Pemikiran Ibn Maskawih tentang jiwa

Fitriyani, Diah (2016) Pemikiran Ibn Maskawih tentang jiwa. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
114111003.pdf - Accepted Version

Download (6MB) | Preview

Abstract

Skripsi ini dilatar belakang masalah yang diteliti adalah tentang jiwa Pemahaman yang beragam dalam memahami eksistensi jiwa ini juga dalam rangka memahami kebenaran Mutlak yaitu Sang Pencipta. Maka ketika seseorang memahami dirinya–yaitu jiwa beserta seluruh yang ada pada diri manusia- maka ia akan mengenal TuhanNya. Ibn Maskawih dalam kitab Tahzib al-Akhlaq, menggambarkan bagaimana bahwa jika daya-daya jiwa manusia bekerja secara harmonis dan senantiasa merujuk pada akal dapat melahirkan perbuatan-perbuatan moral yang akan menguntungkan bagi manusia dalam kehidupannya di dunia. Stabilitas fungsi daya-daya jiwa ini pun sangat tergantung pada faktor pendidikan yang sedemikian rupa akan membentuk tata hubungan fungsional daya-daya jiwa dalam membuat keputusan-keputusan yang memang diperlukan manusia dalam merealisasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Dan oleh karena penjagaan kerja akal agar selalu berjalan sesuai dengan naturalnya merupakan prasyarat bagi perwujudan nilai-nilai moral, maka pembinaannya merupakan suatu kemestian dalam dunia pendidikan, dan dari gambaran pemikiran Ibn Maskawih, maka Sripsi ini membahas tentang Pemikiran Ibn Maskawih Tentang Jiwa. Peneliti menyimpulkan dari penelitian yang dilakukan, bahwa Konsep Jiwa menurut Ibn Maskawih ini secara umum berusaha mencoba mengungkap hal-hal penting dari pemikiran intelektual Islam klasik, bagi Ibn Maskawih, jiwa adalah jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad. Ia adalah kesatuan yang tidak terbagi-bagi. dan akan hidup selalu. Ia tidak dapat diraba dengan pancaindera karena ia bukan jisim dan bagian dari jisim. Sebagai subtansi sederhana yang tidak dapat diindera oleh salah satu alat indera. Manusia menurut Ibn Maskawih mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat- tingkat sesuai dengan urutan sebagai berikut: Al- Nafs al- Bahimiyah (nafsu kebinatangan) yang buruk, manusia mempunyai sifat-sifat; ujub (pongah), sombong, mengolok-olok, penipu dan hina dina. Al Nafs al- Sabu’iah (nafsu binatang buas) yang sedang. Al Nafs al- Nathiqah ( jiwa yang cerdas) yang baik, manusia mempunyai sifat-sifat yang adil, harga diri, berani, pemurah, benar dan cinta Sifat buruk dari jiwa telah mempunayai kelakuan berani baik, pengecut, ujub (ponggah), sombong, suka olok-olok, penipu. Pada era modern, masyarakat sedang terjadi cultural shock atau kejutan-kejutan budaya, yang di mana dalam pemikiran Ibn Maskawih, telah dijelaskan, apabila seorang manusia tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi diera modern ini, yang di mana banyak sekali pemberitaan tentang kejahatan moral di media massa, dari itu manusia secara tidak langsung sudah dapat mengira baik buruknya suatu perbuatan, dan baiknya perilaku manusia tergantung pada pengendalian jiwa manusia.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Additional Information: Pembimbing: Dr. Zainul Adzfar, M. Ag.; Tsuwaibah, M. Ag.
Uncontrolled Keywords: Jiwa; Ruh
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam > 297.22 Humankind
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Aqidah Filsafat
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 28 Sep 2016 08:40
Last Modified: 28 Sep 2016 08:40
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5833

Actions (login required)

View Item View Item