Seyyed Hossein Nasr : tauhid sebagai dasar epistemologi ekosufisme berkelanjutan
Hidayatulloh, Ahmad (2024) Seyyed Hossein Nasr : tauhid sebagai dasar epistemologi ekosufisme berkelanjutan. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Tesis_2100018023_Ahmad_Hidayatulloh.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (2MB)
Abstract
Fenomena krisis ekologi global semakin menegaskan dampak dari paradigma modern yang mengedepankan rasionalitas dan materialisme, memisahkan manusia dari alam dan nilai-nilai spiritual. Paradigma ini melahirkan eksploitasi alam yang tidak berkelanjutan, sehingga memperburuk krisis lingkungan dan spiritualitas. Seyyed Hossein Nasr menawarkan konsep Ekosufisme berbasis Tauhid sebagai pendekatan holistik untuk membangun kembali hubungan harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola relasi tersebut, menjelaskan Tauhid sebagai dasar epistemologi Ekosufisme, dan mengeksplorasi implikasinya terhadap keberlanjutan (sustainability). Studi ini dilakukan untuk menjawab persoalan: (1) Bagaimana pola relasi Tuhan, alam, dan manusia menurut Seyyed Hossein Nasr? (2) Mengapa Tauhid menjadi dasar epistemologi Ekosufisme? (3) Bagaimana implikasi penerapan Ekosufisme terhadap keberlanjutan? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis, memanfaatkan data primer dari karya-karya Nasr dan data sekunder dari literatur terkait. Analisis dilakukan dengan teknik deskriptif-analitis untuk menginterpretasikan konsep dan relevansinya dalam konteks modern.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pola hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia bersifat integral dan harmonis, mencerminkan pandangan Islam tradisional tentang kosmos sebagai cerminan dari keesaan Tuhan (tauhid). Alam tidak hanya dilihat sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai manifestasi atau teofani dari Tuhan. (2) Tauhid menjadi fondasi utama yang menghubungkan Tuhan, manusia, dan alam dalam harmoni yang sakral. Manusia diposisikan sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas kelestarian. Ekosufisme memberikan kerangka etika lingkungan berbasis spiritualitas, mendorong keberlanjutan melalui kesadaran ekologi, dan menekankan bahwa menjaga alam merupakan bagian integral dari ibadah. (3) Implikasi praktisnya mencakup pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana, reformasi kebijakan lingkungan berbasis nilai spiritual, dan pendidikan keberlanjutan yang holistik.
Penelitian ini menegaskan bahwa Ekosufisme Seyyed Hossein Nasr relevan untuk mengatasi tantangan lingkungan global, sekaligus memperkaya kehidupan spiritual manusia sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
ABSTRACT:
The phenomenon of the global ecological crisis increasingly emphasizes the impact of the modern paradigm which prioritizes rationality and materialism, separating humans from nature and spiritual values. This paradigm gives rise to unsustainable exploitation of nature, thereby exacerbating the environmental and spiritual crisis. Seyyed Hossein Nasr offers the concept of Tauhid-based Ecosufism as a holistic approach to rebuilding harmonious relationships between God, humans and nature. This research aims to analyze these relationship patterns, explain Tawhid as the epistemological basis of Ecosufism, and explore its implications for sustainability. This study was conducted to answer the questions: (1) What is the relationship pattern between God, nature and humans according to Seyyed Hossein Nasr? (2) Why is Tawhid become the basis for the epistemology of Ecosufism? (3) What are the implications of implementing Ecosufism for sustainability? This research uses a qualitative method with a philosophical approach, utilizing primary data from Nasr's works and secondary data from related literature. The analysis was carried out using descriptive-analytic techniques to interpret the concept and its relevance in the modern contex.
The research results show that: (1) The pattern of relationships between God, nature and humans is integral and harmonious, reflecting the traditional Islamic view of the cosmos as a reflection of the oneness of God (tauhid). Nature is not simply seen as a resource that can be exploited, but as a manifestation or theophany of God. (2) Tawhid is the main foundation that connects God, humans and nature in sacred harmony. Humans are positioned as caliphs who are responsible for sustainability. Ecosufism provides a spirituality-based environmental ethical framework, encourages sustainability through ecological awareness, and emphasizes that protecting nature is an integral part of worship. (3) Practical implications include wise management of natural resources, environmental policy reform based on spiritual values, and holistic sustainability education.
This research confirms that Seyyed Hossein Nasr's Ecosufism is relevant for overcoming global environmental challenges, as well as realizing human spiritual life as part of sustainable development.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tauhid; Ekosufisme; Seyyed Hossein Nasr; Etika lingkungan; Spiritualitas |
| Subjects: | 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.4 Sufism |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 76103 - Ilmu Agama Islam (S2) |
| Depositing User: | Miswan Miswan |
| Date Deposited: | 27 Apr 2026 01:59 |
| Last Modified: | 27 Apr 2026 01:59 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29525 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
