Analisis pendapat Imam Malik tentang batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isterinya

Aniq, Muhammad (2015) Analisis pendapat Imam Malik tentang batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isterinya. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
112111078.pdf - Accepted Version

Download (1MB) | Preview

Abstract

Islam menjadikan ikatan perkawinan sebagai media yang sah untuk memenuhi tuntutan naluri biologis manusia. Perkawinan merupakan sarana terbaik dan jalan yang diridhai oleh Allah untuk menjaga kelangsungan hidup generasi umat manusia, serta menjaga nasab, karena Islam sangat menekankan pentingnya nasab dan melindunginya. Pergaulan suami isteri dalam kehidupan rumah tangga tidak bisa diabaikan begitu saja, apalagi yang terkait dengan hubungan badan, sebab hal itu merupakan faktor yang penting dalam kehidupan rumah tangga. Para ulama’ sepakat bahwa hukum menggauli isteri adalah wajib, sebagaimana pendapat Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isterinya. Selain Imam Malik berpendapat bahwa batas waktu tersebut adalah dua sampai empat bulan. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa tidak ada batas waktu bagi suami yang enggan menggauli isterinya. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana pendapat Imam Malik tentang batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isterinya? 2) bagaimana istinbath hukum Imam Malik tentang batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isterinya? Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research), di mana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data primer dalam penelitian ini adalah kitab al Muwaththa’ karya Imam Malik. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa menurut Imam Malik bagi suami yang mampu tapi tidak menggauli isterinya tidak ditentukan sampai kapan batas waktunya. Apabila suami pernah menggauli isterinya, meski hanya sekali, karena dengan hanya sekali, hal itu sudah dapat memberikan mahar kepada isteri. Menurut penulis, pendapat tersebut sangat bertentangan dengan bab lain, yaitu bab ila’ dalam kitab al Muwaththa’. Dalam permasalahan ila’ seorang suami diberi batas waktu sampai empat bulan, setelah sampai masa empat bulan disuruh memilih melanjutkan pernikahan atau menceraikan isterinya. Kewajiban menggauli isteri adalah sebuah langkah pencegahan akan fitnah. Oleh karena itu, seorang suami berkewajiban menggauli isterinya. Jika seorang suami enggan menggaulinya, maka isteri bisa menuntut haknya. Apabila suami menolak, maka suami dianggap nusyuz, karena tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Istinbath hukum Imam malik tentang tidak ada batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isterinya didasarkan pada hadits yang menjelaskan tentang suami yang impoten dengan menggunakan mafhum mukhalafah. Karena Imam malik tidak pernah mendengar hadits yang menjelaskan tentang suami yang pernah menggauli isterinya lalu suami tersebut tidak melakukannya lagi. Menurut penulis dalam pergaulan suami isteri mengandung unsur kemashlahatan, maka tidak ada batas waktu bagi suami yang tidak menggauli isteri tidak boleh dilakukan karena mengandung mafsadah dan mafsadah harus dihilangkan.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Hubungan suami istri
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Additional Information: Pembimbing: Drs. H. Muhyiddin, M. Ag.; Yunita Dewi Septiana, S. Ag., MA.
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 20 May 2016 07:20
Last Modified: 20 May 2016 07:20
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5555

Actions (login required)

View Item View Item