Konstruksi epistemologi keilmuan pesantren salaf : kajian perbandingan Pesantren An-Nawawi Berjan dan Al-Anwar Sarang
Ma'rufi, Anwar (2024) Konstruksi epistemologi keilmuan pesantren salaf : kajian perbandingan Pesantren An-Nawawi Berjan dan Al-Anwar Sarang. Dr/PhD thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Disertasi_1800029015_Anwar Ma'rufi.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (6MB)
Abstract
Penelitian ini dilaksanakan di Pesantren An-Nawawi Berjan dan Pesantren Al-Anwar Sarang. Kedua pesantren tersebut mengklaim dirinya sebagai pesantren salaf yang masih eksis hingga hari ini dengan banyak santri. Keduanya juga aktif merespons tuntutan modernitas dengan menyelenggarakan pendidikan formal mulai dari tingkat SLTP (Sekolah Lanjut Tahap Pertama) hingga perguruan tinggi. Namun, keduanya berbeda dalam mengelola tuntutan modernitas. Jika Pesantren An-Nawawi Berjan memilih untuk mengintegrasikan tradisi keilmuan pesantren dengan tradisi keilmuan pendidikan formal sementara Pesantren Al-Anwar Sarang lebih memilih untuk memisahkan tradisi keilmuan pendidikan formal di tempat yang berbeda. Selain itu, kedua pesantren tersebut juga berbeda dalam menyikapi isu-isu sensitif keagamaan, jika Pesantren An-Nawawi Berjan tidak menunjukkan reaksinya sementara Pesantren Al-Anwar Sarang menunjukkan reaksi yang tegas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan proses terbentuknya dan konstruksi epistemologi keilmuan Pesantren An-Nawawi Berjan dan Pesantren Al-Anwar Sarang sehingga mampu menjelaskan mengapa respons kedua pesantren tersebut berbeda dalam menyikapi isu-isu modern atau kontemporer. Kajian ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif-filosofis dengan metode komparasi. Data dikumpulkan dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menemukan adanya perbedaan proses terbentuknya epistemologi keilmuan Pesantren An-Nawawi Berjan dan Al-Anwar Sarang yang dipengaruhi oleh wilayah kebudayaan, dakwah walisongo dan ulama penerusnya, dan kecenderungan nalar kyai pendirinya. Konstruksi epistemologi keilmuan juga terdapat perbedaan. Pesantren An-Nawawi Berjan memaknai ilmu sebagai cahaya dari Tuhan yang masuk ke dalam hati manusia yang diperoleh melalui aktifitas Tazkiyyatun nafs dan ta’līm sementara kyai dan kitab kuning menjadi transmiter ilmu. Cara pengembangannya adalah melalui bahtsul masail dengan metode qaulī, ilhāqī, dan manhājī yang berorientasi pada kemaslahatan umum. Nalar bayānī dan ‘irfānī secara berkelindan membentuk sistem pengetahuan yang inklusif sehingga luwes dalam menyikapi isu-isu kontemporer
Sementara Pesantren Al-Anwar Sarang memaknai ilmu harus berdimensi takwa dan amal saleh karena ilmu adalah bagian dari Nūr Muhammad yang diwariskan kepada para Nabi dan ditulis dalam kitab kuning. Nūr Muhammad menjadi sumber ilmu yang diwariskan melalui kitab kuning dengan sanad dan kyai sebagai perantaranya. Metode perolehannya adalah ta’līm yang dimaknai sebagai tarekat sekaligus tirakat. Cara pengembangannya adalah melalui bahtsul masail dengan metode qaulī, ilhāqī, dan manhājī yang berorientasi pada menjaga kemaslahatan akidah (hifz al-‘aqīdah). Nalar bayānī lebih mendominasi dalam membentuk sistem pengetahuan yang eksklusif sehingga kaku dalam menyikapi isu-isu kontemporer.
