Hak istri yang tertalak ba’in kubro dan tidak dalam keadaan hamil : analisis komparatif pendapat Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal

Winarto, Hadi (2017) Hak istri yang tertalak ba’in kubro dan tidak dalam keadaan hamil : analisis komparatif pendapat Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
132111095.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (2MB) | Preview

Abstract

Talak menurut Syara’ ialah nama untuk melepaskan tali ikatan nikah Dalil-dalil tentang talak adalah berdasarkan al-Kitab, as-Sunnah, dan Ijma’ ulama’. Talak ba’in kubra> adalah talak yang tidak memungkinkan suami rujuk kepada mantan istrinya. Dia hanya boleh kembali kepada istrinya setelah istrinya kawin dengan laki-laki lain, telah melakukan hubungan suami istri dan bercerai pula dengan laki-laki itu serta telah habis masa ‘iddahnya. selain itu Perempuan yang menjalani ‘iddah talak ba’in kubra>, jika ia dalam keadaan hamil maka ia akan mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Akan tetapi bila dalam keadaan tidak hamil, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama maz\hab. Dari perbedaan pendapat inilah penulis tertarik untuk meniliti lebih dalam mengenai hak seorang istri yang tertalak ba’in kubra dan dalam keadaan tidak hamil menurut pendapat Imam as-Syafi’i dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang mana pendapat Imam Ahmad telah diterapkan dalam KHI Indonesia Pasal 149 ayat (b) yang menyebutkan “mantan suami wajib memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada mantan istri selama dalam ‘iddah kecuali mantan istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil”. Adapun metode penelitian dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode penelitian hukum. Adapun jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari data primer berupa Kitab al-Umm dan Musnad Imam Ahmad dan data sekunder berupa kitab-kitab lain yang mendukung. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan teknik literatur. Setelah mendapatkan data yang diperlukan, maka data tersebut dianalisis dengan metode analisis komparatif. Hasil analisis yang penulis lakukan menghasilkan kesimpulan bahwa Pendapat Imam asy-Sya>fi’i lebih kuat untuk dijadikan rujukan hukum tentang hak istri yang tertalak ba’in dan dalam keadaan tidak hamil dibanding dengan pendapat Imam Ahmad, yaitu wanita yang tertalak ba’in kubra> dan dalam keadaan tidak hamil akan mendapatkan maskan selama massa ‘iddahnya. Adapun Imam asy-Sya>fi’i dalam beristinbat} untuk menghasilkan hukum dalam permasalahan ini, dia menggunakan nas al-Qur’an, dan Hadis yang sanadnya terdiri dari orang-orang yang terpercaya hal ini penulis ketahui melalui al-Jarh}u wa at-Ta’dil . Sedangkan dalil yang digunakan Imam Ahmad menurut penulis kurang kuat untuk dijadikan rujukan, karena dalam dalil-dalil yang digunakan olehnya, seperti dalil al-Qur’an yang ditaqyid-i oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ishaq bin Ibrahim, namun hadis tersebut banyak diingkari,diantaranya oleh Umar, Aisyah, Marwan dan Sa’id bin Musayyab.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorRumaningsih, EndangUNSPECIFIED
Thesis advisorLathifah, AnthinUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Talak Ba’in Kubra; Hak Istri
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice > 297.57 Religious experience, life, practice > 297.577 Marriage and family life
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ahwal Syakhsiyyah
Depositing User: Mohamad Akyas
Date Deposited: 01 Aug 2018 03:46
Last Modified: 01 Aug 2018 03:46
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/8064

Actions (login required)

View Item View Item