Cendrawasih, Jelia (2020) Analisis sistem girik sebagai alat pengganti pembayaran pada usaha mikro, kecil dan menengah : studi kasus Pasar Karetan Boja Kabupaten Kendal. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Skripsi_1605046030_Jelia Cendrawasih_lengkap]
Preview
Text (Skripsi_1605046030_Jelia Cendrawasih_lengkap)
1605046030_JELIA CENDRAWASIH_FULL SKRIPSI - Jeliah Cendrawasih.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB) | Preview

Abstract

Sistem girik merupakan sistem yang menyederhanakan nila nominal mata uang dengan mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai riil mata uang tersebut dengan cara menggunakan girik sebagai alat pengganti pembayarannya. Girik dinilai tidak akan memberikan dampak terhadap masyarakat karena daya belinya tetap sama. Tujuan dari sistem girik ini antara lain yaitu menyederhanakan nilai mata uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakukan transaksi serta memudahkan dalam pencatatan keuangan.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh diskripsi tentang pengkorvesian uang ke girik, memperoleh deskripsi lengkap mengenai praktek akuntansi yang dilaksanakan oleh pengelola pasar karetan, dan untuk mengetahui system girik sebagai alat pengganti pembayaran yang diterapkan di pasar karetan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik analisis statistik deskriptif, dengan analisis tersebut dapat diketahui bagaimana sistem redenominasi yang di terapkan pada usaha mikro, kecil, dan menengah di pasar karetan. Selain itu dalam penelitian ini juga menyebar kuisioner dan melakukan wawancara untuk mendukung penelitian ini.
Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa dalam menjalankan sistem girik para penggelola pasar menggunakan girik sebagai alat pengganti pembayaran, girik adalah sebuah alat pembayaran pengganti uang tunai dalam pasar karetan, girik berbentuk bulat dan memiliki nominal 2.5, 5, dan 10, serta memiliki nilai nominal uang tunai 2.500, 5.000, dan 10.000. Dengan menggunakan sistem girik ini dinilai sangat mudah baik dari segi penggelola, pedagang, maupun pembeli.
Pengkonversian uang tunai ke girik dilakukan untuk memudahkan penulisan di dalam girik dan mengoptimalkan nilai uang, alasannya biar lebih ringkas. girik dinilai lebih mudah untuk digunakan. Dengan menggunakan girik sebagai alat pengganti pembayaran di pasar karetan, penggelola pasar karetan dapat menjamin bahwa tidak adanya kecurangan yang dilakukan oleh para pedagang, karena girik akan ditukarkan langsung oleh para pedagang setelah selesai berdagang, dan akan dipotong otomatis sebesar 15% pada saat penukaran tersebut, dan jika menggunakan uang tunai dikhawatirkan adanya kecurangan oleh para pedagang. Oleh karena itu, dengan digunakannya girik sebagai alat pengganti pembayaran diharapkan mampu mengantisipasi kecurangan di pasar karetan.
Sistem laporan keuangan yang di gunakan di pasar karetan menggunakan pencatatan yang sederhana tapi bisa mengoptimalkan dalam perhitungan agar proses mudah dan cepat dipahami oleh seluruh tim pengelola pasar karetan dan para pedagang yang berada di pasar karetan. Sistem laporan keuangan pasar karetan adalah mingguan atau perminggu, karena pasar karetan hanya buka di hari minggu maka bentuk laporannya perminggu. Laporan keuangan pasar karetan dulunya dilaporkan setiap minggu kepada Pesona Indonesia, namun sekarang laporan keuangan pasar karetan tersebut cukup dilaporkan kepada Diah Ariani selaku Leader di pasar karetan. Dalam pencatatan laporan keuangannya para penggelola mengembalikan angka 0 sebanyak 3 angka yang dhilangkan sebelumnya pada sistem girik.
Berdasarkan hasil dari statistik deskriptif penelitian bahwa dilihat dari jenis kelamin responden memperlihatkan adanya gap antara responden laki-laki dan perempuan dimana terdapat perbedaan 15 responden (79%) antara laki-laki dan perempuan. Pelaku usaha di pasar karetan mayoritas berusia 31-40 tahun (37%), dan para pelaku usaha di pasar karetan mayoritas berpendidikan tamat SD/Sederajat (26%), serta para pelaku usaha di pasar karetan mayoritas berjualan selama lebih dari 2 tahun yang artinya berjualan sejak pasar karetan pertama kali dibuka (74%).
Berdasarkan hasil dari statistik informasi girik bahwa pelaku usaha di pasar karetan sebanyak 58% memahami bahwa sistem girik. Sedangkan 42% pelaku usaha tidak memahami sistem girik. Pelaku usaha di pasar karetan mengakui bahwa sistem girik yang diterapkan di pasar karetan dinilai mudah (79%), dan beberapa pelaku usaha menilai sistem girik yang diterapkan di pasar karetan dinilai sulit (21%). Pelaku usaha di pasar karetan menggangap bahwa pembayaran dengan menggunakan girik dinilai lebih mudah digunakan (74%), dari pada menggunakan uang tunai (26%).

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Girik; Alat pembayaran; Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM); Akuntansi
Subjects: 300 Social sciences > 330 Economics > 332 Financial economics > 332.4 Uang
300 Social sciences > 380 Commerce, communications, transport > 381 Internal commerce (Domestic trade)
Divisions: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam > 62202 - Akuntansi Syariah
Depositing User: Fahrurozi Fahrurozi
Date Deposited: 09 Sep 2021 04:52
Last Modified: 09 Sep 2021 04:52
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/13291

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics