Konsep ilmu pengetahuan menurut pemikiran Syed Muh Ammad Naquib al-Attas dan Seyyed Hossein Nasr : studi komparatif

Wibowo, Anggi (2018) Konsep ilmu pengetahuan menurut pemikiran Syed Muh Ammad Naquib al-Attas dan Seyyed Hossein Nasr : studi komparatif. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo Semarang.

[img]
Preview
Text
124111010.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

Realitas dan kebenaran adalah ruang lingkup ilmu pengetahuan. Sedangkan semua pengetahuan adalah berasal dari Tuhan dan merupakan suatu kesatuan. Maka dari itu, Seyyed Muh}ammad Naquib Al-Attas dan Seyyed Hossein Nasr, beberapa dari filsuf Muslim kontemporer, menggagas konsep ilmu pengetahuan, sebagai upaya mengatasi masalah yang ada dalam ilmu pengetahuan sekarang ini. Terjadinya cara pandang dikotomi ilmu, ilmu agama berdiri sendiri, ilmu dunia berdiri sendiri, bahkan tidak ada hubungannya sama sekali di antara keduanya. Kemudian yang lebih menghawatirkan adalah pengkosongan ilmu dari spiritualitas atau unsur ke-Ila>hi¬>-an. Hal tersebut menimbulkan cara pandang ilmu yang tidak sesuai dengan apa yang dibingkai dalam khaza>nah keilmuan Timur, khususnya Islam. Maka dari itu, Al-Attas dan Nasr, mencoba menggunakan cara pandang masing-masing, untuk mengatasi cara pandang terhadap ilmu yang kurang tepat tersebut. Berawal dari perannya masing-masing, sebagai pemikir Muslim kontemporer dan juga seorang agamawan. Al-Attas dan Nasr, yang tidak melepaskan bahwa ilmu itu syarat akan nilai, terutama nilai spiritualtas dan ke-Ila>hi>-an, kemungkinan besar terdapat persamaan dan perbedaan di antara keduanya dalam hal konseptualisasi ilmu pengetahuan. Penulis menemukan beberapa hal atas kajian terhadap pemikiran kedua tokoh tersebut terkait konsep ilmu, di antaranya: jika ditinjau dari hakikat ilmu pengetahuan, Al-Attas mengatakan bahwa ilmu itu berasal dari Allah Swt, dan merupakan suatu kesatuan, baik hasil pemberian atau perolehan. Jika ditinjau dari sumber ilmu, Al-Attas menyebutkan bahwa ilmu itu diperoleh melalui; 1) Indera. 2) Akal dan Intuisi. 3) Otoritas. Jika ditinjau dari tujuan ilmu, Al-Attas menyatakan bahwa manusia yang baik adalah prioritas utama. Beralih kepada Nasr, Jika ditinjau dari hakikat ilmu, ia mengatakan bahwa semua ilmu itu merupakan suatu kesatuan dan puncaknya adalah scientia sacra. Jika ditinjau dari sumber ilmu, Nasr menyebutkan sumber diperolehnya ilmu ialah melalui; 1) Wahyu. 2) Intuisi intelektual. 3) Rasio. Jika ditinjau dari tujuan ilmu, Nasr menyatakan untuk mewujudkan manusia suci dalam totalitas kehidupannya. Beralih pada perpaduan di antara konsep pemikiran kedua tokoh tersebut, dengan mencari titik persamaan dan perbedaannya. Mengenai persamaan, jika ditinjau dari hakikat ilmu, keduanya sama-sama menyatakan bahwa ilmu itu merupakan suatu kesatuan dan berasal dari Tuhan. Jika ditinjau dari sumber ilmu, keduanya sama-sama menyebut bahwa wahyu, akal, intuisi sebagai sarana diperolehnya ilmu. Jika ditinjau dari tujuan ilmu keduanya sama-sama ingin menjadikan manusia secara individual terlebih dahulu, membentuk insan yang baik atau suci, dengan orientasi duniawi dan ukhrawi. Sedangkan perbedaan mendasar, di antara keduanya terletak pada cara pandang yang mereka gunakan. Al-Attas menggunakan worldview Islam, sedangkan Nasr menggunakan worldview tradisional yang meliputi berbagai agama, aliran kepercayaan dan penganut mistisisme. Kemudian keunggulan dan kelemahan konsep ilmu kedua tokoh tersebut di antaranya: 1) Al-Attas lebih detail dan rinci dalam menyusun konsep ilmu, sedangkan Nasr hanya secara global, meskipun semua unsur-unsur konsep ilmunya saling terkait. 2) Secara epistemologi proses inteleksi Al-Attas terkait indera internal dan indera eksternal, meskipun penjabaranya secara detail, tetapi cukup rumit, sehingga sulit untuk memberikan contoh yang kongkrit dalam realitas, khususnya bagi orang yang ingin mempelajarinya. Sedangkan Nasr tidak menyebut secara tegas fakultas indera dalam proses diperolehnya ilmu. 3) Kemudian jika dihubungkan dengan cara pandang keberagamaan, konsep ilmu Al-Attas lebih relevan dengan eksklusivisme, sedangkan Nasr lebih relevan dengan inklusivisme dan pluralisme. Jika konsep ilmu yang dibangun oleh Al-Attas dan Seyyed Hossein Nasr diimplementasikan oleh peradaban timur, khususnya Islam, pada zaman sekarang. Maka dalam hal mengkaji ilmu, seseorang akan semakin dekat dengan Tuhan dan ia akan semakin religious. Bukan semakin mengkaji ilmu, seseorang kemudian semakin jauh dari Tuhan dan tidak religius. Kemudian konsep ilmu Al-Attas dan Nasr tersebut juga bisa dijadikan sebagai varian dari konsep kesatuan ilmu.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorSyukur, SuparmanUNSPECIFIED
Thesis advisorTsuwaibah, TsuwaibahUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Ilmu pengetahuan; Kesatuan ilmu; Filsafat ilmu; Islam dan sains
Subjects: 100 Philosophy and psychology > 120 Epistemology, causation, humankind > 121 Epistemology (Theory of knowledge)
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam > 297.27 Islam and social sciences
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 25 Mar 2019 06:17
Last Modified: 25 Mar 2019 06:17
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9221

Actions (login required)

View Item View Item