Studi Pemikiran Waris Muhamad Syahrūr

Ulin Nuha, Muhammad (2011) Studi Pemikiran Waris Muhamad Syahrūr. Masters thesis, IAIN Walisongo.

[img]
Preview
Text
UlinNuha_Tesis_Sinopsis.pdf - Accepted Version

Download (1MB) | Preview

Abstract

Muhamad Syahrur merupakan salah satu tokoh pemikir keislaman internasional yang banyak mendapat perhatian umat muslim karena pemikirannya berbeda dengan tokoh pemikir lainnya. Perbedaan ini berangkat dari corak serta gaya metode yang dilakukan oleh pria kelahiran Damaskus dalam melakukan Istinbat al-hukm untuk menyelesaikan problematika yang dihadapi umat Islam. Persoalan yang mendapat sorotan Muhamad Syahrur salah satunya adalah masalah kewarisan. Konsep kewarisan yang telah berlaku selama berabad-abad ini, direkonstruksi oleh Muhamad Syahrur melalui teori limit yang dikembangkannya. Sehingga hasil Istinbat yang dilakukannya berbeda dengan mainstrem pemikiran ulama lainnya. Hal yang membedakan antara hasil Istinbat yang dilakukan oleh Muhamad Syahrur dengan ulama fikih lainnya adalah posisi laki-laki dan perempuan. Mayoritas ulama fikih menempatkan posisi laki-laki sebagai pengubah, sehingga dia lebih dominan dalam memperoleh bagian, sedangkan perempuan sebagai pengikut. Ditangan Muhamad Syahrur kondisi ini dibalik, yaitu perempuan menempati posisi sebagai variable pengubah, sedangkan laki-laki menempati posisi sebagai variable pengikut. Sehingga tidak ada dominasi bagian yang diperoleh antara laki-laki dan perempuan. Untuk memudahkan penelitian ini, maka penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Metode ini digunakan untuk menelaah persoalan kewarisan yang ditawarkan oleh Muhamad Syahrur yang terangkum dalam kitabnya sebagai sumber primer, yaitu Nahw Ushûl Jadidah li al-Fiqh al-Islami. Dalam merekonstruksi persoalan kewarisan, Muhamad Syahrur menerapkan teori limit yang terdapat pada ayat-ayat yang menjelaskan tentang kewarisan, yaitu: 1. Li azzakari misl hazz al-unsayain, batasan ini menunjukkan bahwa jatah laki-laki sebesar dua kali lipat dari yang diterima perempuan hanya dalam satu kasus, yaitu ketika adanya dua perempuan berbanding dengan satu laki-laki. 2. Fa in kunna nisā fauqa isnataini fa lahunna sulusā mā taraka, batasan ini berlaku ketika jumlah antara perempuan dan laki-laki bukan dalam wilayah himpunan, misalnya satu laki-laki dengan tiga orang perempuan. 3. Wa in kānat wāhidah fa lahā an-nisfu, batasan ini diberlakukan ketika ahli warisnya hanya satu orang laki-laki da satu orang perempuan. Hal inilah yang memberikan gambaran bahwa konsep-konsep kewarisan yang dikembangkan oleh ulama fikih klasik sama sekali tidak dipakai oleh Muhamad Syahrur dalam mengkonstruk pemikirannya tentang sistem kewarisan Islam.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Waris dalam Islam; Inheritance in Islam
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.5 Islamic ethics, practice
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 26 Sep 2013 03:46
Last Modified: 26 Sep 2013 03:46
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/85

Actions (login required)

View Item View Item