Yaum al-Nahsi يوم النحس menurut penafsiran al-Baghawiy dalam tafsir Ma’alim at-Tanzil

Kurniawati, Umi (2018) Yaum al-Nahsi يوم النحس menurut penafsiran al-Baghawiy dalam tafsir Ma’alim at-Tanzil. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
134211130.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (4MB) | Preview
[img]
Preview
Text
134211130.pdf

Download (4MB) | Preview

Abstract

Adanya sebuah anggapan bahwa ada hari tertentu yang dianggap sebagian orang sebagai يوم النحس, yang biasa mereka sebut sebagai rebo wekasan. Al-Qur’an sendiri telah menjelaskan mengenai يوم النحس tersebut yaitu terdapat pada surat al-Qamar: 19, al-Fushshilat: 16, dan al-Haqqah: 7. Sedangkan salah satu tokoh mufassir yaitu Imam al-Baghawi mengatakan di dalam kitab tafsirnya ma’alim al-tanzil bahwa hari sial tersebut terjadi pada hari rabu setiap akhir bulan. Maka dengan adanya penafsiran seperti itu seolah-olah pendapat beliau bertolak belakang dengan firman Allah yang menyatakan bahwa dalam semua ciptaan-Nya tidaklah ada yang sia-sia. Jadi apa-apa yang telah diciptakan oleh Allah semuanya mengandung suatu kemanfaatan. Adapun pembahasan yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penafsiran al-Baghawi tentang يوم النحس dalam tafsir ma’alim at-tanzil, dan bagaimana makna يوم النحس dalam tinjauan kebahasaan? Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian tersebut yakni Tafsir Ma’alim at-Tanzil karya Imam al-Baghawi. Adapun sekundernya adalah data penunjang yang bukan primer dan yang berkaitan dengan penafsiran surat al-Qamar: 19, al-Fushshilat: 16, dan al-Haqqah: 7 dalam kitab-kitab tafsir yang lain. Metode analisis yang akan digunakan yaitu metode deskriptif analisis. Hasil dari penelitian ini penulis menemukan beberapa kesimpulan yaitu pertama, bahwa pernyataan Imam al-Baghawi yang mengatakan bahwa يوم النحس terjadi pada hari rabu setiap akhir bulan. Namun pendapat beliau tersebut menggunakan lafad Qīla, artinya pendapat tersebut lemah. Serta hadis yang menerangkan tentang hari rabu adalah يوم النحس setelah penulis teliti ternyata juga bernilai maudhu’ disebabkan sanadnya lemah diantaranya ada yang tertuduh berdusta. Serta matan hadisnya bertentangan dengan hadis shahih bukhari dan hadis dalam sunan abi dawud. Kedua, makna يوم النحس yang terdapat di dalam al-Qur’an tidak bermakna hari sial pada hari tertentu, tetapi hari pada saat kaum ‘Ad itu mendapat adzab berupa angin topan. Namun bukan harinya yang dikatakan sial, akan tetapi waktu dimana kaum tersebut mendapatkan adzab. Jadi anggapan bahwa hari rabu adalah hari sial setiap akhir bulan hal tersebut adalah tidak benar, karena semua hari adalah netral tidak mengandung keburukan dan hadisnya dikatakan tidak bisa dijadikan hujjah serta tidak dapat di jadikan pegangan dalam hukum syara’.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorZuhad, ZuhadUNSPECIFIED
Thesis advisorMusyafiq, AhmadUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Yaum al-Nahs; Tafsir Al-Qur'an
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1229 Individual Suras and Groups of Suras
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir (Tafsir Hadis)
Depositing User: Mohamad Akyas
Date Deposited: 03 Sep 2018 09:26
Last Modified: 03 Sep 2018 09:26
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/8200

Actions (login required)

View Item View Item