Rekonstruksi paradigma keguruan membentuk guru humanis-qur’ani

Mustofa, Mustofa (2014) Rekonstruksi paradigma keguruan membentuk guru humanis-qur’ani. Research report (Laporan penelitian). LP2M IAIN Walisongo, Semarang. (Submitted)

[img]
Preview
Image
Mustofa-Cover_2014.jpg - Cover Image

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (Laporan penelitian)
Mustofa-Guru_Humanis_2014.pdf - Submitted Version

Download (716kB) | Preview

Abstract

Secara literal istilah mu’allim dan murabbi dalam al-Qur'an tidak ditemukan. Pembahasan tentang konsep guru didasarkan pada dua kata kunci, yaitu tarbiyah dan ta’li>m. Guru humanis dalam al-Qur'an dimaksudkan sebagai seorang pendidik (educator) yang pekerjaannya adalah mendidik orang lain. Pendidik adalah orang yang ahli dalam teori dan metode pendidikan. Pendidik menempati posisi sebagai orang yang berilmu (‘a>lim) sesuai jenis dan tingkatannya. Al-‘a>lim dipandang sebagai orang yang paling baik (khair al-bariyyah). Karena itu, orang berilmu (‘a>lim) juga diberi predikat sebagai pewaris nabi. Predikat ini memiliki konsekuensi bahwa tugas pendidik sebagai seorang ‘a>lim adalah menyampaikan ajaran Islam supaya manusia tercerahkan, yakni manusia yang mendapat petunjuk sehingga terhindar dari kesesatan (Q.S. al-Ma>idah/5: 16). Hakikat guru atau pendidik tetap menjadi pemegang dan penentu utama kebijakan pembelajaran sesuai perannya sebagai teladan, fasilitator, motivator, dan mitra belajar bagi peserta didiknya. Nilai-nilai hmanis yang menjadi karakteristik guru di antaranya adalah kebebasan, persamaan dan persahabatan. Guru diharapkan bertanggung jawab akan perbuatannya dalam mendidik muridnya. Kebebasan dan tanggung jawab dalam Islam menjadi satu kesatuan dalam diri guru. Seorang guru dituntut memiliki kepribadian, perkembangan, dan kemerdekaan manusia dalam persamaan. Kepedulian dan kemauan guru membela sesama manusia menjadi tanda kesalehan seorang muslim. Guru dalam perspektif humanisme-qurani menuntut penyandang gelar ini bisa berperan menjadi manusia yang mampu berperan sebagai inti kegiatan pendidikan. Inti masalah pendidikan terletak pada kemampuan seseorang dalam mengatasi persoalan dirinya sendiri. Kesadaran memahami konsep masalah pendidikan ini perlu tindak lanju demi membangun pendidikan di Indonesia. Salah satu cara adalah dengan melihat kemampuan para pendidik yaitu guru di lembaga pendidikan. Guru dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang tinggi. Guru harus mampu berbuat dan merubah semuanya dengan memberikan warna yang lebih baik dalam dunia pendidikan. Dalam humanisme-Qur’ani, guru juga sebagai manusia pembelajar. Guru tidak lepas dari adagium belajar sepanjang hayat (long life education). Hal ini menuntut semua guru harus selalu mengembangkan diri melalui berbagai cara: bisa dengan belajar mandiri, mengikuti pelatihan atau workshop pengembangan keguruan, kursus, dan sebagainya. Semangat ini sejalan dengan ayat al-Qur'an. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan, melaksanakan dan menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat.

[error in script]
Item Type: Monograph (Research report (Laporan penelitian))
Uncontrolled Keywords: Guru humanis; Guru qur'ani; Paradigma keguruan
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam > 297.77 Islamic religious education
300 Social sciences > 370 Education > 371 School management; special education
Divisions: Laporan Penelitian (Research Reports)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 09 Apr 2015 05:07
Last Modified: 09 Apr 2015 05:07
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/3936

Actions (login required)

View Item View Item