Akal dan wahyu dalam Islam (perbandingan pemikiran antara Muhammad Abduh dan Harun Nasution)

Ulfah, Maria (2009) Akal dan wahyu dalam Islam (perbandingan pemikiran antara Muhammad Abduh dan Harun Nasution). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
4105011.pdf - Accepted Version

Download (857kB) | Preview

Abstract

Sampai saat ini masih banyak dijumpai sejumlah kalangan yang berupaya untuk membatasi kerja akal, sekaligus menerima wahyu sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal akal adalah makhluk Tuhan yang tertinggi dan akallah yang memperbedakan manusia dari binatang dan makhluk Tuhan lainnya. Perdebatan tentang akal dan wahyu atau termasuk antara sains dan agama sebanarnya bukan hal yang baru. Dalam konteks Islam, perdebatan itu melahirkan aliran-aliran ilmu kalam seperti Muktazilah, Jabariah, Qodiriah, Asy’ariah yang tidak terlepas dari perbedaan pandangan dalam menempatkan akal dan wahyu. M.Abduh sebagai seorang pembaharu dari Mesir dan Harun Nasution sebagai seorang pembaharu dari Indonesia. Mencoba merubah tatanan pemikiran yang sudah ada (menghilangkan taklid). Yaitu lebih mengutamakan akalnya dan tidak menyampingkan wahyu. Artinya jika ada ayat-ayat yang mempunyai makna yang tidak sesuai dengan akal, maka wajib bagi akal untuk menafsirkan ayat tersebut secara metaforis yaitu makna ayat tersebut disesuaikan dengan rasio. Dalam penelitian ini, dibahas tentang pemikiran M.Abduh dan Harun Nasution tentang akal dan wahyu dalam Islam. Yaitu dicari perbedaan dan persamaan pemikiran mereka dan relevansi pemikiran mereka dengan kondisi yang sekarang. Untuk mencapai hasil yang valid dan dapat diterima semua kalangan, maka dilakukan penelitian secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif Setelah dilakukan penelitian, ternyata didapatkan hasil persamaan bahwa keduanya mengajak kepada manusia untuk melakukan penyelidikan dan penelitian berdasarkan akal terhadap benda-benda alam yang ada di depan mata. Yaitu untuk mengetahui kebesaran dan kebenaran Tuhan. Menurut M.Abduh dan Harun Nasution, posisi akal dan wahyu adalah akal dapat mengetahui adanya Tuhan, dapat mengetahui bahwa manusia wajib beribadat dan berterima kasih kepada-Nya tetapi akal tak sanggup mengetahui semua sifat-sifat Tuhan dan tak dapat mengetahui cara yang sebaiknya beribadat kepada-Nya, wahyulah yang menjelaskan kepada akal cara beribadat dan berterima kasih kepada Tuhan. Dan akal juga tidak dapat mengetahui perincian dari kebaikan dan kejahatan. Disinilah fungsi wahyu yaitu menguatkan pendapat akal melalui sifat sakral dan absolut yang terdapat dalam wahyu. Juga terdapat perbedaan antara keduanya yaitu dari background pemikiran mereka M.Abduh yaitu dunia pendidikan, sedangkan Harun Nasution berasal dari politik. Dan sumber yang digunakan oleh keduanya adalah Al-Qur’an dan Hadis, relevansi pemikiran mereka pada kondisi yang sekarang terutama kebutuhan manusia akan kehidupannya yaitu membebaskan diri dari tradisi dan penafsiran-penafsiran yang pada abad pertengahan dianggap sebagai ajaran agama yang tidak boleh dirubah. Yaitu ide kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatan, menurut M.Abduh dipengaruhi oleh ide hukum alam. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para pembaca

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Akal dan Wahyu; Pemikiran Islam; Filsafat Islam
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Aqidah Filsafat
Additional Information: Pembimbing: Dr. H. Yusuf Suyono, M.A.; Zainul Adzfar, M. Ag.
Depositing User: Agus Sopan Hadi
Date Deposited: 08 Dec 2015 07:56
Last Modified: 08 Dec 2015 07:56
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/4831

Actions (login required)

View Item View Item