Analisis pendapat Imam Syafi'i tentang perceraian akibat li'an

M. Romdhon, M. Romdhon (2009) Analisis pendapat Imam Syafi'i tentang perceraian akibat li'an. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
2102107_lengkap.pdf - Accepted Version

Download (346kB) | Preview

Abstract

Berbicara perceraian akibat li'an tidak terlepas dari latar belakang adanya pernikahan. Suatu pernikahan tidak berumur panjang yaitu berakhir dengan perceraian karena suami menuduh istrinya telah berzina dengan pria lain, atau suami tidak mengakui anak yang ada dalam kandungan istrinya sebagai anaknya dengan tuduhan bahwa hal itu hasil hubungan dengan pria lain. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana pendapat Imam Syafi'i tentang perceraian akibat li'an? Bagaimana metode Istinbat hukum Imam Syafi'i tentang perceraian akibat li'an? Metode penelitian skripsi ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data Primer, yaitu karya Imam Syafi'i yang berjudul: Al-Umm. Sebagai data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul skripsi ini. dalam mengumpulkan data menggunakan teknik dokumentasi. Dalam menganalisis peneliti menggunakan deskriptif kualitatif artinya peneliti berusaha menangkap karakteristik pemikiran Imam Syafi'i dengan cara menata dan melihatnya berdasarkan dimensi suatu bidang keilmuan sehingga dapat ditemukan pola atau tema tertentu dan hermeneutika yaitu metode yang menjelaskan isi sebuah teks keagamaan kepada masyarakat yang hidup dalam tempat dan kurun waktu yang jauh berbeda dari si empunya. Temuan yang dapat dijelaskan menunjukkan bahwa pendapat Imam Syafi'i tentang saat terjadinya perceraian akibat li'an sebagai berikut: Menurut Imam Syafi'i, perkawinan diputuskan terhitung semenjak selesainya suami mengucapkan li'an. Alasannya ialah bahwa li'an itu adalah perceraian yang terjadi karena ucapan, oleh karena itu terjadi dengan telah diucapkan oleh suami dan tidak memerlukan ucapan yang lainnya. Penulis sependapat dengan alasan Imam Syafi'i karena ucapan li'an dari suami saja sudah menunjukkan bahwa suami tidak lagi menyukai istrinya dan telah merusak harga diri atau kehormatan istri dimata publik. Jika ucapan suami tersebut belum menjadi talak maka hal ini tidak akan mendatangkan kebaikan jika rumah tangga diteruskan. Bagaimanapun suami yang menuduh istrinya telah berzina atau suami yang tidak mengakui anak tersebut sebagai anaknya, hal itu sudah menunjukkan bahwa suami tidak lagi ada keinginan untuk meneruskan rumah tangga dengan istrinya tersebut. Jadi sejak kapan putusnya perkawinan, maka tidak perlu menunggu ucapan istri juga tidak perlu menunggu sampai pengadilan memutuskan. Karena itu pendapat Imam Syafi'i logis dan rasional, dalam arti bisa dimengerti bahwa ucapan li'an suami sudah sama dengan talak. Dalam hubungannya dengan saat terjadinya perceraian akibat li'an, bahwa menurut Imam Syafi'i, jika suami telah menyelesaikan li'an-nya, maka perpisahan pun telah terjadi. Sebagai istinbatnya Imam Syafi'i menggunakan hadis dari Yahya bin Yahya dari Malik dari Ibnu Syihab yang diriwayatkan Imam Muslim. Kekuatan hujjah ini dapat dikatakan meyakinkan atau tidak diragukan.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Additional Information: Pembimbing: Anthin Lathifah, M. Ag.
Uncontrolled Keywords: Perceraian; Li'an
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Agus Sopan Hadi
Date Deposited: 11 Mar 2016 06:53
Last Modified: 11 Mar 2016 06:53
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5090

Actions (login required)

View Item View Item