Kritik metodologi resiprokal qira’ah mubadalah dalam pemaknaan Surat al-Jumu’ah ayat 9-11

Ulya, Diah Inarotul (2024) Kritik metodologi resiprokal qira’ah mubadalah dalam pemaknaan Surat al-Jumu’ah ayat 9-11. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

[thumbnail of Tesis_2004028012_Diah_Inarotul_Ulya] Text (Tesis_2004028012_Diah_Inarotul_Ulya)
Tesis_2004028012_Diah_Inarotul_Ulya.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (1MB)

Abstract

Ketidakseimbangan hubungan antara laki-laki dan perempuan bukanlah fenomena baru, tetapi telah terjadi selama berabad-abad. Narasi-narasi agama terkadang menjadi medan di mana ketidakseimbangan ini tumbuh subur. Oleh karena itu, muncul refleksi dan kebangkitan dalam bidang tafsir, seperti yang diusulkan dalam konsep Qira'ah Mubadalah oleh K.H. Faqihuddin Abdul Qodir. Pandangan Mubadalah menekankan pentingnya kerjasama dan kemitraan antara perempuan dan laki-laki, baik dalam konteks kehidupan sosial maupun personal (rumah tangga). Meskipun prinsip ini jelas terdapat dalam ayat-ayat al-Qur'an dan hadis, implementasinya sering kali berbeda.
Prinsip utama dari metode Mubadalah adalah memahami bahwa al-Qur'an dan sumber hukum lainnya tidak hanya diturunkan untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan, sehingga hukum-hukumnya berlaku bagi keduanya. Metode ini mengacu pada bagaimana pesan inti teks dapat diterapkan baik pada laki-laki maupun perempuan, baik dalam konteks umum yang berorientasi pada satu jenis kelamin maupun khusus untuk laki-laki atau perempuan.
Dalam konteks ini, penulis mengkritisi pendekatan resiprokal yang diusulkan, yang seringkali menjadi pendekatan Faqihuddin Abdul Kodir dalam menangani berbagai masalah, terutama yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Faqihuddin sering menggunakan istilah Arab "tabadul" yang berarti saling bertukar, yang dalam bahasa modern disebut "resiprokal", yang berarti timbal balik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dua hal: pertama, bagaimana konsep resiprokal Mubadalah dimaknai dalam ayat-ayat al-Qur'an, khususnya surat al-Jumu'ah ayat 9-11. Kedua, bagaimana kritik terhadap metodologi resiprokal dalam ayat-ayat tersebut.
Hasil penelitian menyimpulkan: pertama, adanya potensi subjektivitas dalam penafsiran. Kedua, potensi penyalahgunaan terhadap konteks. Ketiga, relevansi konteks kontemporer dalam pemahaman dan aplikasi konsep ini.

ABSTRACT:
Inequality in relations between men and women is not something new, but has been around for centuries. Even religious narratives sometimes become grounds for the growth of this inequality. That's why there is a reflection and revival in the field of interpretation, namely the interpretation of Qira'ah Mubjadi which was initiated by K.H. Faqihuddin Abdul Qodir. The content of Mubjadi's perspective is cooperation and partnership between women and men in life, both social and personal (domestic) life. Even though this is very clear in the verses of the Qur'an and hadith, the implementation is sometimes different. Mublah emphasized the importance of partnership and cooperation between women and men in the text of the Koran, hadith and other legal sources.
The principle of the Mubjadi method is to understand that the Koran and other sources of law were revealed not only to men but also to women. Therefore the law applies to both. Law also came to greet them both and offered help to both of them. Qira'ah Mublah is how the main message of the text can be applied to men and women, either in a general form but oriented towards one gender, or specifically for men only or women only.
However, in this discussion, the author criticizes the reciprocal attitude that he proposes. The principle of reciprocity is Faqihuddin Abdul Kodir's approach in resolving many problems, especially those related to the relationship between men and women. Faqihuddin more often uses the Arabic term tabadul which means mutual exchange. On the other hand, in modern language it is called reciprocal, which means reciprocity.
This research seeks to reveal two things: first, what is the meaning of reciprocal mubindah in the Qur'an, surah al-Jumu'ah verses 9-11. Second, how to criticize the reciprocal methodology in the Qur'an, Surah al-Jumu'ah verses 9-11.
This research produces the following conclusions: First, the potential for subjectivity in interpretation. Second, the potential for misuse of context. Third, the relevance of the contemporary context.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kritik metodologi; Resiprokal; Qira’ah mubadalah; Surat al-Jumu’ah
Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.1 Sources of Islam > 297.12 Al-Quran and Hadith > 297.122 Al-Quran > 297.1226 Interpretation and Criticism
Divisions: Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 76131 - Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (S2)
Depositing User: Miswan Miswan
Date Deposited: 27 Apr 2026 07:45
Last Modified: 27 Apr 2026 07:45
URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29527

Actions (login required)

View Item
View Item

Downloads

Downloads per month over past year

View more statistics