Analisis pendapat Imam Abu Hanifah tentang gugurnya hak fasakh istri yang meminta cerai karena suami tidak mampu memberikan nafkah

Anita, Anita (2017) Analisis pendapat Imam Abu Hanifah tentang gugurnya hak fasakh istri yang meminta cerai karena suami tidak mampu memberikan nafkah. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
12111010.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

Faktor ekonomi seringkali menjadikan rumah tangga tidak harmonis, bahkan dapat menyebabkan pertengkaran yang berlarutlarut. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat faktor kekurangan ekonomi dapat dijadikan alasan isteri untuk menggunakan hak faskh (gugatan cerai), namun berbeda halnya dengan ulama ahl al-ra’yu,Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa faktor kekurangan ekonomi tidak dapat dijadikan alasan isteri untuk menggugat cerai suaminya. Sebab tindakan tersebut jelas tidak etis dan tidak manusiawi, tindakan tersebut juga memperlihatkan tidak adanya rasa kebersamaan isteri di kala suami sedang dalam keadaan miskin. Oleh karena itu, penulis tertarik membahas pendapat Imam Abu Hanifah tersebut untuk penulis sajikan dalam bentuk skripsi. Tidak hanya dengan memaparkan pendapat beliau, penulis juga mencoba memaparkan metode istinbāṭ apa yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan teknik dokumentasi. Setelah mendapatkan data yang diperlukan, maka data tersebut penulis analisis dengan metode analisis deskriptif-kualitatif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Imam Abu Hanifah berpendapat, manakala seorang suami tidak mampu memberikan nafkah, maka isteri tidak diperkenankan menggunakan hak fasakhnya untuk menggugat cerai suaminya. Seorang suami yang tidak mampu meberikan nafkah kepada isterinya bisa jadi karena dua hal, pertama: karena enggan atau tidak mau bertanggunga jawab sebagi seorang suami padahal ia mampu, kedua: kondisi suami memang sedang dalam keadaan miskin, sehingga suami belum mampu memberikan nafkah kepada isterinya, meliputi kebutuhan hidup “makanan” sandang dan tempat tinggal. Imam Abu Hanifah beralasan, tidak diperkenankannya isteri menggunakan haknya (faskh) karena pertama, kewajiban suami hannya memberikan nafkah menurut kemampuannya, kedua, suami masih diberikan kesempatan untuk mencari nafkah sehingga dapat kembali memenuhi nafkah isterinya, isteri diharapkan bersabar. Jadi bukan lantas isteri langsung menggunakan haknya, yaitu berupa gugatan cerai karena ketidakmampuan suami tersebut. Hal tersebut senada dengan ungkapan al-Qur‟an dalam suarh al-Thalaq ayat 7: hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkahdari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memeberikan kelapangan sesudah kesempitan. Alasan lain, yaitu istihsan “yaitu metode penetapan hukum dengan menganggap sesuatu dipandang baik dengan pertimbangan moral, etis dan kemaslahatan sosial”. Tujuan pernikahan itu sendiri adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, sakinah, mawaddah, dan wa rahmah. Maka dari itu apabila isteri dibenarkan menggugat cerai suaminya karena alasan kemiskinan, sungguh merupakan tindakan yang tidak etis. Rasa kebersamaan seorang isteri jelas tidak nampak di saat-saat suami sedang dalam keadaan kesulitan ekonomi.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorBudiman, Achmad AriefUNSPECIFIED
Thesis advisorShoim, MuhammadUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Hak istri; Fasakh; Nafkah; Perceraian
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Mohamad Akyas
Date Deposited: 02 May 2018 02:07
Last Modified: 02 May 2018 02:07
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/7692

Actions (login required)

View Item View Item