Doktor (S3)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 10 Sep 2014 04:48
Last Modified: 10 Sep 2014 04:48
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/2543

Actions (login required)

View Item View Item