Psikologi kematian perspektif Islam-Jawa dalam Tembang Turi-Turi Putih karya Sunan Kalijaga

Sholahuddin, Sholahuddin (2018) Psikologi kematian perspektif Islam-Jawa dalam Tembang Turi-Turi Putih karya Sunan Kalijaga. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo Semarang.

[img]
Preview
Text
134111004.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (4MB) | Preview

Abstract

Penelitian ini di lakukan oleh Sholahuddin (134111004) dengan judul “Psikologi kematian perspektif Islam Jawa dalam tembang Turi-turi Putih karaya Sunan Kalijaga”. permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana psikologi kematian perspektif Islam Jawad dan bagaimana psikologi kematian perspektif Islam Jawa dalam tembang Turi-turi Putih karya Sunan Kalijaga. Jenis metode penelitian ini adalah, penelitian kepustakaan (library research) sekaligus pelengkap data dan sekaligus sebagai pelengkap data, peneliti juga melakukan penelitian lapangan (field research) yang tujuannya menggali makna di balik fakta. Khususnya dalam hal psikologi kematian Islam Jawa dalam tembang turi turi putih. Serta substansi pskilogi kematian tembang turi turi putih. Sehingga penelitian ini termasuk penelitian kualitatif model campuran. Adapun sumber data peneliti peroleh melalui sumber primer naskah tembang turi-turi putih dalam tembang dolanan karya Purwadi, seta sumber sekunder yang meliputi buku-buku kepustakaan, artikel tentang kematian, jurnal tentang kematian, ayat Al-Qur‘an tentang kematian, dan dan wawancara dengan Kiai Ghali, Kiai Budi Harjono dan pa’Kris Stia Adzji Aw. Tembang turi-turi putih jika ditinjau dari perspektif psikologi kematian terdapat subtansi ajaran dan nilai-nilai positif dalam menyikapi kematian. Sebagaimana misalnya konotasi meninggal yang bermakna kembali/pulang. Ilahi raaji’uun. Dan dengan mengetahui hidup yang singkat itu hendaknya kita memperbanyak amal. Hal ini terlihat dari salah satu kalimat dari bait tembang turi-turi putih yang berbunyi; “Ono cemleret tibo nyemplong” yang artinya ada kilatan yang jatuh ke bumi. Kilat memiliki arti sebagai kehidupan yang sangat singkat. Kilatan yang jatuh itu dalam hal ini dimaknai sebagai perwujudan manusia yang akan dikuburkan dalam perut bumi. Ketika kita mampu memahami tembang tersebut baik dari segi makna maupun filosofinya, lagu ini menjadikan mereka lebih mengingat-ingat Allah SWT, dan lebih mengingat kematian. Dengan demikian mereka lebih taat kepada Allah, menjadikan mereka lebih giat melaksanakan ibadah-ibadah dan juga beramal sebagai bekal mereka kelak di akhirat. Sebagian dari mereka juga merasakan ketakutan ketika mendengar lagu ini karena kematian bisa datang kapan pun dan dimanapun tidak akan memandang bulu kaya atau miskin, muda atau tua bisa mengalami kematian.

[error in script]
Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorAdzvar, ZainulUNSPECIFIED
Thesis advisorYusriyah, YusriyahUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Psikologi kematian; Islam-Jawa; Tembang Jawa; Kesenian tradisional
Subjects: 100 Philosophy and psychology > 120 Epistemology, causation, humankind > 128 Humankind
200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 25 Mar 2019 09:55
Last Modified: 25 Mar 2019 09:55
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9222

Actions (login required)

View Item View Item