Motivasi peziarah ritual watu bobot : ditinjau dari teologi Islam

N.M, Luluk Atun (2017) Motivasi peziarah ritual watu bobot : ditinjau dari teologi Islam. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
124111023.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (4MB) | Preview

Abstract

Ritual Watu Bobot merupakan tradisi kebudayaan Jawa dan keberadaannya sudah ada sejak lama, sampai sekarang perkembangannya mengalami kemajuan yang pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari tatanan bangunan yang baru dan tentunya lebih bagus dan banyak pengunjung yang datang berwisata maupun orang yang datang untuk berziarah, peziarah yang datang berasal dari berbagai penjuru tanah air. Kebanyakan ritual dilakukan pada saat malam jum‟at kliwon, Peziarah watu bobot kebanyakan mereka yang sebelumnya melakukan ritual ziarah di Kadilangu Demak. Jika cocok batu akan terasa ringan, tetapi jika tidak cocok maka batu akan terasa berat bahkan kadang tidak dapat bergeser dari tempatnya. Percaya atau tidak, semua tergantung dari masing-masing. Tuhan menciptakan benda-benda di alam pasti ada manfaatnya untuk kehidupan manusia. Penulisan skripsi ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (Field Research) yang bertempat di Dukuh Mrapen Kelurahan Manggarmas Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi dan data primer dan data sekunder diambil dari buku-buku yang relevan. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos Watu Bobot yang dipercayai oleh masyarakat Mrapen, tidak hanya cerita belaka. Mereka meyakini mitos tersebut karena mengalami fakta secara langsung. Percaya adanya mitos dibalik ritual Watu Bobot tidak salah, tetapi hanya sebatas tanda atau peringatan dari Yang Maha Kuasa. Kebudayaan dan pengaruh adanya Ritual Watu Bobot dapat dilihat dari pelaksanaan ziarah di desa Mrapen, dimana kebanyakan pelaksanaan ziarah dilakukan ketika bulan sura atau setiap malam jum’at kliwon kemudian mengikuti arahan yang diberikan oleh juru kunci dan sambil menabur bunga dengan posisi duduk bersila, mengucapkan do‟a dan berserah diri kepada Allah kemudian batu tersebut diangkat. Kemudian dapat dilihat dari motivasi peziarah dalam melakukan ritual (Watu Bobot) dan motivasi tersebut dilatar belakangi oleh dua hal yaitu; pertama Lingkungan dari peziarah sehingga mendorong melakukan ziarah, kedua Kesalihan Sunan Kalijaga sehingga mendorong peziarah melakukan ziarah, dan yang ketiga Dorongan dari keluarga, atau teman dari peziarah sehingga mendorong melakukan ziarah. Yang terakhir dapat dilihat dari motivasi ditinjau dari teologi islam yang menjelaskan bahwa meminta pertolongan melalui batu, pohon atau benda-benda yang dikeramatkan semua itu adalah perbuatan syirik. Jika hendak meminta pertolongan maka hanyalah kepada Allah tempat meminta karena Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan cara melakukan shalat lima waktu dalam sehari semalam dan didukung ibadah wajib serta sunnah lainnya.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorAnsori, BahroonUNSPECIFIED
Thesis advisorAs'ad, AslamUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Motivasi; Ziarah; Ritual; Teologi Islam
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.3 Islamic Worship / Ibadah > 297.39 Other Practices (Incl. Halal Food, Syirik, Munafiq)
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Mohamad Akyas
Date Deposited: 17 Sep 2018 08:00
Last Modified: 17 Sep 2018 08:00
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/8246

Actions (login required)

View Item View Item