Efek polusi cahaya terhadap pelaksanaan rukyat (study kasus pelaksanaan rukyat di Menara al Husna Masjid Agung Jawa Tengah dan CASA Assalam Surakarta tahun 2014)

Hasan, Abdulloh (2015) Efek polusi cahaya terhadap pelaksanaan rukyat (study kasus pelaksanaan rukyat di Menara al Husna Masjid Agung Jawa Tengah dan CASA Assalam Surakarta tahun 2014). Masters thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
135212005_awal.pdf - Cover Image
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
135212005_bab1.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (686kB) | Preview
[img]
Preview
Text
135212005_bab2.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview
[img] Text
135212005_bab3.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)
[img] Text
135212005_bab4.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB)
[img]
Preview
Text
135212005_bab5.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (407kB) | Preview
[img]
Preview
Text
135212005_bibliografi.pdf - Bibliography

Download (525kB) | Preview

Abstract

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan rukyat, termasuk dalam hal pemilihan lokasi rukyat. Lokasi rukyat yang standar harus memiliki luas medan pandang 240⁰-300⁰ ke Selatan dan Utara dari titik Barat, bebas pandangan ke ufuk mar’i dan terbebas dari gangguan awan, debu, polusi udara dan cahaya lampu kota. Cahaya lampu kota menyebabkan adanya polusi cahaya yang menjadi salah satu indikator dalam pemilihan lokasi rukyat. Polusi cahaya merupakan hamburan cahaya lampu yang dihamburkan oleh atmosfer dan memiliki karakteristik tertentu serta kesamaan waktu kemunculannya menjelang atau sesudah terbenam Matahari. Selain itu, polusi cahaya sudah menjadi permasalahan global, khususnya dalam permasalahan astronomi. Hal ini yang memunculkan pertanyaan tentang apa hakikat dan penyebab polusi cahaya? Dan apa efek polusi cahaya terhadap pelaksanaan rukyat? Dalam menjawab rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan jenis penelitian field research dengan pendekatan astronomis. Adapun lokasi pengamatan yaitu, CASA Assalam Surakarta dan Menara al Husna Masjid Agung Jawa Tengah Semarang yang berlokasi di lingkungan perkotaan. Data primer adalah hasil pengamatan lapangan dalam bentuk citra foto, citra satelit dan catatan lapangan. Data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif untuk menjawab rumusan masalah dengan pola induktif. Dari hasil kajian diperoleh bahwa hakikatnya polusi cahaya merupakan peristiwa hamburan cahaya lampu yang berasal dari pemukiman penduduk oleh kandungan atmosfer berupa partikulat, aerosol dan uap air dan dihamburkan sehingga langit menjadi lebih terang. Polusi cahaya disebabkan oleh beberapa hal yaitu desain dan instalasi arah pencahayaan lampu, jumlah dan jenis lampu yang digunakan, serta kandungan kualitas udara, cuaca dan lingkungan geoggrafis tempat. CASA Assalam Surakarta memiliki tingkat polusi cahaya yang lebih rendah dari Menara al Husna Masjid Agung Jawa Tengah. Lokasi Surakarta perubahan jumlah nyala lampu meningkat pasca terbenam Matahari yang cukup signifikan terjadi pada rentang pukul 17.45-18.15 WIB. Pertumbuhan polusi cahaya di kota Semarang pada azimut 240º-270º memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dari Surakarta. Peningkatan jumlah cahaya lampu yang signifikan berlangsung mulai pukul 17.30 – 18.30 WIB. Efek dari polusi cahaya terhadap pelaksanaan rukyat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu 1). lingkungan geografis lokasi rukyat, 2). Ketinggian tempat 3). Kualitas udara dan cuaca, 4). Intensitas cahaya senja. Korelasi polusi cahaya dan cahaya senja terjadi pada kisaran pukul 18.30-18.45. Pada rentang pukul 17.30-17.40 hingga pukul 18.30-18.45, kecerahan langit didominasi oleh cahaya senja, sedangkan polusi cahaya tidak berpengaruh terhadap kecerahan langit. Banyaknya jumlah titik-titik cahaya yang muncul berpotensi menjadi pengecoh dalam pelaksanaan rukyat karena cahaya hilal yang memiliki intensitas lebih rendah dari cahaya senja dan sumber polusi cahaya. Sumber cahaya lampu akan mengurangi daya tangkap mata terhadap visibilitas hilal itu sendiri, karena kuatnya sumber cahaya lampu memiliki intensitas yang lebih kuat dari cahaya hilal.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorHambali, SlametUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Polusi cahaya; Rukyat; Hilal
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam > 297.26 Islam and secular disciplines > 297.265 Islam and natural science (Incl. Islamic Astronomy/Ilmu Falak)
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 28 Nov 2017 05:32
Last Modified: 28 Nov 2017 05:32
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/7524

Actions (login required)

View Item View Item