Dakwah kultural perkumpulan ‘Sholla Indonesia’ melalui Sholawat Beghanyut di Kabupaten Bengkalis : studi Fenomenologi Edmund Husserl
Nurwansyah, Agus (2024) Dakwah kultural perkumpulan ‘Sholla Indonesia’ melalui Sholawat Beghanyut di Kabupaten Bengkalis : studi Fenomenologi Edmund Husserl. Masters thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Tesis_2201028013_Agus_Nurwansyah.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.
Download (2MB)
Abstract
Dakwah kultural merupakan usaha untuk menyebarkan ajaran Agama Islam melalui interaksi antara agama dan budaya lokal. Tetapi faktanya, tidak semua upaya dakwah yang akomodatif terhadap budaya berjalan tanpa hambatan. Salah satunya adalah dakwah yang dilakukan oleh Perkumpulan Sholawat Laut (SHOLLA) Indonesia melalui Sholawat Beghanyut yang dicap sesat dan bid’ah karena mengakomodir budaya dalam dakwahnya.
Studi ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang Perkumpulan Sholawat Laut (SHOLLA) Indonesia mengadakan sholawat selama 24 jam mengelilingi Pulau Bengkalis dan mengetahui budaya yang terakomodir di dalam tradisi Sholawat Beghanyut. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat kualitatif, menggunakan pendekatan Fenomenologi dari Edmund Husserl.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Sholawat Beghanyut berasal dari akar Budaya Melayu di Bengkalis. Dilakukan selama 24 Jam untuk mengakomodir lokasi Salam, Nyekar, dan Mahallul Qiyam yang tersebar di Pulau Bengkalis. Sedangkan perangkat adat yang diakomodir dalam Sholawat Beghanyut adalah Pulut Putih, Pulut Kuning, Telur, Pisang dan Bunga. Bagi jamaah, Sholawat Beghanyut memiliki dua makna, pertama sebagai dakwah. Kedua, sebagai ritual untuk menarik rezeki.
ABSTRACT:
Cultural da'wah is an effort to spread the teachings of Islam through interactions between religion and local culture. But in fact, not all da'wah efforts that are accommodating to culture run without obstacles. One of them is the da'wah carried out by the Indonesian Sea Sholawat Association (SHOLLA) through Sholawat Beghanyut which was labeled heretical and heretical because it accommodated culture in its preaching.
This study was conducted to find out the background of the Indonesian Maritime Sholawat Association (SHOLLA) holding 24-hour prayers around Bengkalis Island and to find out the culture that is accommodated in the Beghanyut Sholawat tradition. This research is qualitative field research, using the phenomenological approach of Edmund Husserl.
This research concludes that Sholawat Beghanyut originates from Malay cultural roots in Bengkalis. Carried out for 24 hours to accommodate the Salam, Nyekar and Mahallul Qiyam locations spread across Bengkalis Island. Meanwhile, the traditional instruments accommodated in Sholawat Beghanyut are White Pulut, Yellow Pulut, Eggs, Bananas and Flowers. For the congregation, Sholawat Beghanyut has two meanings, first as da'wah. Second, as a ritual to attract good fortune.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Dakwah kultural; Sholawat Beghanyut; Fenomenologi; Edmund Husserl |
| Subjects: | 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam > 297.74 Dakwah |
| Divisions: | Program Pascasarjana > Program Master (S2) > 70133 - Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2) |
| Depositing User: | Miswan Miswan |
| Date Deposited: | 28 Apr 2026 04:38 |
| Last Modified: | 28 Apr 2026 04:38 |
| URI: | https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/29536 |
Actions (login required)
Downloads
Downloads per month over past year
