Teknik rukyatul hilal tanpa alat optik : analisis hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin

Himayatika, Risya (2019) Teknik rukyatul hilal tanpa alat optik : analisis hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin. Masters thesis, UIN Walisongo Semarang.

[img]
Preview
Text
THESIS LENGKAP.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

Rukyatul hilal merupakan salah satu metode dalam menentukan awal bulan kamariah baik menggunakan alat optik rukyat atau hanya menggunakan mata. Muhammad Inwanuddin merupakan perukyat yang sering bersaksi melihat hilal menggunakan mata tanpa alat bantu. Hilal dilihat dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 2º di atas ufuk bahkan kurang dari 2º di atas ufuk. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimana analisis astronomis terhadap hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin tanpa alat optik? (2) Bagaimana analisis klimatologis terhadap hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin tanpa alat optik pada hari Rabu, 20 September 2017 M/29 Zulhijah 1438 H di Pasuruan? Tesis ini merupakan penelitian kualitatif berupa studi kasus dengan pendekatan astronomis dna klimatologis. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi yang kemudian akan dianalisis dengan metode analisis deskriptif terhadap hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin tanpa alat optik dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, Zulhijah dengan pendekatan astronomis dan menganalisis hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin pada hari Rabu, 20 September 2017 M/29 Zulhijah 1438 H dengan pendekatan astronomis dan klimatologis. Kajian ini menunjukkan bahwa: (1) Secara astronomis, hasil analisis rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin untuk posisi hilal kurang dari 2 derajat sangat sulit untuk diamati. Sebagaimana dalam penentuan awal Muharram 1439 H dengan umur hilal 4 jam 55 menit menyebabkan bentuk hilal tipis rentan terkecoh oleh noisy (gangguan). Meskipun nilai elongasi sudah mencapai batas minimum 3 derajat (kriteria imkanur rukyat), kondisi langit di ufuk barat tertutup awan rendah dan matahari sebelum waktunya terbenam sudah tidak terlihat karena tertutup awan serta cahaya syafak lebih kuat dari cahaya bulan, sehingga untuk objek yang terlihat bukan hilal melainkan noisy (gangguan) dari hamburan sinar matahari mengenai awan. (2) Secara klimatologis, hasil rukyatul hilal pada hari Rabu, 20 September 2017 M/29 Zulhijah 1438 H, tidak terdapat curah hujan untuk daerah Pasuruan. Sementara itu, suhu rata-ratanya adalah 21,0°C dengan tinggi tempat 5 meter menyebabkan cuaca di tempat cukup dingin pada sore hari. Namun untuk nilai kelembaban udara sebesar 72%, menyebabkan gumpalan awan di ufuk barat dan matahari 5 menit sebelum terbenam sudah hilang karena mendung tertutup awan. Sehingga hilal tidak terlihat.

[error in script]
Item Type: Thesis (Masters)
Contributors:
ContributionContributors (e.g. Thesis Advisor)Email
Thesis advisorMahsun, MahsunUNSPECIFIED
Thesis advisorHambali, SlametUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Rukyatul Hilal; Pengamatan hilal; Optik; Klimatologi
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.2 Islam Doctrinal Theology, Aqaid and Kalam > 297.26 Islam and secular disciplines > 297.265 Islam and natural science (Incl. Islamic Astronomy/Ilmu Falak)
500 Natural sciences and mathematics > 520 Astronomy and allied sciences > 522 Techniques, equipment, materials
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Ilmu Falak
Depositing User: Muhammad Khozin
Date Deposited: 04 Jul 2019 09:26
Last Modified: 04 Jul 2019 09:26
URI: http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/9721

Actions (login required)

View Item View Item