Imanensi Tuhan Menurut Ibnu Taimiyyah (Studi Purifikasi Tasawuf dalam Kitab Fatāwā Jilid XI)

Rofi'an, Noor (2012) Imanensi Tuhan Menurut Ibnu Taimiyyah (Studi Purifikasi Tasawuf dalam Kitab Fatāwā Jilid XI). Masters thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
Rofian_Tesis_Sinopsis.pdf - Accepted Version

Download (794kB) | Preview

Abstract

Salah satu aliran tasawuf yang paling banyak menimbulkan kontroversi dalam perkembangannya adalah Tasawuf Falsafi. Hal ini disebabkan karena ajaran-ajaran Tasawuf Falsafi yang memadukan antara visi mistis dan visi rasional, serta menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Konsep-konsep Tasawuf Falsafi kaitannya tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang dipraktikkan oleh para tokohnya, menurut beberapa kelompok dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Di antara konsep tersebut adalah paham Imanensi (Pantheisme) yang menganggap Tuhan adalah immanen (ada di dalam) makhluk-makhluk. Ibnu Taimiyyah yang notabene adalah seorang muhyi as-salaf yang secara normatif selalu merujuk dan berada pada kontrol al-Qur’an dan as-Sunnah. Selain itu Ibnu Taimiyyah dikenal juga sebagai tokoh pembaru pemikiran Islam klasik yang memiliki corak reformism yakni suatu pembaruan yang bercorak sintetis antara pemikiran traditional-konservatif dengan pembaruan modern-progresif dan gagasan dan pembaruan yang dilakukannya lebih bersifat puritanis. Ibnu Taimiyyah dalam salah satu karyanya Kitab Fatāwā Jilid XI membahas kaitannya dengan paham imanensi tersebut. Konsep Imanensi Tuhan dalam kitab Majmū’ Fatāwā jilid XI, menurutnya, apabila ada yang mengatakan bahwa makhluq (manusia) itu adalah berasal atau menyatu dengan Khaliq (Tuhan/Allah) atau sebaliknya, maka jelas kufur hukumnya. Karena perkataan tersebut adalah sama halnya perkataan yang dikatakan oleh kaum Nasrani, paham syi’ah rāfiḍah, dan juga para kaum sufi yang ‘bodoh’. Kemudian mengenai apa yang sebenarnya dialami oleh orang yang mengaku bersatu dengan Tuhan. Ia menjelaskan bahwa perkataan yang keluar dari orang yang mengatakan bersatu dengan Tuhan tersebut adalah perkataan pada saat seseorang sedang mengalami ketidak sadaran diri (sakr) yang tidak terkontrol oleh Ibnu Taimiyyah disamakan dengan orang yang sedang dalam keadaan mabuk/tidak sadarkan diri yang apabila mereka telah sadar dari mabuk (sakr)-nya tersebut, ia pun mengingkari akan kata-kata yang telah diucapkannya.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Tasawuf Falsafi; Mistik dalam Islam; Tuhan; Sufism; Islamic Mysticism
Subjects: 100 Philosophy and psychology > 110 Metaphysics
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.4 Sufism > 297.41 Sufi theology
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 16 Sep 2013 09:04
Last Modified: 16 Sep 2013 09:04
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/57

Actions (login required)

View Item View Item