Difabel dalam pandangan Al-Qur’an : studi komparasi antara Tafsir Ibnu Kaśir dan Tafsir Al-Azhar

Mahmudah, Lailatul (2022) Difabel dalam pandangan Al-Qur’an : studi komparasi antara Tafsir Ibnu Kaśir dan Tafsir Al-Azhar. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Skripsi_1604026136_Lailatul Mahmudah_lengkap] Text (Skripsi_1604026136_Lailatul Mahmudah_lengkap)
1604026136_Lailatul Mahmudah_Lengkap_Tugas_Akhir - al-rayyan people.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Difabel atau penyandang disabilitas adalah setiap orang yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, sensorik dan memiliki hambatan atau kesulitan untuk berpartisipasi. Difabel dalam hidup di tengah-tengah masyarakat masih sering dianggap lemah. Difabel sendiri pastilah pernah merasakan tidak percaya diri dengan kondisinya. Sebagai umat Islam yang memiliki iman, al�Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia. Dari sebelum datangnya Islam kaum difabel seringkali dianggap aib dan semacamnya. Secara konstitusional penyandang disabilitas mempunyai hak dan kedudukan yang sama. Dalam Islam menerangkan bahwa pada hakikatnya semua manusia itu sama dan yang membedakan hanyalah tingkat ke imanan dan ketakwaannya kepada Allah. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Difabel Dalam Pandangan Al-Qur’an (Studi Komparasi Antara Tafsir Ibnu Kaśir Dan Tafsir Al-Azhar)”. Dengan rumusan masalah, pertama, bagaimanakah penafsiran Ibnu Kas|ir dan HAMKA mengenai difabel dalam penafsiran al-Qur’an, kedua, bagaimana persamaan dan perbedaan antara kedua mufassir, ketiga, bagaimana relevansi dari penafsirannya tersebut dikehidupan sekarang. Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dengan bentuk penelitian pustaka(library research). Sumber dan data utama penelitian ini merujuk kitab tafsir Al-Qur’an al-Adz}i>m karya Ibnu Kas|ir dan kitab tafsir Al-Azhar karya Buya HAMKA. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Hasil dari penelitian dengan metodologi tersebut menunjukkan bahwa penafsiran Ibnu Kas|ir dan HAMKA mengenai difabel dalam penafsiran al-Qur’an, membahas tentang dua jenis difabel yaitu; difabel fisik dan difabel non fisik. Dua jenis ini terbentuk dari beberapa kata dalam al-Qur’an, yaitu ‘umyun, ṣummun, bukmun,dan a’raj. kata ي ٌم ْع/ ُمى َعَٱأل yang berarti orang yang buta, dalam al-Qur’an memilki dua pengertian, yaitu hakiki(difabel fisik) dan kiasi (difabel non fisik). Dan kata ۢمٌّصُ ْكٌمُب) tuli, bisu) dalam al-Qur’an digunakan sebagai penjelasan sifat orang-orang
yang mendustakan Allah. Dalam al-Qur’an penggunan istilah difabel non fisik maknanya tidak bersifat cacat secara fisik, akan tetapi lebih kearah gambaran balasan orang-orang kafir atas perilakunya yang tidak mau menerima kebenaran, jadi penggunaan kata difabel ini dalam al-Qur’an hanya sebagai perumpamaan orang-orang yang cacat moralnya. Orang-orang inilah yang sangat dibenci Allah SWT. Difabel yang cacat moralnya inilah yang sangat dibenci Allah, sangat jauh berbeda dengan difabel fisik yang diberi apresiasi khusus, dan banyak keringanan
untuknya.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Uncontrolled Keywords: Difabel; Al-Qur’an; Tafsir Ibnu Kaśir; Tafsir Al-Azhar
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1224 Recitation and Reading
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > 76231 - Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Fahrurozi Fahrurozi
Date Deposited: 17 Jan 2023 02:21
Last Modified: 17 Jan 2023 02:21
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19002

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics