Kisah Negeri Saba’ dalam al-Quran (studi kritis pemahaman Fahmi Basya)

Najib, Muhammad (2016) Kisah Negeri Saba’ dalam al-Quran (studi kritis pemahaman Fahmi Basya). Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
124211065.pdf - Accepted Version

Download (3MB) | Preview

Abstract

Dalam konteks keilmuan, kritik adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebab, dalam ilmu pengetahuan tidak ada yang nemanya kebenaran mutlak. Oleh sebab itu, kritik dimaksudkan untuk lebih dekat dengan kebenaran. Apalagi terkait sejarah atau kisah masa silam, tentu bukti dan sumber sejarah dapat berkembang sedemikian rupa sesuai dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini mengkaji pemahaman Fahmi Basya yang berbeda dengan pemahaman atau penafsiran dengan tafsir pada umumnya. Sehingga dalam ada beberapa hal penulis ajukan dalam penelitian ini: 1) bagaimana Pemahaman Fahmi Basya tentang ayat ayat kisah Negeri Saba’, dan 2) sejauhmana keabsahan pemahaman Fahmi Basya. Adapun skripsi ini menggunakan jenis-jenis penelitian kualitatif yang berupa library research. Sementara itu, pengumpulan data dengan cara dokumentasi, yakni buku Candi Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman karya Fahmi Basya dan juga dari berbagai sumber terkait. Pada tahap berikutnya, analisis dilakukan dengan investigasi tekstual pemahaman Fahmi Basya, yang tertera dalam buku tersebut. Secara lebih spesifik, Fahmi Basya menyodorkan 40 fakta terkait Indonesia dalah Negeri Saba’ dan Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Lebih menukik pada pembahasan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman Fahmi Basya yang berbeda dengan ulama tafsir setidak-tidaknya disebabkan oleh dua problem. Dan problem ini sekaligus menjadi latar belakang pemahaman Fahmi Basya yang berbeda itu. Pertama, problem metodologis. Orang Indonesia yang mendalami dunia kepurbalakaan berdasarkan Alquran sangat sedikit dan belum ada. Hal ini didasarkan atas fakta bahwa penafsiran atau karya tafsir Alquran di Indonesia pertama dalam bahasa Indonesia baru terbit pada tahun 1928, yakni ” Alfurqon” karya A. Hasan. Untuk itu, Fahmi Basya melakukan sebuah penelitian kepurbakalaan berdasarkan Alquran. Selain itu, Fahmi Basya juga menggunakan pendekatan matematis. Jadi, berdasarkan hitungan matematis, balok yang ada di Candi Borobudur jumlah 6348, jumlah ini sesuai dengan total ayat Alquran beserta Basmallah. Jadi setiap balok mewakili satu ayat Alquran. Kedua, problem historis. Selama ini, batu-batu yang ada di Candi Borobudur belum pernah diuji (Carbon dating). Sehingga umur Borobudur masih perlu dikaji ulang. Dengan demikian, Fahmi Basya hendak mengatakan bahwa Borobudur dan Nabi Sulaiman hidup sezaman. Berdasarkan kajian terhadap keabsahan pemahaman Fahmi Basya didapati bahwa Fahmi Basya bukan ahli arkeologi dan sejarah. Sehingga, ketika ia melakukan sebuah penelitian sejarah, kredibiltasnya patut dipertanyakan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, Fahmi Basya terlihat menggunakan metode ‘cocoklogi’. Atau terkesan lebih condong menyocokkan penemuannya dengan perkataan Alquran. Akibatnya, ia seperti menggunakan metode othak-athik gathuk. Semua yang bisa dicocokkan dihubungkan.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Kisah Negeri Saba'; Cerita dalam Al-Qur'an; Tafsir Al-Qur'an
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Tafsir Hadis
Additional Information: Pembimbing: Moh. Masrur, M. Ag.; Mundhir, M. Ag.
Depositing User: Nur Rohmah
Date Deposited: 03 Oct 2016 00:28
Last Modified: 03 Oct 2016 00:28
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/5867

Actions (login required)

View Item View Item