Sebagai saran praktis, nampaknya Pesantren An-Nawawi Berjan dan Pesantren Al-Anwar Sarang perlu melakukan pemaknaan ulang terhadap prinsip al-Muhāfaẓah ‘alā al-Qadīm aṣ-Ṣalīh wa al-Akhżu bi al-Jadīd al-Aṣlaḥ (berpijak pada tradisi klasik yang baik dan bijak pada kekinian yang lebih baik) agar bijak dalam menyikapi isu-isu kontemporer yang berkembang. Penelitian ini masih menyisakan persoalan karena penulis hanya menganalisa beberapa aspek dari sekian banyak aspek dalam kajian epistemologi.
ABSTRACT:
This research was conducted at Pesantren An-Nawawi Berjan and Pesantren Al-Anwar Sarang. Both pesantren claim to be pesantren salaf that still exist today with many students (santri). Both are also actively responding to the demands of modernity by organizing formal education starting from junior high school (SLTP) to university level. However, both are different in managing the demands of modernity. If An-Nawawi Berjan Islamic Boarding School chooses to integrate the scientific tradition of pesantren with the scientific tradition of formal education, while Pesantren Al-Anwar Sarang prefers to separate the scientific tradition of formal education in different places. In addition, the two Islamic boarding schools also differ in responding to sensitive religious issues, if Pesantren An-Nawawi Berjan does not show its reaction while Pesantren Al-Anwar Sarang shows a firm reaction.
The purpose of this study is to find the process of formation and construction of the scientific epistemology of Pesantren An-Nawawi Berjan and Pesantren Al-Anwar Sarang so as to be able to explain why the responses of the two pesantren are different in responding to modern or contemporary issues. This study is included in the category of qualitative-philosophical research with a comparative method. Data were collected using participatory observation methods, in-depth interviews, and documentation.
The results of the study found differences in the process of forming the scientific epistemology of Pesantren An-Nawawi Berjan and Al-Anwar Sarang which were influenced by the cultural region, the preaching of the Walisongo and their successors, and the tendency of the reasoning of the founders. The construction of scientific epistemology also differs. Pesantren An-Nawawi Berjan interprets knowledge as light from God that enters the human heart which is obtained through the activities of tazkiyyatun nafs and ta'līm while the kyai and kitab kuning become transmitters of knowledge. The method of development is through bahtsul masail with the qaulī, ilhāqī, and manhājī methods which are oriented towards public welfare. Bayānī and 'irfānī reasoning intertwinedly form an inclusive knowledge system so that it is flexible in responding to contemporary issues.
Meanwhile, Pesantren Al-Anwar Sarang interprets knowledge as having the dimension of piety and good deeds because knowledge is part of the Nūr Muhammad which was passed down to the Prophets and written in the Kitab Kuning. The Nūr Muhammad is the source of knowledge passed down through the Kitab Kuning with sanad and kyai as intermediaries. The method of acquisition is ta’līm which is interpreted as tarekat as well as tirakat (asceticism). The method of development is through bahtsul masail with the qaulī, ilhāqī, and manhājī methods which are oriented towards maintaining the welfare of the faith (hifz al-‘aqīdah). Bayānī reasoning is more dominant in forming an exclusive knowledge system so that it is rigid in responding to contemporary issues.
As a practical suggestion, it seems that Pesantren An-Nawawi Berjan and Pesantren Al-Anwar Sarang need re-interpret the principles of al-Muhāfaẓah ‘alā al-Qadīm aṣ-Ṣalīh wa al-Akhżu bi al-Jadīd al-Aṣlaḥ (based on good classical traditions and wise in a better contemporary era) in order to be wise in responding to developing contemporary issues. This research still has problems because the author only analyzes a few aspects of the many aspects in epistemological studies.
| Item Type: | Thesis (Dr/PhD) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Epistemologi keilmuan; Tradisi keilmuan; Pesantren; Pesantren salaf |
| Subjects: | 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam > 297.77 Islamic religious education |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Doktor (S3) > 76003 - Studi Islam (S3) |
| Depositing User: | Miswan Miswan |
| Date Deposited: | 24 Apr 2026 01:52 |
| Last Modified: | 24 Apr 2026 01:52 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29516 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
