Analisis pemahaman Masdar Farid Mas’udi tentang ayat waktu pelaksanaan haji

Amrurozi, Syaeful (2016) Analisis pemahaman Masdar Farid Mas’udi tentang ayat waktu pelaksanaan haji. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
COVER.pdf - Accepted Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf - Accepted Version

Download (506kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf - Accepted Version

Download (595kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf - Accepted Version

Download (595kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf - Accepted Version

Download (772kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB IV.pdf - Accepted Version

Download (659kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf - Accepted Version

Download (234kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf - Bibliography

Download (304kB) | Preview
[img]
Preview
Text
LAMPIRAN.pdf - Supplemental Material

Download (269kB) | Preview

Abstract

Ibadah haji merupakan salah satu diantara lima rukun Islam, setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Ibadah ini menjadi satu-satunya ibadah yang hanya dapat dilaksanakan di kota Makkah, dengan ketentuan antara tanggal 8-13 Dzulhijjah. Jumlah umat muslim dunia yang setiap tahun kian meningkat, menjadikan jumlah jamaah haji setiap tahunnya pun kian bertambah. Meski perluasan masjidil haram terus dilakukan, namun tetap saja jamaah haji terus memadati kota-kota yang menjadi titik pusat pelaksanaan amalan-amalan haji. Hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah jamaah haji tak beriring seimbang dengan ketersediaan area untuk menampung para pelaku haji. Kepadatan ini berbuntut pada tragedi berdarah yang dipicu oleh tindakan saling dorong dan saling injak antar jamaah haji, hingga tragedi seperti itu terus berulang dan menjadi tidak asing lagi kita dengar. Melihat fenomena ini Masdar Farid Masudi menawarkan satu pemikiran untuk mengkaji ulang waktu pelaksanaan haji dengan dasar (Q.S. al-Baqarah; 197) “al-ḥajj asyhurun ma‘lūmāt” waktu haji adalah beberapa bulan. Dengan landasan ayat ini, Masdar Farid berpendapat bahwa ritual haji dapat dilaksanakan dalam waktu tiga bulan yakni Syawal, Dzuqa’dah dan Dzulhijjah, jadi tidak hanya pada tanggal 8-13 Dzulhijjah saja. Adapun hadis nabi yang berbunyi “khużū ‘annī manāsikakum” ambillah dariku bagaimana cara beribadah hajimu. Menurut Masdar Farid hadis ini hanyalah berlaku pada amalan-amalan yang dicontohkan oleh nabi saja, dan tidak menyangkut pada waktu pelaksanaan. Pemikiran ini tentu berbeda dengan apa yang telah berlaku selama ini, dan berbeda pula dengan pendapat para ulama lain sebelumnya. Karena pokok pemikiran Masdar Farid didasarkan pada ayat al-Qur’an, maka sangat sesuai apabila pemikiran ini dikaji menggunakan metode keilmuan tafsir. Dimana dalam proses menafsirkan suatu ayat hingga menjadi suatu hukum haruslah sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir yang ada, dan salah satunya yakni mengaitkan seluruh ayat dengan tema yang sama (munasabah ayat al-Qur’an dan metode maudu’i), hal ini bertujuan agar dapat menghasilkan penafsiran yang komprehensif dan utuh sehingga dapat menjadi landasan yang kuat bagi suatu hukum. Pengkajian atas pemikiran Masdar Farid terkait waktu pelaksanaan haji, dengan menggunakan kajian keilmuan tafsir, memperlihatkan bahwa penafsiran beliau sangat parsial, dengan runtutan penjelasan berikut: (Q.S. al-Baqarah; 197) “al ḥajj asyhurun ma‘lūmāt” masa untuk pelaksanaan haji adalah tiga bulan yankni Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah, ayat tersebut berkait erat dengan (Q.S. al-Hajj; 27-28) “wa yażkurū asmā Allah fī ayyāmin ma‘lūmāt” dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah diketahui, kemudian didukung lagi dengan (Q.S. al-Baqarah; 198) “fa iżā afaḍtum min ‘arafātin fażkurū Allah” maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah, ketiga ayat di atas diperjelas dan diperkuat dengan hadis “al-ḥajj ‘Arafah” puncak haji adalah wuqūf di Arafah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaan wuqūf sendiri dijelaskan dalam hadis “ra’aitu Rasūlullāh yakhṭubu yauma ‘Arafah ‘alā jamalin aḥmara bi ‘Arafata qabla al-ṣalāti” Aku melihat Rasulullah menyampaikan khutbah di hari Arafah di atas unta saat berada di Arafah sebelum melaksanakan shalat. Dari serangkaian runtutan ayat dan hadis tadi dapat dikehaui bahwa penyajian materi yang ditawarkan oleh Masdar Farid terlihat parsial dan terpotong. Dengan begitu pemikiran Masdar Farid ini hanya bisa dijadikan sebagai wacana pengetahuan saja, akan tetapi tidak bisa dijadikan dasar hukum ibadah.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Waktu haji; Tafsir Al-Qur'an
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1229 Individual Suras and Groups of Suras
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.3 Islamic Worship / Ibadah > 297.35 Sacred places. Pilgrims
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Tafsir Hadis
Additional Information: Pembimbing: Dr. Ahmad Musyafiq, M. Ag.; Dr. H. Muh. In’amuzzahiddin, M. Ag.
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 30 Sep 2016 03:52
Last Modified: 30 Sep 2016 03:52
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5843

Actions (login required)

View Item View Item