Analisis hadiṡ tentang mewarnai rambut Rasulullah SAW : kajian tematik

Muna, Siti Nailul (2018) Analisis hadiṡ tentang mewarnai rambut Rasulullah SAW : kajian tematik. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo Semarang.

[img]
Preview
Text
134211010.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Mewarnai rambut dalam sejarahnya tidak hanya dilakukan oleh manusia di era modern saat ini, tetapi juga telah dilakukan oleh umat manusia empat ribu tahun silam. Oleh karenanya, anak-anak hingga dewasa tidak mau kalah dengan adanya trend ini. Pribadi Nabi sangat penting untuk dipelajari dan diteladani. Baik sebagai manusia biasa maupun sebagai pemimpin umat. Sebagai manusia biasa ketika sudah menua, rambut Nabi SAW juga beruban. Meski jumlahnya tidak banyak. Mewarnai rambut dalam Islam dianjurkan ketika rambut seseorang telah beruban, dan tidak terlihat rapi saat dibiarkan tidak diwarnai. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menganalisis hadiṡ tentang mewarnai rambut Rasulullah SAW dan bagaimana kontekstualisasinya dalam kondisi sosio-kultural saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research) dengan menggunakan metode tematik, dengan cara menetapkan masalah yang akan dibahas (topik pembahasan), menghimpun hadiṡ-hadiṡ yang berkaitan dengan masalah tersebut, menakhrij hadiṡ-hadiṡ tersebut untuk mengetahui kualitas, kuantitas, dan kehujjahannya, memilih hadiṡ-hadiṡ yang memiliki kualitas dan kuantitas hadits yang dapat dijadikan hujjah, memahami hadiṡ-hadiṡ tersebut dengan syarahnya, menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (out line), melengkapi pembahasan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan pokok bahasan (bila diperlukan), dan menarik kesimpulan makna yang utuh dari hasil analisis terhadap hadiṡ-hadiṡ tersebut. Selanjutnya, hasil yang diperoleh adalah (1) Rasulullah SAW dalam kesibukannya sebagai seorang Nabi (Rasul) pemimpin negara juga pemimpin rumah selalu menjaga kesehatan rambutnya dengan ragam cara; mencuci, menyisir, merapikan, memberinya minyak rambut dan sebagainya. Rasulullah SAW tidak mewarnai rambutnya. Jika Rasulullah pernah terlihat rambutnya memerah itu bukan karena zat pewarna rambut, namun karena sering memakai minyak rambut sehingga berubah menjadi kemerah-merahan seperti menggunakan pewarna rambut; (2) Hadiṡ tentang mewarnai rambut Rasulullah tidak bisa hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga harus dipahami secara kontekstual. Kontekstualisasi dari pemahaman hadits tentang mewarnai rambut Rasulullah ini tergantung dua hal : jika budaya lingkungan masyarakat (Indonesia) mewarnai (menyemir uban) atau tidak mewarnai, maka keluar dari kebiasaan itu makruh; dan jika ini berbeda kondisinya tergantung kebersihan uban. Jadi siapa yang ubannya dalam keadaan bersih (tanpa pewarna) tampak lebih bagus, maka tidak mewarnainya adalah lebih utama, sedangkan yang ubannya tidak bersih maka diwarnai adalah lebih utama.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorMuhtarom, MuhtaromUNSPECIFIED
Thesis advisorMasruri, Ulin Ni'amUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Hadis; Mewarnai rambut; Kajian tematik
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.125 Hadits > 297.1251 Study of Text of Hadith
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir (Tafsir Hadis)
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 23 Mar 2019 09:04
Last Modified: 23 Mar 2019 09:04
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9191

Actions (login required)

View Item View Item