Sifat harta pengganti (iwad) dalam khuluk : studi komparatif pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i

Zarkoni, Muhammad (2017) Sifat harta pengganti (iwad) dalam khuluk : studi komparatif pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
132111084.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Ulama madzhab mempunyai pemikiran yang berbeda tentang sifat harta pengganti (Iwad) dalam khuluk. Jika suatu kajian mengenai Iwad menarik diteliti secara komparatif antara dua Imam madzhab dengan latar belakang yang berbeda, karena berdasarkan asumsi penulis bahwa perubahan masa dari Imam madzhab sampai dengan masa sekarang tentu akan menimbulkan perubahan eksistensi suatu hukum. Imam Malik berpendapat terkait sifat harta pengganti (Iwad), boleh menggunakan barang yang belum jelas (qharar) dan ia tidak membatasi besaran barangnya, serta membolehkan seorang istri menggunakan segala barang yang dimiliki sebagai penebus dirinya. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa sifat harta pengganti harus diketahui atau harus jelas barangnya dan ia tidak membolehkan Iwad berupa barang yang belum jelas. Dari latar belakang tersebut penulis rumuskan masalah sebagai berikut, yaitu: 1. Bagaimana pendapat istinbat} hukum Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang sifat harta pengganti dalam khuluk, 2. Bagaimana relevansi pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang sifat harta pengganti (Iwad) dalam khuluk dengan konteks hukum di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), teknik pengumpulan data yang digunakan adalah secara dokumentatif. Sumber data primernya yaitu: kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i dan kitab Al-Muwaththa’ karangan Imam Malik. Adapun metode pendekatan yang penulis gunakan adalah metode pendekatan penelitian hukum normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka belaka, atau disebut juga penelitian kepustakaan. Untuk menganalisa data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis, dan metode analisis komparatif. Hasil analisis dari penelitian ini menggambarkan bahwa menurut Imam Malik terkait sifat harta pengganti (Iwad) dalam khuluk yang notabennya ahli hadits dasar penetapa hukumnya adalah hadis, sedangkan Imam Syafi’i karena semasa hidupnya sering berpindah-pindah, beliau lebih banyak bersentuhan dengan kompleksitas budaya, maka dalam pendapatnya tentang sifat harta pengganti (Iwad) dalam khuluk ini lebih dipengaruhi oleh qiyas, yakni menganalogikan pendapat dengan suatu kasus tertentu yang terjadi di beberapa tempat di mana beliau pernah tinggal. Kemudian berdasarkan pengamatan penulis diantara pendapat para Imam Madzab tersebut, pendapat Imam Syafi’i lebih tepat dan relevan dengan konteks hukum di Indonesia.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorHapsin, AbuUNSPECIFIED
Thesis advisorSeptiana, Yunita DewiUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Harta pengganti; Iwad; Khuluk
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Mohamad Akyas
Date Deposited: 07 May 2018 00:56
Last Modified: 07 May 2018 00:56
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/7724

Actions (login required)

View Item View Item