Rekonstruksi pendidikan keluarga dalam menyiapkan ḥuffāẓ generasi Z di Kota Semarang
Nurokhim, Nurokhim (2024) Rekonstruksi pendidikan keluarga dalam menyiapkan ḥuffāẓ generasi Z di Kota Semarang. Dr/PhD thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Disertasi_2100029018_Nurokhim.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (4MB)
Abstract
Generasi Z yang gaul dengan teknologi digital rentan dengan prevalensi gangguan mental dan sosial yang berdampak buruk bagi kehidupan mereka. Sebagian dari mereka terjebak main gadget sehingga didapati keluhan depresi, kecemasan, stres, trauma, gangguan perilaku, dan berpikir pragmatis. Meski demikian, ada suatu fenomena beberapa keluarga dalam mendidik anak-anaknya mampu menyiapkan Ḥuffāẓ Generasi Z di Kota Semarang. Mengapa bisa demikian? Studi ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: (1) Apa urgensi orang tua dalam mengelola pendidikan keluarga bagi anak-anaknya? (2) Mengapa perlu melakukan rekonstruksi pendidikan keluarga dalam menyiapkan anak-anaknya menjadi Ḥuffāẓ Generasi Z? (3) Bagaimana merekonstruksi paradigma pendidikan keluarga secara akademik (teoretik) dan atau secara praktis (problem solving) sehingga dapat diaplikasikan pada struktur sosial keluarga muslim lainnya dalam menyiapkan Ḥuffāẓ Generasi Z? Permasalahan itu dibahas melalui studi lapangan dengan lokasinya (keluarga) sebagai sumber data melalui observasi, interview, dokumen, dan kuesioner. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini melalui lima tahap, yaitu determine cases, identity cases, the data collection, holistic analysis, dan report the meaning of cases. Temuannya menunjukkan bahwa orang tua sebagai guru yang pertama dan utama memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam mengelola pendidikan keluarga. Konstruksi pendidikan keluarga di Kota Semarang mampu menyiapkan Ḥuffāẓ Generasi Z. Data menunjukkan 52,2 % telah menjadi Ḥuffāẓ dan 47,8 % dalam proses taḥfīẓ Al-Qur’an. Dengan merekonstruksi pendidikan keluarga maka berpeluang memperoleh hasil lebih maksimal dalam menyiapkan Ḥuffāẓ. Delapan komponen yang memengaruhinya adalah target mutqin, peran orang tua, pendidikan dalam kandungan, waktu pembelajaran, pembiasaan dan keteladanan, tutor sebaya, materi, dan media yang digunakan. Strateginya dilakukan dalam bentuk komunitas keluarga, penguatan komunikasi, kolaborasi pembelajaran, pengembangan diri, dan pengendalian etos kerja virtual. Diperlukan pengembangan penelitian anak-anak yang telah disiapkan dengan baik sesuai visi keluarga Ḥuffāẓ tetapi mendapatkan lembaga pendidikan yang variatif kualitasnya.
ABSTRACT:
Generation Z, familiar with digital technology, is vulnerable to the prevalence of mental and social disorders that adversely affect their lives. Some of them become engrossed in gadget use, leading to complaints of depression, anxiety, stress, trauma, behavioral disorders, and pragmatic thinking. However, there is a phenomenon where some families in Semarang City are successfully raising Generation Z as Ḥuffāẓ. Why is this the case? This study aims to answer the questions: (1) What is the urgency of parents in managing family education for their children? (2) Why is it necessary to reconstruct family education in preparing their children to become Generation Z Ḥuffāẓ? (3) How can the paradigm of family education be academically (theoretically) and/or practically (problem-solving) reconstructed to be applicable to the social structure of other Muslim families in preparing Generation Z Ḥuffāẓ? The issue is examined through a field study with families as the data source, utilizing observation, interviews, documents, and questionnaires. This qualitative research employs a case study approach, conducted in five stages: determining cases, identifying cases, data collection, holistic analysis, and reporting the meaning of cases. Findings indicate that parents, as the first and foremost educators, play a significant role and bear great responsibility in managing family education. The structure of family education in Semarang City has been effective in preparing Generation Z Ḥuffāẓ. Data reveals that 52.2% have become Ḥuffāẓ, while 47.8% are in the process of memorizing the Qur'an. By reconstructing family education, there is potential for achieving more optimal results in preparing Ḥuffāẓ. Eight components influencing this are: setting mutqin targets, the role of parents, prenatal education, learning time, habituation and role modeling, peer tutors, content, and media used. Strategies are implemented in the form of family communities, strengthened communication, collaborative learning, personal development, and the regulation of virtual work ethics. Further research is needed on children who have been well-prepared according to the Ḥuffāẓ family vision but encounter educational institutions of varying quality.
| Item Type: | Thesis (Dr/PhD) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Generasi Z; Ḥuffāẓ; Pendidikan keluarga; Orang tua |
| Subjects: | 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam > 297.77 Islamic religious education |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Doktor (S3) > 76003 - Studi Islam (S3) |
| Depositing User: | Miswan Miswan |
| Date Deposited: | 24 Apr 2026 02:59 |
| Last Modified: | 24 Apr 2026 02:59 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29519 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
