Żarrah dalam perspektif mufassir dan sains

Isnanto, Ginanjar (2018) Żarrah dalam perspektif mufassir dan sains. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo Semarang.

[img]
Preview
Text
134211125.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang tiada tandingannya dan mempunyai kata yang sarat makna. Dengan kata lain, bahwa penggunaan suatu kata dalam al-Qur’an memiliki makna yang bervarian dan semakin tajam. Dalam penelitian, peneliti mengkaji lafal Żarrah, lafal tersebut berada di empat surah dalam al-Qur’an, yaitu surah Yunus ayat 61, surah Saba’ ayat 3 dan ayat 22, surah an-Nissa’ ayat 40, dan surah az-Zalzalah ayat 7 dan 8. Zaman dulu masyarakat Arab mengartikan lafal Żarrah dengan semut kecil atau biji sawi. Setelah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, lafal Żarrah di era modern sekarang diartikan dengan sesuatu yang paling ringan atau kecil (atom). Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui makna lafal Żarrah yang terdapat di dalam al-Qur’an. Untuk itulah pada penelitian ini terfokus dengan judul “ŻARRAH DALAM PERSPEKTIF MUFASSIR DAN SAINS”.Adapun penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir ilmi. Yaitu memahami al-Qur’an melalui pendekatan sains modern. Dengan sumber primernya adalah al-Qur’an, sedangkan untuk sumber sekundernya kitab-kitab tafsir dan buku-buku sains. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan pendekatan ilmu sains modern. Adapun penelitian ini mempunyai beberapa hasil yang membuktikan bahwa: Pertama, pemaknaan lafaz Żarrah dari awal mufassir klasik sampai mufassir modern mengalami transformasi makna dari waktu ke waktu. Żarrah menurut mufassir klasik dimaknai biji sawi, semut sedangkan Żarrah menurut mufassir modern dimaknai atom, sehingga transformasi makna Żarrah tersebut harus diberlakukan dan diindahkan sampai ditemukannya makna baru dari lafal Żarrah. Kedua, pemaknaan kata Żarrah yang dilakukan oleh para mufassir memicu para pakar ilmu sains untuk menemukan benda terkecil didunia dan hasil dari penemuan mereka adalah atom. Pada era mufassir klasik Żarrah dimaknai biji sawi, semut sedangkan era mufassir modern Żarrah dimaknai atom. Penemuan tersebut akhirnya digunakan oleh mufassir modern untuk mengartikan kata Żarrah. Namun penemuan benda terkecil ditemukan kembali dalam partikel atom tersebut.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorMasrur, Moh.UNSPECIFIED
Thesis advisorMuhtarom, MuhtaromUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Zarrah; Mufassir; Alquran dan sains; Ahli tafsir; Tafsir Alquran
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1228 Nonreligious subjects treated in the Al-Quran
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir (Tafsir Hadis)
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 23 Mar 2019 12:02
Last Modified: 23 Mar 2019 12:02
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9201

Actions (login required)

View Item View Item