Etika dialog dalam Al-Qur’an (studi analisis term al-ḥiwār, al-jidāl, dan al-ḥijāj).

Afidah, Anis (2016) Etika dialog dalam Al-Qur’an (studi analisis term al-ḥiwār, al-jidāl, dan al-ḥijāj). Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
124211027.pdf - Accepted Version

Download (5MB) | Preview

Abstract

Salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia adalah kemampuan berdialog atau yang disebut juga dengan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat membantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya secara efektif, dan mempermudah untuk berdialog dengan sesamanya. Selain itu, kemampuan berdialog yang baik dan benar dapat menjadi jalan untuk mengantarkan seseorang dalam meraih kesuksesan dan akan membawa kemaslahatan bagi orang lain. Selain itu, dialog dapat memunculkan kemadlaratan, seperti jika seseorang salah dalam berdialog atau membuat orang lain terganggu, apalagi pembicaraan yang tidak baik tersebut muncul dari seseorang di pandang sebagai pejabat publik atau public figure, sebab pembicaraan yang kurang terkontrol akan menimbulkan keresahan dimasyarakat atau menyebabkan munculnya reaksi negatif terhadap dirinya. Manusia merupakan makhluk beragama dan juga makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu hidup bermasyarakat dan selalu membutuhkan peran serta pihak lain. Artinya, hidup bermasyarakat merupakan suatu yang tumbuh sesuai dengan fitrah dan kebutuhan kemanusiaan. Dalm al-Qur‟an, banyak memberikan arahan atau nilai-nilai positif yang harus dikembangkan, juga nilai-nilai negatif yang semesinya untuk dihindarkan. Karena dalam al-Qur‟an/49: 13 menunjukkan bahwa saling mengenal yang dimaksudkan itu tidak membedakan suku, ras, bahasa, kebudayaan, bahkan ideologi. Namun, pada kenyataanya manusia sebagai pembuat penilai etika (homo ethicus) sering terdapat perbedaan budaya dan etika yang dianutnya masing-masing. Sehingga dalam hal ini perlu adanya etika dalam proses dialog agar bertujuan proses dialog tersebut menjadi baik (komunikatif), dengan demikian hubungan akan terjalin secara harmonis apabila antara komunikator dan komunikan saling menumbuhkan rasa senang. Rasa senang akan muncul apabila keduanya saling menghargai dan penghargaan sesama akan lahir apabila keduanya saling memahami tentang karakteristik seseorang dalam etika yang diyakini masing-masing. Untuk memperoleh data yang representatif dalam pembahasan skripsi ini, digunakan metode kepustakaan (library research) dengan cara mencari, mengumpulkan, membaca, dan menganalisa buku-buku yang ada relevansinya dengan masalah penelitian. Kemudian diolah sesuai dengan kemampuan penulis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menegtahui etika dialog menurut Al-Qur‟an, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman oleh setiap muslim, khususnya dalam berdialog/ bercakap-cakap. Penelitian berpijak dari pemikiran bahwa setiap muslim harus berpedoman kepada Al-Qur‟an dalam merambah kehidupan di dunia. Berdialog/bercakap-cakap merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Agar setiap orang mampu berdialog secara baik dan benar yaitu dengan cara memiliki niat yang bersih dan hanya bertujuan mencari kebenaran, karena tanpa adanya suatu keniatan dari seseorang, seseorang tersebut mustahil akan mampu berdialog dengan baik dan benar. Kita ketahui bahwasanya niat merupakan suatu hal yang sangat penting, karena tanpa adanya niat, mustahil seseorang tersebut mampu melakukan hal tersebut dengan baik. Selain menumbuhkan niat yang bersih dan hanya bertujuan untuk mencari kebenaran, dialog tersebut juga akan mendatangkan kemaslahatan, baik itu di dunia maupun di akhirat. Untuk mendapatkan kemaslahatan tersebut, maka ia harus berpedoman pada etika dalam berdialog sebagaimana digariskan dalam al-Qur‟an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode secara Hermeneutik dengan menggunakan teori gerakan ganda (double movement) Fazlur Rahman yaitu pada gerakan pertama, seorang mufassir harus memahami arti atau makna suatu pernyataan tertentu dengan mengkaji situasi atau problem historis di mana pernyataan tersebut merupakan jawabannya. Sedangkan pada gerakan kedua, merupakan proses yang berangkat dari pandangan umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisaiskan sekarang. Yakni, yang umum harus diwujudkan dalam konteks sosio-historis konkret sekarang. . Dalam hal ini penulis mengambil sumber rujukan dari beberapa kitab tafsir yang diantaranya seperti: Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi. Selain itu juga penulis mengambil rujukan dan beberapa literature-literature buku yang berkaitan dengan tema yang penulis kaji. Setelah penulis memperoleh rujukan yang relevan, kemudian data tersebut disusun, dianalisa, sehingga memperoleh suatu kesimpulan. Data yang ditemukan menujukkan bahwa kata etika dalam berdialog yang banyak di temukan dalam al-Qur‟an baik yang menggunakan kata al-ḥiwār, al-jidāl, dan al-ḥijāj. Yang secara umum berkaitan erat dengan masalah etika dalam berdialog/bercakap-cakap. Setelah mengkaji ayat-ayat tersebut secara seksama, penulis dapat menyimpulkan bahwa etika dialog menurut al-Qur‟an dapat dirumuskan sebagai berikut: berdialog haruslah seseorang tersebut memiliki niat yang bersih dan hanya bertujuan untuk mencari kebenaran; berdialog maupun berdebat harus dengan cara yang terbaik (billati hiya akhsan); dan untuk tidak saling membantah antara satu sama lain.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Etika dialog dalam al-Qur’an
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Tafsir Hadis
Additional Information: Pembimbing: Mundzir, M. Ag.; Moh. Masrur, M. Ag.
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 01 Oct 2016 02:18
Last Modified: 01 Oct 2016 02:18
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5860

Actions (login required)

View Item View Item