Studi kritis hadīṡ tentang larangan dan kebolehan berjalan dengan satu sandal

Azhari, Ainul (2015) Studi kritis hadīṡ tentang larangan dan kebolehan berjalan dengan satu sandal. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
124211005.pdf - Accepted Version

Download (1MB) | Preview

Abstract

Berjalan merupakan bergerak maju dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Tentunya berjalan tersebut dilakukan oleh seluruh makhluk hidup walaupun dengan cara yang berbeda-beda, baik yang berjalan dengan menggunakan perut, dua kaki maupun dengan empat kaki layaknya hewan ternak. Adapun manusia yang diciptakan untuk berjalan dengan dua kaki itu dianjurkan agar mengenakan alas kaki, baik sandal maupun sepatu. Hal tersebut dipicu agar dapat melindungi kaki dari hal-hal yang dapat menciderainya. Dalam penelitian ini, kami penulis memaparkan tentang adab dalam mengenakan sandal antara lain: berdo’a ketika mengenakan sandal baru, anjuran menggunakan sandal, ketika menggunakan sandal memulai dengan kaki kanan dan memulai dengan kaki sebelah kiri ketika melepasnya, melepas sandal ketika memasuki area pemakaman, tidak boleh mengenakansandal sambil berdiri, larangan berjalan dengan satu sandal dan berjalan tanpa mengenakan sandal. Secara lahirnya, hadis tentang larangan dan kebolehan berjalan dengan satu sandal ini terlihat berkontadiksi. Maka dari itu, penting untuk kita untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan hadis-hadis tersebut. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kualitas hadits tentang larangan dan kebolehan berjalan dengan menggunakan satu sandal, baik sanad maupun matan? (2) Bagaimana penyelesaian matan hadits yang berkontradiksi antara larangan dan kebolehannya berjalan dengan satu sandal? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kualitas hadisn tentang larangan dan kebolehan berjalan dengan menggunakan satu sandal, baik dari segi sanad maupun matan. (2) untuk mengetahui cara penyelesaian terhadap hadisnya yang matannya terlihat berkontradiksi antara larangan dan kebolehannya berjalan dengan satu sandal. (3) untuk mengetahui adab sopan santun dalam berjalan terutama ketika mengenakan alas kaki (sandal). Adapun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif yang berdasarkan kajian kepustakaan (library research). Sedangkan metode yang digunakan dalam mengolah data adalah ilmu al-jarhu wat ta’dil untuk menilai kesahihan perawi yang berada pada deretan sanadnya. Sementara dalam menganalisis matan penulis menggunakan ilmu mukhtaliful hadis, karena hadis yang dikaji merupakan hadis yang tampak bertentangan. Kemudian dilihat dari berbagai pendekatan seperti bahasa (teks), sosiologi dan kesehatan. Kami pun menjelaskan hadis-hadis tentang tata cara menggunakan sandal dalam hal ini mencangkup pada metode tematik untuk memahami hadis Nabi Saw. Hasil penelitian ini dapat kami simpulkan bahwa: Pertama, Hadis yang menyatakan tentang larangan berjalan dengan menggunakan satu sandal itu berkualitasṣ ḥaḥī li ghairihi. Ketika ditinjau dari segi vertikal hadiṡ tersebut berkualitas marfū’, karena bersumber langsung dari Rasulullah Saw. Sedangkan dari sisi horizontalnya hadiṡ ini berkualitasnya sebagai hadiṡ aziz kemudian menjadi hadiṡ masyhur pada thabaqah selanjutnya. Sementara hadiṡ yang menjelaskan tentang kebolehannya berjalan dengan menggunakan satu sandal itu berkualitasḥ asan li ghairihi. Apabila ditinjau dari segi vertikal hadiṡini hanya sampai pada derajat mauqūf, karena hadiṡtersebut diriwayatkannya berhenti pada tingkatan sahabat yaitu ‘Āisyah. Namun, jika dilihat dari segi horizontal, hadiṡ tenang kebolehan itu merupakan hadiṡahad dalam kategori gharib nisbi. Kedua,Penyelesaian matan hadiṡ yang tampak bertentangan dapat dilakukan dengan cara mengkompromikannya. Kemudian, berdasarkan pendekatan bahasa (teks) yang dilakukan pada hadiṡtentang larangan berjalan dengan satu sandal diriwayatkan dengan redaksi yang berbeda-beda namun maknanya tidak berubah. Maka dari itu, hadiṡ tersebut termasuk hadiṡ yang diriwayatkan dengan makna (ar-riwāyah bil ma’na). Ditinjau melalui sudut sosiologinya pada hadiṡtersebut Rasulullah Saw bermaksud agar tidak berjalan dengan menggunakan satu sandal saja. Karena ketika seseorang berjalan dengan satu sandal akan menyebabkan kaki sebelahnya lagi berada lebih tinggi dari kaki yang lainnya, dan hal seperti itu dapat menyebabkannya terjatuh, tidak sedap dipandang mata, banyak orang yang akan membicarakannya karena telah menyalahkan kepantasan, tidak dapat berbuat adil terhadap anggota tubuhnya, dan orang tersebut menyerupai jalannya syaitan. Setelah itu memahami hadis tersebut dari dunia kesehatan, larangan tersebut dimaksudkan agar kita tidak kesakitan dan terkena gangguan-gangguan pada pembuluh darah. Dan anjuran agar berjalan tanpa alas kaki itu juga dapat mencegah berbagai macam penyakit, seperti: jantung koroner, sroke, diabitus malitus dan sebagainya. Selanjutnya pemahaman hadis tersebut secara kontekstual yang dapat diterima dari hadis tentang larangan dan kebolehan berjalan dengan satu sandal tersebut yaitu tidak dapat dipahami secara lokal dan temporal saja, melainkan harus dipahami secara universal karena illat yang terdapat pada hadiṡtersebut tidak hanya pada saat hadiṡitu datang dari Nabi Saw tetapi akan datang seterusnya selama seseorang itu berjalan dengan menggunakan satu sandal.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Additional Information: Pembimbing: Dr. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama`i, M. Ag.; Hj. Sri Purwaningsih, M. Ag.
Uncontrolled Keywords: Kritik hadits; Etika Islam
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.125 Hadits > 297.1251 Study of Text of Hadith
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Tafsir Hadis
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 25 Apr 2016 05:56
Last Modified: 25 Apr 2016 05:56
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5412

Actions (login required)

View Item View Item