Pemikiran Ki Enthus Susmono tentang tokoh Sengkuni dalam pewayangan

Defriani, Selly Aulia (2015) Pemikiran Ki Enthus Susmono tentang tokoh Sengkuni dalam pewayangan. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
114111032.pdf - Accepted Version

Download (1MB) | Preview

Abstract

Wayang adalah wewayanganing ngaurip (cerminan jiwa dan karakter hidup manusia). Salah satu wayang yang memiliki karakter yang kuat antara lain adalah Sengkuni. Ia identik dengan sifat licik, penuh tipu daya, provokator, dan tukang ucuk-ucuk. Adapun metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Metode deskriktif kualitatif yaitu penggambaran ulang pemahaman yang diperoleh guna mendapatkan bahan writing dan rewriting, yang di dalamnya memuat kegiatan, rethinking (Berpikir kembali), reflecting (Mencerminkan), recognizing (Menyadari), dan revising (Merivisi). Kemudian sumber data yang digunakan adalah observasi, wawancara, serta dibantu berupa penelitian kepustakaan yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Ki Enthus adalah seorang dalang dari Kabupaten Tegal, nenek moyang beliau sebagai dalang, pada tahun 2014 silam Ki Enthus Susmono mencalonkan sebagai Bupati. Dan akhirnya sekarang beliau menjadi Bupati di Kabupaten Tegal. Pemahaman Wayang menurut Ki Enthus Wayang adalah bayang-bayang kehidupan membicarakan watak manusia lewat pertunjukan bayang-bayang jadi orangnya tidak tersinggung, lewat Wayang inilahsebagai sarana dakwah yang berisikan ajaran moral dan isinya pesan moral, mengambil falsafah kehidupan yang diambil dari falsafah wayang setiap kejahatan akan kalah dengan kebaikan. Birokrasi di Indonesia menurut Ki Enthus bukan pada tokoh Wayangnya tetapi pada falsafah yang berbunyi “Dene Utamaning Nata” (Keutamaan Seorang Pemimpin)” Berbudi (Melayani Masyarakat dengan Visi dan Misi) dan Bawalaksana (Memberi Punishment dan reward). Visi dan misi Ki Enthus di Birokrasinya adalah Clean Goverment (Pemerintahan yang bersih bebas dari Kkn, Korupsi dan Gratifikasi). Strategi Melarung Sengkuni adalah Strategi orang yang jahat masih punya duakesempatan untuk baik, bila tidak baik secara terus menerus maka akan menerima hukuman, baik hukuman secara administrasi atau sangsi hukum. Maksud simbol dari melarung sengkuni adalah simbol penolakan karakter jahat yang dipersonifikasikan pada sosok ini. Sosok yang menyamar sebagai orang santun, relijius, ramah, namun menyembunyikan watak aslinya yang pengecut, munafik dan berlumur ambisi. Tolak bala dan menolak ajakan syetan yang sesat.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Additional Information: Pembimbing: Drs. H. Sudarto, M. Hum.; Widiastuti, M. Ag.
Uncontrolled Keywords: Wayang; Budaya Jawa; Filsafat Jawa
Subjects: 100 Philosophy and psychology > 180 Ancient, medieval, Oriental philosophy > 181 Oriental philosophy
700 The arts > 790 Recreational and performing arts > 791 Public performances
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Aqidah Filsafat
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 25 Apr 2016 05:28
Last Modified: 25 Apr 2016 05:28
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5382

Actions (login required)

View Item View Item