Etika mengkritik penguasa dalam al-Quran : studi analisis penafsiran Quraish Syihab dan Buya Hamka dalam Q.S Thaha ayat 43-48

Azhar, Iik Burhanuddin (2018) Etika mengkritik penguasa dalam al-Quran : studi analisis penafsiran Quraish Syihab dan Buya Hamka dalam Q.S Thaha ayat 43-48. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo Semarang.

[img] Text
1404026073.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Permasalahan etika secara umum merujuk pada baik buruknya perilaku manusia. Etika juga diartiakan sebagai perangkat aturan moral yang membedakan apa yang benar dan apa yang salah dari macam-macam tingkah dan prilaku manusia. Kritik sangat berperan penting dalam mengubah suatu kondisi agar menjadi lebih baik dan lebih maju dari keadaan sebelumnya. Namun banyaknya Kritik-kritik di era modern yang tidak membangun, banyak pengkritik yang hanya mencari kebenaran tanpa mencari kebaikan. Maka muncul generasi-generasi asal bunyi yang hanya bisa mengkritik tanpa memberi solusi, tanpa menggunakan sebuah etika dalam melakukan kritik. Tujuan penilitian ini ialah agar orang mampu mengetahui cara atau etika mengkritik yang berlandaskan Ayat Al-Quran dan pemahaman Tafsir Nusantara, dan dapat melakukan kritik secara baik dan bijak, serta mengetahui cara cara mengkritik terhadap penguasa. pada intinya Etika kritik bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas namun dipertanggungjawabkan. Adapun metode analisis data yang penulis gunakan adalah metode analisis-komparatif, yaitu mencoba mendeskripsikan Surat Thaha ayat 43-48, menurut kedua tokoh tersebut, lalu di analisis secara komprehensif, dan mencari sisi persamaan dan perbedaan, penafsiran kedua tokoh tersebut, serta bagaimana relevansinya di masa sekarang. Dari hasil penelitian tersebut peneliti menemukan penafsiran yang variatif, mereka sama-sama menganjurkan dalam melakukan kritik terhadap penguasa harus dengan menggunakaan kata yang lemah lembut, Quraish Shihab berpendapat bahwa melakukan kritik perlu sebagaimana melakukan dakwah yaitu dengan penuh lemah lembut, agar yang dikritik dapat mendapat hidayah. Sementara Hamka berpendapat dalam melakukan kritik jangan menggunakan sikap menantang, dan jangan dilakukan di muka umum, karena kritik seperti itu akan membuat orang yang dikritik malu dan gengsi.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorMasrur, Moh.UNSPECIFIED
Thesis advisorSafii, SafiiUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Etika; Mengritik penguasa; Tafsir Alquran
Subjects: 100 Philosophy and psychology > 170 Ethics (Moral philosophy) > 172 Political ethics
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Tafsir Hadis
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 23 Mar 2019 23:24
Last Modified: 23 Mar 2019 23:24
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9207

Actions (login required)

View Item View Item