Konsep takhalluq bi akhālqillah dalam kajian tasawuf klasik : studi komparasi pandangan Al-Qusyairi, Al-Ghazali dan Al-Jili

Maula, M. Iqbal (2023) Konsep takhalluq bi akhālqillah dalam kajian tasawuf klasik : studi komparasi pandangan Al-Qusyairi, Al-Ghazali dan Al-Jili. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Tesis_2000018007_M._Iqbal_Maula] Text (Tesis_2000018007_M._Iqbal_Maula)
Tesis_2000018007_M._Iqbal_Maula.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini ditulis karena penulis melihat ada ketidaksinkronan antara manusia sebagai hamba, khalifah dan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan. Penulis ingin menegaskan agar manusia melihat kembali tugas-tugasnya. Takhalluq bi akhlāqillah merupakan upaya untuk memahami dan mengimplementasikan akhlak Allah melalui asma’ al-husna. Penelitian ini mengkaji perspektif tiga ulama besar, al-Qusyairi, al-Ghazali, dan al-Jili. Penelitian ini menjawab tiga rumusan masalah; bagaimana biografi dan pemikiran al-Qusyairi, al-Ghazali, dan al-Jili ? bagaimana pandangan mereka tentang konsep takhalluq bi akhlaqillah ? dan mengapa takhalluq bi akhlaqillah penting dalam kaitannya dengan Indonesia kontemporer ?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Pendekatannya menggunakan pendekatan sosiologi ilmu pengetahuan dan hermeneutika. Sumber datanya adalah karya-karya ulama yang diteliti, artikel, atau tulisan yang terkait dengan tema pembahasan. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dengan menggunakan metode analisis data, yaitu analisis isi dan hermeneutik.
Hasil penelitian ini adalah bahwa al-Qusyairi hidup pada masa pemerintahan Sultan Tughrul dengan wazirnya, al-Khandari, yang mana teologi Asyairah hidup dalam tekanan penguasa, sedangkan al-Ghazali hidup di masa yang mana persaingan madzhab terjadi dalam tataran teologi dan fikih. Adapun al-Jili hidup di zaman yang berada dalam kondisi keamanan dan politik yang stabil. Menurut al-Qusyairi, takhalluq bi akhlāqillah adalah takhalluq bi asmā'illah, sedang menurut al-Ghazali, takhalluq bi akhlāqillah adalah berakhlak dengan akhlak Allah sesuai yang ia jelaskan dalam tanbihat. Adapun al-Jili menyebut istilah tersebut sebagai jalan untuk mengenal Allah melalui asma’ al-husna agar sampai pada maqom tajalli. Takhalluq bi akhlāqillah itu penting dalam kaitannya dengan Indonesia kontemporer karena meniru akhlak Allah akan memberikan dampak yang baik pada seseorang, baik itu akhlak personal maupun sosial yang berkait dengan aspek sosial masyarakat.

ABSTRACT:
This research was written because the writer sees that there is an asymmetry between humans as servants and caliphs and the tasks that should be carried out. The author wants to emphasize that humans look back at their duties. Takhalluq bi akhlāqillah is an effort to understand and implement Allah's morals through asma' al-husna. This research examines the perspectives of three great scholars, al-Qusyairi, al-Ghazali, and al-Jili. This study answers three problem formulations: What about the biographies and thoughts of al-Qusyairi, al-Ghazali, and al-Jili? What is their view on the concept of takhalluq bi akhlaqillah? And why is thallus bi akhlaqillah important in contemporary Indonesia? The method used in this research is qualitative with a type of library research. The approach uses the approach of the sociology of science and hermeneutics. The data sources are the works of the scholars studied, articles or writings related to the theme of the discussion: data collection techniques using documentation and data analysis methods, namely content analysis and hermeneutics.
The results of this study are that al-Qusyairi lived during the reign of Sultan Tughrul and his vizier, al-Khandari, where Asyairah's theology lived under pressure from the authorities. In contrast, al-Ghazali lived in a time when madhhab competition occurred at the theological and fiqh levels. As for al-Jili, he lived in an era of stable security and political conditions. According to al-Qusyairi, takhalluq bi akhlāqillah is takhalluq bi asmā'illah, while according to al-Ghazali, takhalluq bi akhlāqillah has character with Allah's morals according to what he explained in tanbihat. Meanwhile, al-Jili refers to this term as a way to know God through Asma' al-Husna so that he arrives at maqom tajalli. Takhalluq bi akhlāqillah is important in relation to contemporary Indonesia because imitating Allah's morals will have a good impact on a person, both personal and social morals related to the social aspects of society.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Takhalluq bi akhālqillah; Tasawuf klasik; Tasawuf sosial; Al-Qusyairi; Al-Ghazali; Al-Jili
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.4 Sufism
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 76103 - Ilmu Agama Islam (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 27 Apr 2026 01:18
Last Modified: 27 Apr 2026 01:18
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29522

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics