Al-Qabḍ wa al-basṭ dalam nalar ‘ulūm Al-Qur’ān menurut Abdul Karim Soroush

Mutma'inah, Mutma'inah (2017) Al-Qabḍ wa al-basṭ dalam nalar ‘ulūm Al-Qur’ān menurut Abdul Karim Soroush. Masters thesis, UIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
1400018073_Tesis.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Abdul Karim Soroush adalah salah satu tokoh pasca-revolusi yang sangat berpengaruh dan aktif memberikan kritik baik kepada pemerintahan maupun tradisi keagamaan di Iran. Dengan teori kritik epistemologinya al-qabḍ wa al-basṭ ia membedakan antara agama dan ilmu keagamaan. Bahwa agama mempunya sifat sakral, konstan dan tidak dapat berubah. Sedangkan ilmu keagamaan sama seperti ilmu pengatahuan yang merupakan produk manusia yang bersifat profan, tidak tetap dan pasti berubah. ‘Ulūm al-Qur’ān yang termasuk ilmu pengetahuan yang diproduksi manusia pastilah mengalami al-qabḍ wa al-basṭ dari waktu ke waktu sesuai dengan al-qabḍ wa al-basṭ yang dialami oleh setiap ulama. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab: (1) Apa yang dimaksud dengan teori al-qabḍ wa al-basṭ? (2) Bagaimana implementasi teori al-qabḍ wa al-basṭ terhadap ulūm al-Qur’ān ? (3) Bagaimana implikasi teori al-qabḍ wa al-basṭ terhadap ‘ulūm al-Qur’ān? Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, teori al-qabḍ wa al-basṭ dengan menggunakan prinsip korespondensi dan koherensi, interpenetrasi dan evolusi menunjukkan bahwa ilmu-ilmu keagamaan tidak bisa terlepas dari sifat-sifat manusiawi, terkait dengan ilmu-ilmu pengetahuan lain dan bisa berubah. Kedua, aplikasi teori al- qabḍ wa al-basṭ dalam proses pewahyuan membawa Soroush pada kesimpulan bahwa al-Qur’an “boleh salah” karena pengaruh pengalama keagamaan dan pengetahuan Nabi. Sedangkan aplikasinya kepada tema-tema kajian ‘ulūm al-Qur’ān menunjukkan bahwa tidak ada kesepakatan dalam pemahaman tentang asbāb al-nuzūl dan penetapan muḥkamāt-mutasyābihāt karena dipengaruhi oleh faktor ekstra-religius mufassir. Ketiga, sebagai implikasinya maka pluralisme pemahaman menurut Soroush adalah sebuah keniscayaan. Baik itu pemahaman sebagai sebuah proses maupun produk. Bahkan Soroush menolak adanya klaim kebenaran final. Karena menurut Soroush interpretasi dan pemahaman adalah proses tanpa akhir dan bahwa tujuan sebenarnya pewahyuan adalah usaha yang dilakukan manusia secara kolektif ABSTRACT: Abdul Karim Soroush was one of most prominent of post-revolution scholars in Iran. He was active critize the Shi’ite goverment and tradition. By his theory of epistemological criticism and hermeneutic - al-qabḍ wa al-basṭ- he distingueshed between religion and religion knowledge. Religion was had sacred, constant and immutable nature. While religious knowledge was as the science of knowledge which is a human product that is profane, not fixed and definitely changeable. ‘Ulūm al-Qur’ān is one of religion knowledge which produced by human experienced al-qabḍ wa al-basṭ time to time following al-qabḍ wa al-basṭ of other extra-religious knowledge of human. This research is intended to answer : (1) What is al-qabḍ wa al-basṭ theory? (2) How is the implementations of al-qabḍ wa al-basṭ theory towards ‘ulūm al-Qur’ān ? (3) What is the implications of al-qabḍ wa al-basṭ application towards ‘ulūm al-Qur’ān? The resluts of this research shows that: first, al-qabḍ wa al-basṭ theory by using the principles of correspondent and coherent, interpenetration and evolution shows that the religion knowledge can not be separated from human nature (and interest), relating to other sciences and changeable. Second, the application of al- qabḍ wa al-basṭ theory in the context of revelation drives Soroush to conclude tha al-Qur’an can be fallibility because it is under influences of Prophet religious experiences and knowledges. While its application to the themes of ‘ulūm al-Qur’ān study shows that there is no such as agreement in the understanding of asbāb al-nuzūl and determination of muḥkamāt-mutasyābihāt. They were influenced by extra-religious factors of the interpreter. Third as its implication, in Soroush opinion that the pluralism of understanding is absolute. Both understanding as the process or product. Even Soroush rejected the existence of final truth. It is because according to Soroush the interpretation and understanding is unfinish process and the true aim of revelation is the collective effort of human to it.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorAdzfar, ZainulUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Pengalaman keagamaan; Religious experience; Pluralisme; Hermeneutika; Tafsir Al-Qur'an
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 204 Religious experiences, life, practice
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1229 Individual Suras and Groups of Suras
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 05 Oct 2018 01:53
Last Modified: 05 Oct 2018 01:53
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/8384

Actions (login required)

View Item View Item