Analisis pemikiran Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah tentang penggunaan qarinah dalam pembuktian jarimah qiṣaṣ-diyat

Mulyati, Sri (2017) Analisis pemikiran Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah tentang penggunaan qarinah dalam pembuktian jarimah qiṣaṣ-diyat. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
122211086.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Ada perbedaan pendapat dalam pembuktian Jarīmah qiṣāṣ-diyat antara Ibnu Qayyim dengan jumhūr ulamā‟ tentang qarīnah. Perbedaan tersebut tercantum dalam kitab al-Tasyrī’ al-Jināī al-Islāmī karya Abdul Qādir „Audah, bahwa menurut Ibnu Qayyim untuk pembuktian qiṣāṣ-diyat itu menggunakan 4 alat bukti yaitu pengakuan, persaksian, al-qasamah, dan qarīnah. Sedangkan menurut jumhūr ulamā‟ bahwa untuk pembuktian jarīmah qiṣāṣ-diyat dapat digunakan tiga cara (alat) pembuktian: pengakuan, persaksian, dan al-qasamah. Perbedaan pendapat antara para ulamā‟ hanya terdapat dalam alat bukti qarīnah, meskipun alat bukti yang paling kuat sebenarnya hanya ada dua, yaitu pengakuan dan persaksian. Berdasarkan perbedaan pendapat itulah yang membuat penulis tertarik untuk membahas pemikiran dari Ibnu al-Qayyim al-Jaūziyyah tentang qarīnah. Penelitian ini berawal dari keinginan penulis untuk: (1) mengetahui bagaimana Pemikiran dan Dasar Hukum Ibnu al-Qayyim al-Jaūziyah tentang Qarīnah (2) mengetahui mengapa Ibnu al-Qayyim al-Jaūziyyah menggunakan Qarinahdalam Pembuktian Jarīmah Qiṣāṣ-Diyat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan termasuk penelitian pustaka (library research), sehingga bahan pustaka merupakan sumber utama. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan buku-buku (referensi) yang berkaitan dengan pembahasan. Dan penelitan ini dianalisis dengan menggunakan content analisys yaitu analisis tentang isi pesan atau komunikasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Qarīnah adalah tanda-tanda yang merupakan hasil kesimpulan hakim dalam menangani berbagai kasus melalui ijtihad. Dasar hukum qarīnah terdapat pada QS. An-Naḥl:15-16 dan HR. At-Ṭirmiḍzi. Menurut Ibnu Qayyim bahwa seorang hakim tidak menghukumi dengan berdasarkan petunjuk-petunjuk yang tidak mengarah pada kebenaran dan menegakkan kebatilan. Apabila dipublikasikan dan dijadikan alasan dengan tanpa meletakkan syarī‟at Islam akan terjadi bermacam-macam penganiayaan dan kerusakan. qarīnah ini sangat bergantung kepada kecerdasan hakim dalam menangkap bukti-bukti tersembunyi dalam rangka menemukan kebenaran. (2) Alasan Ibnu Qayyim menggunakan qarīnah dalam pembuktian Jarimah Qiṣāṣ-Diyat yaitu telah dipraktekkan pada masa sebelum Rasūlullāh saw, yakni dalam kisah dua anak Afra yang bersengketa dalam penentuan siapa pembunuh diantara keduanya. Pemikiran Ibnu al-Qayyim menggunakan qarīnah dalam pembuktian jarīmah qiṣāṣ-diyat dilandasi dengan dalil syara‟. Ḥujjah yang digunakan dalam firman Allah QS. al-Ḥijr:75, QS. Muḥammad:30 dan ḥadīṡ marfū‟ dari kitab Jamī’ At-Ṭirmiḍzi.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorRokhmadi, RokhmadiUNSPECIFIED
Thesis advisorKhoir, TolkhatulUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Pembuktian; Jarīmah; Qiṣāṣ-Diyat; Qarīnah
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam > 297.27 Islam and social sciences > 297.272 Islam and politics, fundamentalism
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Jinayah Siyasah
Depositing User: Mohamad Akyas
Date Deposited: 03 May 2018 05:11
Last Modified: 03 May 2018 05:11
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/7709

Actions (login required)

View Item View Item