Analisis pendapat Sayyid Sabiq tentang khulu perempuan yang sakit

Akrom, M. Khafidz (2009) Analisis pendapat Sayyid Sabiq tentang khulu perempuan yang sakit. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
2105060 _ Coverdll.pdf - Accepted Version

Download (57kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2105060 _ Bab 1.pdf - Accepted Version

Download (57kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2105060 _ Bab 2.pdf - Accepted Version

Download (111kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2105060 _ Bab 3.pdf - Accepted Version

Download (101kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2105060 _ Bab 4.pdf - Accepted Version

Download (110kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2105060 _ Bab 5.pdf - Accepted Version

Download (8kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2105060 _ Bibliography.pdf - Bibliography

Download (14kB) | Preview

Abstract

Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 1 (huruf i) ditegaskan bahwa khulu' adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan atau iwad kepada dan atas persetujuan suaminya. Khulu' bisa saja dilakukan oleh istri yang sehat juga yang sedang sakit keras, namun yang menjadi masalah utama adalah berapa tebusan yang harus dibayar isteri kepada suaminya. Dalam kaitan ini, para ulama tidak berbeda pendapat tentang bolehnya perempuan sedang sakit keras melakukan khulu'. Dia berhak mengkhulu' suaminya, seperti halnya perempuan yang sehat. Dalam menyusun skripsi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data Primer, yaitu karya Sayyid Sabiq yang berjudul: Fiqh al-Sunnah. Sebagai data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul skripsi ini. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan kepustakaan (library research). Data hasil penelitian yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan metode deskriptif analisis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Menurut Sayyid Sabiq seorang istri yang mengajukan khulu' dalam keadaan sakit berat dan kemudian meninggal harus membayar tebusan berupa tiga hal: Pertama, ganti khulu'. Maksudnya istri harus mengembalikan mahar yang pernah diterima dari suaminya. Kedua, sepertiga dari pusakanya. Maksudnya istri harus menyerahkan harta bawaaan suami yang sudah ada sebelum pernikahan, misalnya harta dari hibah orang tuanya suami atau warisan. Ketiga, bagian warisannya. Maksudnya istri harus menyerahkan bagian warisan suaminya akibat hubungan pernikahan. Pendapat Sayyid Sabiq tersebut jika dibandingkan dengan pendapat ulama yang lain, tampaknya pendapat ulama lain lebih ringan dalam meletakkan syarat khulu' bagi perempuan yang sakit. Sedangkan Sayyid Sabiq memberi syarat yang lebih berat bagi istri yang mengajukan khulu'. Bertitik tolak pada pendapat Sayyid Sabiq tersebut, ini menunjukkan bahwa Sayyid Sabiq menghendaki agar suami mendapat bagian yang besar sebagai ganti rugi dari khulu'. Ditinjau dari latar belakang historis sosial Sayyid Sabiq yang berpendapat demikian dapat dianalisis bahwa pendapat Sayyid Sabiq tersebut dapat dimengerti dan wajar karena untuk menghindari seorang istri yang punya niat menghalangi bagian waris suami dengan cara istri mengajukan khulu'. Dengan terjadinya perceraian tersebut, logikanya istri adalah jika ia meninggal dunia maka mantan suaminya bukan lagi sebagai ahli waris yang otomatis tidak mendapat bagian warisan. Jadi Sayyid Sabiq berpendapat seperti di atas tampaknya dipengaruhi oleh keadaan masyarakatnya, dimana ada seorang istri melakukan kecurangan karena benci pada suaminya dan kebetulan istri termasuk banyak hartanya maka dicari cara untuk membuat suaminya tidak mendapat apa-apa apabila istri meninggal dunia, maka khulu' dijadikan alat untuk memperdaya suami. Metode istinbath hukum yang digunakan Sayyid Sabiq mengenai besarnya jumlah tebusan dari perceraian bentuk khulu' adalah al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 229 dan hadis yang diriwayatkan dalam Ibnu Abbas r.a. tentang khulu perempuan yang sakit

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Additional Information: Pembimbing: Dra. Hj. Siti Mujibatun, M.Ag.; Anthin Lathifah, M.Ag.
Uncontrolled Keywords: Khulu; Perceraian
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Agus Sopan Hadi
Date Deposited: 18 Mar 2015 01:06
Last Modified: 18 Mar 2015 01:06
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/3685

Actions (login required)

View Item View Item