Makna tradisi Wiwitan di Desa Kedungringin Kabupaten Semarang dan relevansinya dengan revitalisasi dakwah kultural
Ramadhan, Taufiiq (2025) Makna tradisi Wiwitan di Desa Kedungringin Kabupaten Semarang dan relevansinya dengan revitalisasi dakwah kultural. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
2101016122_Taufiiq Ramadhan_SKRIPSI - Taufiiq R.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (3MB)
Abstract
Tradisi Wiwitan ini merupakan bentuk ekspresi budaya lokal yang sarat akan nilai-nilai spiritual, sosial, dan religius yang telah berlangsung secara turun-temurun di Desa Kedungringin, Kabupaten Semarang. Perubahan sosial dan pengaruh modernisasi menyebabkan penurunan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam melestarikan tradisi ini. Kurangnya partisipasi masyarakat menyebabkan terancamnya keberlangsungan warisan budaya lokal. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengkajian makna Tradisi Wiwitan dan relevansinya dengan upaya revitalisasi dakwah kultural.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna Tradisi Wiwitan di Desa Kedungringin serta mengkaji kaitannya dengan usaha menghidupkan kembali dakwah melalui pendekatan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari tokoh masyarakat atau kepala desa, tokoh agama, warga yang masih mengikuti tradisi maupun yang sudah tidak mengikuti, serta generasi muda.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Kedungringin, ditemukan bahwa: 1) Tradisi Wiwitan di Desa Kedungringin mengandung lima aspek makna, yaitu sosial, budaya, historis, identitas, dan fungsional. a) Makna aspek sosial, Wiwitan mempererat kebersamaan warga melalui ritual kolektif. b) Makna aspek budaya, tradisi ini menjadi simbol warisan leluhur yang mengandung nilai-nilai luhur dan terus diwariskan. c) Makna aspek historis, Wiwitan mencerminkan keberlanjutan praktik masyarakat agraris dari generasi ke generasi. d) Makna aspek identitas, Wiwitan memperkuat jati diri masyarakat lokal di tengah arus modernisasi. e) Makna aspek fungsional, tradisi ini menjadi ekspresi rasa syukur sekaligus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat. 2) Makna-makna dalam Tradisi Wiwitan menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan upaya memperkuat dakwah kultural di tengah masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai seperti rasa syukur bersama, kebersamaan sosial, semangat kerja, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap budaya lokal masih hidup dalam tradisi tersebut. Nilai-nilai itu kemudian menjadi bahan utama dalam penyampaian dakwah, bukan bentuk tradisinya yang digunakan sebagai media. Dakwah disampaikan melalui cara-cara yang sesuai dengan kehidupan masyarakat pedesaan, seperti melalui dialog, edukasi, dan pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Revitalisasi dakwah kultural lebih menekankan pada penguatan makna dan kesadaran keagamaan masyarakat, tanpa harus mengubah bentuk luar tradisi yang sudah ada.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tradisi wiwitan; Dakwah kultural; Revitalisasi |
| Subjects: | 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam > 297.74 Dakwah |
| Divisions: | Fakultas Dakwah dan Komunikasi > 70232 - Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) |
| Depositing User: | Wati Rimayanti |
| Date Deposited: | 07 Apr 2026 01:16 |
| Last Modified: | 07 Apr 2026 01:16 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/28767 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
